Posts Tagged With: Indonesia

Saya, Ramadhan dan Kenek Bus


Malam pertama bulan Ramadhan dua tahun lalu, saya berangkat ke Jambi dengan bus. Saya duduk di bangku nomor 4 tepat di belakang sopir, dan seorang ibu mengisi bangku nomor 3 di samping saya. Saya berkenalan dengan beliau di bus, dan ternyata beliau baru saja mengantar anaknya yang kuliah tahun pertama di FK Unand. Saya tanya nama anak beliau, dan subhanallah saya kenal. Anak beliau adalah salah satu mahasiswa baru yang saya bimbing waktu pendaftaran di Unand. Kami pun berbincang dengan akrab.

Malam pertama bulan Ramadhan sebenarnya adalah waktu yang sangat sayang jika dilalui dengan duduk saja di bus. Apalagi untuk orang yang mudah mabuk darat seperti saya, karena tidak bisa duduk di kendaraan sambil membaca atau sambil melakukan hal lain yang mengharuskan gerakan mata dan badan. Untuk shalat di atas bus pun penuh perjuangan karena harus menahan pusing dan rasa mual yang menyesak di kerongkongan. Namun saat itu tidak ada waktu yang lebih baik untuk melakukan perjalanan ke Jambi.

Bus berhenti di sebuah rumah makan di Muara Tebo untuk sahur. Kemudian bus melaju lagi, dan di sinilah rasa tak nyaman mulai menyergapi saya. Continue reading

Advertisements
Categories: Dakwah, Hikmah, Kisah, Opini | Tags: , , , , | 23 Comments

Jika Kita Dizalimi (Tribute to Cerebri 07)


A tribute to Cerebri 07 yang sedang tersakiti.

Sebut namanya Aisyah. Adalah ia, seorang anak yatim yang tinggal di sebuah rumah sederhana bersama ibu dan enam orang saudaranya. Ia adalah anak ke-3, dan mengikuti pendidikan di Akper Padang. Di tahun kedua kuliahnya, ia mulai mengenal tarbiyah.

Mendalami Islam dengan sungguh-sungguh adalah hal yang tabu di tahun 80-an. Usroh, yang kini kita kenal dengan sebutan liqo atau mentoring atau halaqoh, dijalani secara diam-diam. Begitu pula dengan Aisyah. Ia mengikuti usroh di malam hari di tempat yang tidak jauh dari rumahnya. Dan ia mendapatkan begitu banyak dari usroh yang diikutinya.

Ia ingin hijrah secara total. Di tahun kedua kuliahnya ia memberanikan diri menghadap dosen untuk meminta izin menggunakan jilbab. Tidak seperti sekarang, jilbab dulu dianggap aneh, asing, bahkan sesat. Apalagi jilbab yang lebar. Yang orang-orang tahu jilbab itu digunakan untuk mencuri, untuk menyembunyikan barang curian. Juga ada isu jilbab beracun, yang katanya di balik jilbab itu disembunyikan racun. Jadi tentu saja, ia tidak mendapat izin.

Di tahun ketiga, keinginannya semakin kuat. Namun izin tetap tidak didapat. Ia berangkat ke kampus dengan menggunakan gamis dan jilbab. Karena dengan pakaian seperti itu ia tidak bisa memasuki kampus, ia mengganti pakaiannya dengan seragam di sebuah rumah di depan kampus. Saat pulang ia ke rumah itu lagi untuk mengganti pakaiannya. Begitu terus setiap hari.  Continue reading

Categories: FK Unand, Hikmah, Kisah, Look Into Your Heart | Tags: , , , , , , , | 38 Comments

Takut Gempa?


Saat itu diskusi pleno sedang berlangsung. Namun getaran itu seketika membubarkannya. Suara kursi saat orang-orang berdiri pun lebih keras daripada suara getaran bumi. Kepanikan melanda dan menyelimuti.

