Indonesia

Catatan Perjalanan Hati : Day 1 “Nikmat Luar Biasa yang Sudah Biasa”


Ahad, 24 April 2011

Pukul 15.40 sebuah kijang kapsul silver berhenti di depan rumahku. Mobil travel itu menjemputku untuk berangkat ke Lubuk Basung. Ini dinas daerah pertamaku, dan dinas pertama di Lubuk Basung bagi dua orang seniorku yang baik hati. Perjalanan kami cukup nyaman, tidak ada lagu-lagu aneh yang diputar di travel yang kami naiki dan tidak ada penumpang yang ‘luar biasa’. Meski AC tidak dihidupkan, cuaca di luar yang gerimis dan dingin cukup menetralisir bau-bau yang masuk dari luar.

sumber gambar di sini

Jalan yang kami lalui pun berbeda dari jalan yang biasa kulalui jika menempuh perjalanan ke luar kota. Kami menempuh jalanan dalam pedesaan yang asri dan tenang. Jalan yang kecil dan teduh dinaungi pepohonan. Sesekali sapi, kerbau dan kambing melintasi jalan, mengingatkanku pada Taman Safari Cisarua. Ada juga ibu-ibu yang pulang menenteng hasil panennya. Atau anak-anak yang mandi-mandi di tabek tepi jalan. Anak-anak yang bermain bersama, saling berkejaran dengan riang. Bahkan gadis-gadis desa yang berjalan dengan gaya dan lenggokan yang khas. Bukan sebuah hal yang tidak biasa barangkali, namun aku ingin menjadikan perjalanan seminggu ini sebagai pengalaman yang tak biasa, agar dapat kumaknai setiap detiknya.  Continue reading

Advertisements
Categories: Hikmah, Indonesia, Kisah, Look Into Your Heart, Medis | Tags: , , , , , | 10 Comments

Takut Gempa?


Saat itu diskusi pleno sedang berlangsung. Namun getaran itu seketika membubarkannya. Suara kursi saat orang-orang berdiri pun lebih keras daripada suara getaran bumi. Kepanikan melanda dan menyelimuti.

Sahabatku sempat merekam reaksi kawan-kawan saat gempa (dalam ingatan), sementara saat itu aku segera membereskan barang ke dalam tas, aku tak ingin keluar tanpa tasku. Jika dikenang lagi, mungkin lucu juga. Ada yang langsung berdiri dan kabur, ada yang mendorong kursi-kursi hingga jatuh untuk membuka jalan. Semua dengan wajah cemas dan panik. Meski ternyata ada juga yang tetap duduk tak bergeming di kursinya.

Setelah barang-barangku beres barulah aku berdiri, dan saat ingin keluar ruangan, wah…. penuh. Tak ada jalan, semua antri melewati pintu yang sempit. Namun kaget juga saat melihat kursi-kursi yang terbalik, kertas, buku dan pena berceceran di lantai. Buku-buku robek karena terinjak dan terseret kursi. Kuurungkan niat untuk segera keluar, sepertinya ada yang mesti dibereskan dulu di sini (toh gak bisa lewat).

Hebat, semua kekacauan ini terjadi hanya dalam beberapa detik. Dan itu baru di ruangan ini, di luar sana mungkin kekacauan yang terjadi jauh lebih dahsyat lagi. Apa yang sesungguhnya kita takutkan? Begitu takutnya hingga seringkali kita tak memikirkan yang lain selain menyelamatkan diri dan orang terdekat. Hingga bahkan ada yang tega mengambil hak orang lain demi dirinya.

Apa yang kita takutkan saat gempa? Bangunan yang roboh dan menimpa kita? Tsunami yang datang dan menghanyutkan semua? Rumah dan harta yang kita tinggalkan? Takut berpisah dengan orang tercinta? Takut mati?

Semua berjalan sesuai kehendak-Nya, dan semua telah Ia rencanakan. Mari waspada dan tanggap bencana,itu mesti. Namun sungguh dengan segala usaha pun apa saja bisa terjadi. Bahkan saat kondisi aman dan tenang kita bisa saja tiba-tiba kehilangan segalanya. Mengapa kita begitu takut akan gempa, namun kita tidak takut bermaksiat kepada-Nya? Gempa atau tidak, yang kita cari adalah akhir yang baik untuk menemui-Nya.

Sorenya hari itu, aku mendapat kabar bahwa salah seorang keluarga jauh mendapat musibah dalam pelariannya. Ia jatuh dari motor yang ditumpanginya dan seketika truk lewat menggilas kepala dan dadanya hingga rata.

