Posts Tagged With: Love

Membuncah Rinduku di 25 April


Perasaanku tak menentu. Ada yang mengganjal di benakku sejak tanggal di gadget-gadget-ku berubah menjadi 25 April. Seseorang yang teramat spesial mengulangi hari lahirnya, dan aku tak tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaanku padanya.

Seharian ini aku memikirkannya. Tak lepas meski sebentar saja. Aku tetap menghubunginya hari ini, namun masih tak dapat kutafsirkan rasa yang menggelayut di hati. Tak mampu kukonversikan ke dalam untaian kalimat yang rapi.

Kucoba tuliskan pesan dari ponsel untuk kukirimkan kepadanya, namun pesan itu hanya menjadi kata-kata yang diketik, dihapus, diketik dan dihapus lagi. Ternyata memang tak mudah mengungkapkan cinta. Tak mudah mengekspresikannya agar ia dapat membekas di hati orang yang dicinta. Atau mungkin ini hanya kekhawatiran semata?

Kutarik napas dalam berkali-kali, kuputuskan tuk mengetikkan isi hati.  Continue reading

Advertisements
Categories: Keluarga | Tags: , | 27 Comments

Seri Mendidik Anak 1 : Ibadah – Shalat


(dalam Seri Mendidik Anak)

Bagaimana agar anak tidak susah disuruh shalat? Atau mungkin shalat anak masih dengan main-main, atau ngebut asal cepat selesai, atau hanya shalat jika disuruh?

Memang, Rasulullah saw menyuruh umatnya mengajarkan shalat pada anak saat ia berusia 7 tahun. Namun agar anak mau shalat tentunya tidak bisa serta merta ketika usianya menginjak tahun ketujuh lantas kita mengatakan, “Nak, shalat lagi ya.”

Ajarkan anak shalat sejak dini. Saat anak mulai bisa berjalan, setiap kita shalat selalu sertakan anak. Ajak anak dengan menyediakan sajadah khusus untuknya. Lalu ketika kita sedang shalat, apapun yang terjadi pada anak selagi tidak membahayakan dirinya, shalat jangan diputus. Pada saatnya nanti anak akan terbiasa. Tentu sebelumnya, lingkungan di sekitar dipastikan dalam keadaan aman, dan anak sudah dipakaikan popok.  Continue reading

Categories: Dakwah, Hikmah, Keluarga, Kisah | Tags: , , , , | 8 Comments

I Won’t Say Goodbye, My Beloved FSKI (part 2)


FSKI, mengikuti acara-acaranya di awal tahun perkuliahan benar-benar memancing rindu, kapan ya bisa ikut menyusun kegiatan-kegiatan ini? Lalu untuk awalnya, bergabunglah kami di Dawa’, yang pada mubes tahun 2008 mengalami transformasi dari Badan Semi Otonom menjadi Badan Otonom yang lebih mandiri. Saya kemudian bergabung di Divisi Penerbitan bersama kawan-kawan lain yang haus dengan dakwah. Inti Dawa’ saat itu adalah Hendra sebagai pimpinan umum, Rio sebagai wakil ketua, Priska sebagai sekretaris dan Kak Welan sebagai bendahara.

Menjadi bagian dari divisi penerbitan Dawa’ memberi kesan yang membekas erat di ingatan saya. Indah sekali mengenang saat kami bingung menentukan berapa halaman Buletin Dawa’ akan diterbitkan, berapa harga yang ditetapkan agar setidaknya bisa balik modal. Masih begitu jelas terbayang bagaimana kami mendiskusikan tema apa yang sebaiknya diangkat, laporan harga yang dipatok percetakan, memilih percetakan yang bagus, membahas tanggapan pembaca tentang Dawa’ yang kami terbitkan, membahas pilihan warna, membagi PJ, mengejar deadline, dan banyak lagi. Rindu sekali… MySpace Terima kasih para pejuang di Penerbitan : Syawqi (PimRed), Faisal, Venny (layouter), Rara, Waki, Puput, Kak Shasha, juga Fia, Yani, Bang Dolly P., Bang Karno, Henry, Kak Putri D., Resti, Wira. You’re the best.