Sahabatku sempat merekam reaksi kawan-kawan saat gempa (dalam ingatan), sementara saat itu aku segera membereskan barang ke dalam tas, aku tak ingin keluar tanpa tasku. Jika dikenang lagi, mungkin lucu juga. Ada yang langsung berdiri dan kabur, ada yang mendorong kursi-kursi hingga jatuh untuk membuka jalan. Semua dengan wajah cemas dan panik. Meski ternyata ada juga yang tetap duduk tak bergeming di kursinya.

Setelah barang-barangku beres barulah aku berdiri, dan saat ingin keluar ruangan, wah…. penuh. Tak ada jalan, semua antri melewati pintu yang sempit. Namun kaget juga saat melihat kursi-kursi yang terbalik, kertas, buku dan pena berceceran di lantai. Buku-buku robek karena terinjak dan terseret kursi. Kuurungkan niat untuk segera keluar, sepertinya ada yang mesti dibereskan dulu di sini (toh gak bisa lewat).

Hebat, semua kekacauan ini terjadi hanya dalam beberapa detik. Dan itu baru di ruangan ini, di luar sana mungkin kekacauan yang terjadi jauh lebih dahsyat lagi. Apa yang sesungguhnya kita takutkan? Begitu takutnya hingga seringkali kita tak memikirkan yang lain selain menyelamatkan diri dan orang terdekat. Hingga bahkan ada yang tega mengambil hak orang lain demi dirinya.

Apa yang kita takutkan saat gempa? Bangunan yang roboh dan menimpa kita? Tsunami yang datang dan menghanyutkan semua? Rumah dan harta yang kita tinggalkan? Takut berpisah dengan orang tercinta? Takut mati?

Semua berjalan sesuai kehendak-Nya, dan semua telah Ia rencanakan. Mari waspada dan tanggap bencana,itu mesti. Namun sungguh dengan segala usaha pun apa saja bisa terjadi. Bahkan saat kondisi aman dan tenang kita bisa saja tiba-tiba kehilangan segalanya. Mengapa kita begitu takut akan gempa, namun kita tidak takut bermaksiat kepada-Nya? Gempa atau tidak, yang kita cari adalah akhir yang baik untuk menemui-Nya.

Sorenya hari itu, aku mendapat kabar bahwa salah seorang keluarga jauh mendapat musibah dalam pelariannya. Ia jatuh dari motor yang ditumpanginya dan seketika truk lewat menggilas kepala dan dadanya hingga rata.

Wallahu a’lam bishshawwab.

Categories: FK Unand, Indonesia, Kisah, Look Into Your Heart | Tags: , , , | 4 Comments

Gerobak Kayu Menyapa


Panas benar-benar terik hari ini. Aku pulang dengan motorku dan seperti biasa aku menyeberangi sebuah jalan besar. Aku heran saat melewati jalan itu, ‘tumben rame banget’, pikirku. Dan saat dekat, ternyata satu hal yang menyebabkan keramaian itu adalah sebuah gerobak.

Gerobak itu terletak di tengah jalan tanpa ada yang menaikinya, dan karena dilepas tanpa seorang pengendara, roda gerobak itu berjalan mengikuti kemiringan jalan. Kemudian seorang bapak dengan sedikit berlari segera mencoba mendiamkan gerobak tersebut. Ia terlihat agak panik.

Jalan di depanku mulai terbuka dan aku semakin maju ke tengah. Saat itu aku baru tahu ternyata gerobak yang berisi kayu-kayu itu berhenti di tengah karena beberapa kayunya terjatuh berserak di jalan. Dan bapak tersebut berusaha segera mengumpulkan kayu-kayu yang berjatuhan karena kendaraan pun sudah banyak mengantri di belakangnya. Di tengah jalan aspal yang memantulkan panas dengan semangatnya, asap mobil dan motor yang menyesakkan, di antara mobil-mobil bagus yang dikendarai orang-orang berkantong tebal, bapak itu tetap teguh mengumpulkan kayunya. Salah satu kayu itu dilindas oleh sebuah jazz merah, dan bapak itu memungutnya setelah jazz itu lewat.