Wallahu a’lam bishshawwab.

Categories: FK Unand, Indonesia, Kisah, Look Into Your Heart | Tags: , , , | 4 Comments

Gubernur Sumbar ke Jerman. Menkominfo Bersalaman dengan Michelle Obama. So What?


Media-media telah menjadikan berita tersebut sebagai sorotan yang dibahas berkali-kali. Gubernur Sumbar yang mengunjungi Mentawai selama tiga hari di saat-saat awal setelah bencana terjadi, disebut tidak peduli pada penderitaan di Mentawai karena berangkat ke Jerman demi kemajuan Sumbar. Menkominfo yang berusaha menjaga hijabnya, namun tetap mendapat musibah bersentuhan tangannya dengan Mrs. Obama, dihujat dan dianggap telah runtuh pertahanannya.

Tidak apa. Hujatan dari lawan apalagi Amerika adalah hal yang amat wajar. Selama ini tentu mereka (orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak suka Islam –dalam hal ini terkhusus PKS- jaya) telah berusaha mencari hingga menciptakan celah yang bisa menjatuhkan, karena begitu minimnya kesalahan yang ada dibandingkan kesalahan mereka dan kelompoknya. Dan saat celah itu ada, dengan semangat membara mereka akan berkoar-koar di media massa dengan redaksi khas media, di mana A bisa dimaknai sebagai Z.

Biar saja. Toh Rasulullah saw dan para sahabat telah mengalami hujatan, hinaan, rintangan dan siksaan yang beratnya tidak terbayangkan. Memang begitulah dakwah. Hujatan-hujatan itu justru akan menambah tabungan kita di akhirat nanti, insya Allah. Jadi saat hujatan itu datang, hadapi saja dengan sabar dan syukur. Tentu dengan tetap memberi klarifikasi, tapi secukupnya saja, tidak perlu terpancing emosi.
Continue reading

Categories: Dakwah, Indonesia, Opini | Tags: , | 2 Comments

Gerobak Kayu Menyapa


Panas benar-benar terik hari ini. Aku pulang dengan motorku dan seperti biasa aku menyeberangi sebuah jalan besar. Aku heran saat melewati jalan itu, ‘tumben rame banget’, pikirku. Dan saat dekat, ternyata satu hal yang menyebabkan keramaian itu adalah sebuah gerobak.

Gerobak itu terletak di tengah jalan tanpa ada yang menaikinya, dan karena dilepas tanpa seorang pengendara, roda gerobak itu berjalan mengikuti kemiringan jalan. Kemudian seorang bapak dengan sedikit berlari segera mencoba mendiamkan gerobak tersebut. Ia terlihat agak panik.

Jalan di depanku mulai terbuka dan aku semakin maju ke tengah. Saat itu aku baru tahu ternyata gerobak yang berisi kayu-kayu itu berhenti di tengah karena beberapa kayunya terjatuh berserak di jalan. Dan bapak tersebut berusaha segera mengumpulkan kayu-kayu yang berjatuhan karena kendaraan pun sudah banyak mengantri di belakangnya. Di tengah jalan aspal yang memantulkan panas dengan semangatnya, asap mobil dan motor yang menyesakkan, di antara mobil-mobil bagus yang dikendarai orang-orang berkantong tebal, bapak itu tetap teguh mengumpulkan kayunya. Salah satu kayu itu dilindas oleh sebuah jazz merah, dan bapak itu memungutnya setelah jazz itu lewat.

Continue reading

Categories: Indonesia, Kisah, Look Into Your Heart | Tags: , | 2 Comments

PKS: Dekati Israel, SBY Ingkari Kontrak Politik (?)


Oleh Hanin Mazaya pada Selasa 18 Agustus 2009, 09:39 AM

JAKARTA (Arrahmah.com) – Kecaman terhadap rencana pemerintah membuka hubungan dagang dengan Israel terus berdatangan. Dalam kaitan ini, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) selaku salah satu partai pendukung pemerintah mulai bersuara.

Mereka protes dengan kebijakan Presiden SBY karena menyalahi kontrak politik yang telah disepakati. “Perjanjian kontrak politik kita 2004-2009 dengan SBY-JK, salah satunya dengan tidak melakukan hubungan dengan Israel,” ujar Humas PKS Mabruri kepada okezone, Selasa (18/8).