Di tahun berikutnya angkatan 2007 mulai menjadi pengurus FSKI. Saat itu yang menjadi inti FSKI adalah Bang Zakiy sebagai ketua umum, Bang Deny sebagai sekretaris umum, Kak Adik sebagai bendahara umum dan Kak Rani sebagai Ketua Keputrian. Saya ditempatkan di Departemen KPSDM (Kaderisasi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia), dan di sana saya merasakan suasana yang berbeda. Suasana yang gejolaknya lebih terasa. Di KPSDM saya mulai merasakan beban yang sampai ke hati, tidak seperti Dawa’ yang bebannya masih kuat ditanggung oleh pikiran saja. MySpace

Continue reading

Categories: Dakwah, Kisah, Opini | Tags: , , , , , , , , | 9 Comments

Ia, Ia dan Ia


Saat ia menghubungi saya tiga setengah tahun lalu, saya sangat senang. Saya langsung menceritakan tentangnya pada ummi. Dan setelah mengenalnya tiga setengah tahun ini, saya melihat ia sebagai seorang yang saya sayangi sekaligus hormati. Ia adalah seorang yang kuat, dan saya suka jalan pikirannya. Ia yang paling cocok dengan saya dalam satu hal. Meski diiringi banyak rintangan, ia tetap setia. Dan ia sangat sering menampung air mata saya. Namun selama tiga setengah tahun ini ia sering membuat saya cemburu.

Continue reading

Categories: Dakwah, FK Unand, Hikmah, Kisah, Look Into Your Heart, Opini | Tags: , , , , , , , | 18 Comments

I Won’t Say Goodbye, My Beloved FSKI (part 1)


Semenjak SD, forum keislaman adalah impian bagi saya. Meski hanya mengetahuinya dari cerpen-cerpen di Ummi dan Annida, namun saya bisa merasakan betapa indahnya suasana dalam forum. Mengangkatkan acara Islami, rapat dengan hijab dan sesuai tuntunan Islam, persaudaraan dengan sesama muslim. Wah… kapan ya bisa merasakannya secara langsung…?

Memasuki SMP, saya langsung bertekad akan bergabung dengan Rohis. Saya terus menanti kapan ekskul bisa diikuti. Namun malang, tidak ada Rohis… Pupus harapan saya saat itu. Akhirnya ekskul yang saya ikuti adalah Pramuka dan PMR. Tapi karena tidak begitu berminat saya jadi sering absen. Beberapa waktu kemudian pihak sekolah membentuk remaja mesjid sekolah, dan saya diundang. Saya berharap ini akan jadi rohis, tapi ternyata kegiatan yang diminta sekolah malah yasinan…

Selama sekolah di tiga SMP negeri, rohis tetap tidak ada. Baiklah, tidak apa. Masih ada harapan di SMA. Alhamdulillah tanpa ragu saya mengikuti BRM (Bina Remaja Muslim) SMA 2 Padang dan bertemu sahabat-sahabat di sana. Saya cukup senang dengan suasananya, juga kegiatan-kegiatannya. Tapi ternyata saya tidak begitu menikmatinya.

Continue reading

Categories: Dakwah, FK Unand, Kisah, Opini | Tags: , , , , , , , | 3 Comments

Kakak Mau yang Kayak Abi


Mereka bertiga duduk di dalam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Malam itu jalan cukup sepi, beberapa mobil dan truk berlari kencang. Perjalanan mereka nikmati dengan perbincangan yang akrab. Gadis itu bersama ummi dan abinya. Ia mendengar dengan antusias cerita tentang proses ta’aruf hingga walimah kedua orang tuanya.

Beberapa kali ia berdecak kagum, kemudian tertawa, lalu terharu dan sesekali menggoda orang tuanya. Lalu saat ia mendengar kisah tentang kehidupan di awal pernikahan ummi dan abinya, juga di saat masa kecilnya, ia merasa dirinya sungguh tak tahu berterima kasih. Perjuangan mereka takkan mampu terbalaskan.

Kisah selesai didongengkan. Perbincangan berlanjut dengan diskusi lepas. Umminya menceritakan tentang abi dan abinya pun menceritakan tentang ummi. Ia sangat senang malam itu. Perjalanan yang biasanya dihabiskan dengan tidur dalam mobil karena jarak yang jauh kini jadi terasa begitu singkat.

“Kakak mau dapat yang kayak abi,” ujarnya kemudian.

Continue reading

Categories: Hikmah, Kisah, Look Into Your Heart, Opini | Tags: , , , , , | 37 Comments

Merah Jambu Hatiku


Duhai hatiku…

Mengapa bahagia kurasa saat ia sebut namaku?

Mengapa begitu nyaman saat kubaca pesannya di ponselku?

Mengapa terasa ada yang hilang saat tak kulihat ia hari itu?

Mengapa kupikir yang paling mengerti ia adalah aku?

Mengapa ku rasa ia begitu memahami diriku?

Mengapa kini ia semakin hebat di mataku?

Mengapa wahai hatiku?

Apakah selimut merah jambu t’lah menghangatkanmu?

Continue reading

Categories: Look Into Your Heart, Opini | Tags: , , , , | 18 Comments

Sahabat


(Puisi oleh Muhammad Syahruddin, dari dakwatuna.com)

Panitia dan Delegasi The 6th Antibiotic

Sahabat…
betapa senangnya hati ini bila dekat denganmu…
Candamu mengandung makna tarbiyah
Tingkah lakumu memberikan contoh yang baik
Tulisan-tulisanmu membeningkan hati

Sahabat…
Engkau selalu mengingatkanku bila khilaf
Senyumanmu menumbuhkan ikatan yang kuat di dalam hati ini
Sapaanmu menandakan akan bertaburnya lagi amal-amal yang sholeh
Langkahmu memunculkan semangat juang para mujahid

Sahabat…
Rezkimu engkau keluarkan di jalan Allah SWT
Kelapangan dadamu membuatku santun padamu
Jiwa pemaafmu bertahta di dalam jiwa ini
Keikhlasan dalam beramal memancarkan cahaya hatimu

Sahabat…
Amanahmu tidak engkau abaikan
Janji-janjimu sangat engkau pegang teguh
Engkau khusyu’ dalam shalat
Shalatmu sangat engkau jaga dari kelalaian
ucapanmu selalu yang bermanfaat
Pergaulanmu* sangat engkau jaga

Sahabat…
Allah swt menjadi tujuan hidupmu
Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah pedoman hidupmu

Sahabatku…
Semoga Allah swt melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya kepadamu
Mudah-mudahan engkau selalu dalam petunjuk dan lindungan Allah swt…
Hingga engkau menjadi penghuni syurga Firdaus yang tertinggi
Amin ya Rabbal alamiin…

*) Pergaulanmu terhadap wanita (dalam puisi sebenarnya)

Categories: Dakwah, Look Into Your Heart | Tags: , , , , | Leave a comment

Hati dan Rasa


Hati dan rasa, hingga kapan pun mungkin akan menjadi sesuatu yang tak membosankan untuk dibahas. Hati dengan segala misterinya, dengan kemampuannya memiliki rasa yang hanya diketahui pemilik hati dan Pemilik segala. Hati, yang jika ia baik maka baik pula seluruh tubunya. Sebaliknya bila ia rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya. Mudahkah menjaga hati? Bagiku, sangat sulit! Setiap rasa bisa muncul kapan saja. Bagus jika rasa yang datang itu positif, namun jika rasa itu negatif, tugas kita adalah menjadikannya positif.

Hati dan rasa, sesuatu yang dimiliki setiap manusia. Namun hati-hati dan rasa-rasa itu tidaklah sama. Bahkan dalam situasi yang sama, mereka tetap tidak akan terjamin bisa sama. Di saat seseorang merasa bahagia, mungkin yang lain merasa sedih meski terlihat bahagia. Atau mungkin ia menyimpan kekesalan dan amarah. Di saat seseorang ingin memberikan perhatian dengan hati yang tulus, mungkin yang lain merasa terusik dan tidak suka. Di saat seseorang melakukan sesuatu yang ia anggap penting, mungkin yang lain merasa sebal karena baginya hal itu tidaklah penting. Di saat seseorang mengatakan kata-kata yang baginya biasa, mungkin yang lain merasa tidak nyaman karena baginya hal itu sangat tidak biasa.

Beberapa ikhwah mengatakan, hijab itu yang penting di hati. Ya, itu benar. Posisi yang berjauhan, bicara yang saling membelakangi, rapat di balik hijab, menunduk saat berselisih, memang tidak menjamin hati aman dari rasa yang tidak aman. Namun, jika dengan usaha-usaha menjaga hijab tersebut saja rasa tetap bisa muncul, lantas bagaimana dengan penjagaan hijab tanpa usaha penjagaan fisik? Amankah? Bukankah kondisi seperti ini justru lebih berisiko?

Continue reading

Categories: Dakwah, Look Into Your Heart, Opini | Tags: , , , , | 6 Comments

Tidak Biasa Menjadi Biasa


Ya Allah, jauhkan kami dari maksiat kepada-Mu…

Sadarkan kami saat kaki kami mulai berpijak di tepi…

Jangan izinkan kami menerima yang tidak biasa menjadi sesuatu yang biasa…

Membicarakan orang lain demi mencari solusi, namun terlena dan solusi terlupakan.

Dengan alasan hal penting, berbicara tanpa hijab tidak membuat risih lagi.

Karena sering berinteraksi, bercanda dengan lawan jenis bukan hal yang aneh lagi.

Atas nama menghormati, mencium tangan dosen yang bukan mahram jadi sesuatu yang dianggap benar, padahal cium tangan bukanlah indikator penghormatan.

Karena telah lama berkoordinasi, sms dan telpon ke lawan jenis sudah tanpa pertimbangan lagi.

Dengan alasan dakwah ammah, berdekatan dengan lawan jenis dijadikan metode sendiri. Continue reading

Categories: Look Into Your Heart | Tags: , , , | 2 Comments