Menurutnya, jika SBY kemudian mengingkari kebijakannya maka PKS akan mengevaluasi kembali. “PKS sudah membuat perjanjian, artinya jika SBY melanggar perjanjian tersebut biar rakyat semua yang menilainya,” ujar Mabruri.

Lebih lanjut Mabruri menambahkan, jika benar pemerintah akan merealisasi hubungan dagang dengan Israel, PKS akan melihat dahulu perkembangannya sampai sejauh mana. “Kita lihat dulu perkembangannya, kita kasih tahu mudhorotnya jika membuka hubungan dengan Israel,” tegasnya.

Bagi Mabruri dan partainya, Israel merupakan negara agresor. Sehingga keputusan menjalin hubungan dengan Israel perlu dikaji lebih dalam, karena bisa menciderai perasaan umat Islam. “Terlebih lagi ini menyambut bulan suci Ramadan,” pungkasnya.

“Sesungguhnya sesudahku akan ada para pemimpin. Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan bagian dari golonganku, aku bukan bagian dari golongannya dan ia tidak akan merasakan kenikmatan telaga. Sebaliknya, siapa saja yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka, maka ia termasuk golonganku, aku pun termasuk golongannya dan ia akan merasakan kenikmatan di talaga bersamaku.” (HR an-Nasai). (okz/arrahmah.com)

Note :

Media massa sengaja disibukkan dengan berita tentang terorisme agar berita ini tidak mencuat. Masyarakat khususnya yang muslim harus tetap kritis!

Categories: Indonesia | Tags: | 1 Comment

Merdeka=Bebas?


bendera kita

Darah tumpah, nyawa melayang, hidup serba kesulitan, tiada harta, tiada waktu istirahat, setiap detik terancam, hidup sebagai budak yang tak dianggap manusia. Begitulah para pendahulu kita dulu memperjuangkan kemerdekaan negeri tercinta ini dari penjajah. Dan karena usaha yang tak terbalas itu, kita selalu diseru untuk memanfaatkan kemerdekaan sebaik-baiknya. Seruan itu disampaikan setiap upacara, acara nasional, dan juga di pelajaran-pelajaran sosial dan kewarganegaraan. Lantas, apa seruan itu meresap?

Bagi segelintir beberapa orang, mungkin jawabannya ya. Bagi yang lain, juga ada yang menjawab ya. Tapi mari kita lihat, apa arti memanfaatkan kemerdekaan? Kemerdekaan yang disamakan dengan bebas, bagaimana masyarakat khususnya para pemuda bangsa mengartikannya?

Bebas berekspresi, bebas bergaul, bebas bersikap, bebas bermusik, bebas menghibur diri, bebas makan, bebas minum, bebas berpakaian, bebas berjalan ke mana saja, bebas, bebas, BEBASS!!!
Bebas mengekspresikan apa saja: suka, marah, sedih. Kalau suka ya udah pacaran aja, ntar kalau udah pacaran ya bebas mau ngapain berdua. Kalau marah ya udah pukul aja, tawuran, main ke diskotik, ngedugem, judi, minum miras. Kalau sedih banget ya udah bunuh diri aja. Buat apa lagi hidup di dunia. Atau mau ngilangin sedih dan depresi? Ya udah banyak kok orang yang jual obat-obat penenang.

Bebas gaul dengan siapa aja, anak-anak, sebaya, orang tua. Bebas juga mau gaul dengan orang yang berlatar belakang dari mana saja. Mau gaul dengan preman, penjudi, pemakai, pengedar, penjual diri. Mau gaul dengan orang kaya nan tajir, juga dengan orang miskin, tapi untuk menjadikannya bahan ledekan dan orang pesuruh.

Bebas mau bersikap seperti apa saja dengan siapa saja. Mau malak, mau sok hebat, sok kuat, sok kaya, sok jagoan. Mau marah, mukul, ngegombal, terserah. Mau mengumpat, menggunjing, mau ngerjain orang, who cares? Mau ninggalin shalat, mau bermaksiat, mau melawan ortu dan guru, bebas!

Bebas bermusik. Mau nyanyi, main alat musik, bergoyang. Mau nyanyi lagu apa aja atas nama seni, meski isi lagunya memuja setan, menyekutukan Allah, memberi cinta pada manusia lebih besar dari cinta pada Allah dan lagu-lagu yang menjauhkan dari agama lainnya. Mau nyanyi dan bermusik kapan saja, meski azan sudah memanggil berkali-kali. Mau bergerak mengikuti musik hingga lupa yang lainnya, meski campur baur antara perempuan dan laki-laki. Mau datang ke konser-konser sampai larut malam, meski uang habis, tenaga habis, berdempetan dengan siapa saja, yang penting puas. Bebas!

Bebas mau berhibur dengan apa, dengan cara apa, dengan siapa. Bebas mau makan apa saja, tanpa peduli halal/haram, apalagi sehat/tidak sehat. Begitu juga dengan minuman.

Bebas berpakaian. Mau pakai yang ketat, yang pendek, yang auratnya terbuka di mana-mana. Yang penting trend! Bebas mau ke mana saja, apakah itu tempat maksiat atau bukan, bebas!! Merdeka!!

Bukan hanya pemudanya yang sudah bebas memanfaatkan kebebasan. Para pejabat pemerintahnya juga. Bebas jalan-jalan ke luar negeri, bebas menambah dan gonta-ganti kendaraan mewah, bebas korupsi, bebas menghabiskan uang rakyat untuk memperkaya diri. Bebas menindas rakyat, menggusur tanpa ganti rugi, lambat menangani bencana, tidak tanggap dengan aspirasi, tidak adil dalam menetapkan hukuman, bebas melupakan WNI yang tertindas di negeri orang, bebas menentukan anggaran untuk rakyat yang tidak sebanding jumlahnya dengan tunjangan para pejabat, itupun masih dikorupsi dan pejabat masih meminta tambahan tunjangan!!

Bobrok. Indonesia sudah bobrok, mungkin hampir sampai ke titik nadirnya. Kalau sudah begini wajar saja bencana terjadi di setiap sudutnya. Tsunami, banjir, kebakaran, lumpur panas, gempa, wabah penyakit dan kecelakaan yang tak henti-henti terjadi, baik motor, mobil, truk, bus, kereta api dan pesawat. Apa tindakan masyarakat? Apa tindakan pemerintah?

Oh, ternyata masyarakat masih mencuri besi rel kereta, masih kebut-kebutan, masih naik di atas kereta dan bergelantungan di pintunya karena tidak muat, masih suka buang sampah di mana saja, masih giat dengan penebangan liar, dan masih-masih lainnya. Pemerintah? Oh, ternyata mereka masih malas peduli, cuma mau bantu waktu lagi kampanye pilleg dan pilpres, masih menunda-nunda perbaikan drainase, bendungan, sekolah, jalan rusak. Alasannya kekurangan dana, apalagi banyak rakyat yang tidak taat pajak. Jadi itu alasannya, kami kira pemerintah sudah menghabiskan uangnya untuk kepentingan pribadi. Pemerintah juga masih tidak tegas menindak penyelundupan, narkoba, penebangan liar dan lainnya yang hingga kini tak ada pengurangan, malah terjadi peningkatan. Pantas saja sih, toh aparat yang memfasilitasi! Ya menjamurlah kegiatan-kegiatan seperti itu. Tapi, kalau terorisme kok cepat banget ya tanggapnya. Hebat tuh polisi dan Densus 88, sebentar aja udah bisa nuduh Noordin M. Top, udah banyak orang-orang yang ditangkap, katanya mereka terkait jaringan JI. Meski penangkapannya terkesan ditutup-tutupi alias tidak terbuka, dan meski orang-orang yang ditangkap saat mereka sedang melakukan aktivitas yang biasa itu mengatakan mereka tidak tahu menahu dengan pengeboman, apalagi Noordin dan Al-Qaeda. Yakin tuh gak asal tangkap? Katanya, terorisme meski ditindak cepat dan diantisipasi sebisanya, demi keamanan negeri ini. Jadi itu alasannya, bukan untuk dapat perhatian dari Amerika ya?

Hhh… Indonesia. Bagaimana menurutmu, hai Indonesia? Apa yang terjadi dengan bangsa ini, menyenangkanmu ataukah justru menyakitimu? Makna merdeka atau bebas yang dipahami pemuda dan pemerintah Indonesia, seperti itukah? Seperti itukah cara memanfaatkannya? Begitukan cara kita berterima kasih pada para pahlawan yang telah memperjuangkan bangsa ini? Mereka berjuang bertaruh jiwa raga, demi Indonesia yang merdeka, bermartabat dan tentunya, bermoral. Bagaimana perasaan mereka seandainya mereka bisa melihat bagaimana jadinya Indonesia saat ini?

Categories: Indonesia, Opini | Tags: , | 5 Comments