Continue reading

Categories: Indonesia, Kisah, Look Into Your Heart | Tags: , | 2 Comments

Fenomena Daging Kurban


Tiap tahun, ada waktu di mana masyarakat khususnya yang taraf ekonominya rendah mengantri untuk mendapatkan sekantong daging. Biasanya mereka memegang sebuah atau beberapa kupon untuk ditukar dengan daging. Di Indonesia, fenomena antriannya sangat beragam. Ada yang tertib, kurang rapi bahkan ricuh hingga memakan korban. Semua itu hanya demi sekantong daging.

Mungkin ada yang tidak sepakat dengan kata ‘hanya demi’ di atas. Sekantong daging bagi banyak orang di Indonesia bisa jadi berarti sangat besar, bisa jadi menjadi sebuah hal yang sangat dinanti-nanti selama satu tahun. Namun, justru karena inilah aku menyebutnya ‘hanya demi’. Sebegitu miskinkah masyarakat Indonesia sampai-sampai sekantong daging saja dinanti selama satu tahun? Sampai-sampai mereka mau mengantri berjam-jam, berdesakan, saling dorong, saling injak, kehabisan napas, dan pingsan untuknya? Sementara di sisi lain banyak daging yang terbuang karena terlalu banyak memesan makanan pada caterer? Sementara di sisi lain banyak uang yang terbuang untuk hal-hal yang useless, uang yang bisa digunakan untuk membeli ribuan bahkan jutaan kantong daging?

Miris sekali rasanya saat layar televisi mempertontonkan ribuan manusia yang sibuk berebut daging. Mereka semua tampak sangat mengharapkan daging itu. Mungkin di benak masing-masing terbayang oleh mereka, betapa daging itu akan menjadi menu yang istimewa. Betapa daging itu bisa mencukupi kebutuhan makan mereka untuk beberapa hari ke depan, karena biasanya untuk satu kali makan saja mereka harus banting tulang terlebih dahulu. Betapa daging itu bisa memenuhi kerinduan mereka untuk makan makanan yang pantas, karena biasanya mereka harus mengais-ngais di tempat sampah restoran-restoran, berharap mendapat sisa makanan yang tidak disyukuri oleh orang-orang berdompet tebal. Betapa daging itu setidaknya bisa membantu menambal kebutuhan gizi anak-anak mereka, karena biasanya mereka hanya bisa memberi nasi dan garam untuk anak-anak mereka yang sedang tumbuh. Karena itulah, mereka berusaha mati-matian mendapatkannya.

Berkorban adalah salah satu nilai yang ditonjolkan dalam Idul Adha. Namun bukan berarti hanya pada hari Idul Adha kita harus berkorban kan? Andaikan seluruh manusia mau mengorbankan sedikit rezekinya – yang mungkin memang sebenarnya adalah hak orang lain – setiap hari, lalu membaginya pada yang berhak, mungkin kejadian seperti ini tidak perlu terjadi. Bahkan dengannya kita bisa mengentaskan kemiskinan. Andaikan orang-orang yang tiap harinya bergelut dengan gemerlap dunia fana mau mengorbankan sedikit kesenangan duniawinya, mau berhenti bermewah-mewah dan hidup sesuai kebutuhan bukan kemauan, mungkin tidak lagi ada korban yang terinjak saat mengantri daging. Mungkin, daging kurban yang dibagikan justru akan semakin lebih berkah dan berarti serta bisa dipahami makna yang terkandung di dalamnya, bukan sekedar dianggap bahan makanan gratis.

Idul Adha juga mengajarkan untuk sabar. Saat ini, jangankan pada hari-hari biasa, bahkan di hari Idul Adha pun sabar sepertinya sangat langka. Andaikan sabar meresap dalam diri orang-orang yang mengantri, mungkin mereka akan berdiri bahkan duduk menunggu dengan tenang. Mau bergiliran dengan tertib, tidak berdesakan dan tidak saling memotong. Andaikan panitia kurban mau bersabar, mungkin jalannya pembagian daging kurban akan lancar dan damai. Mungkin panitia akan mampu membagikan daging dengan ahsan dan adil, meminta kupon  dengan baik dan tertib. Bukankah dengan begitu pembagian daging justru akan berjalan lebih cepat, tanpa menambah masalah baru?

Keikhlasan adalah satu hal yang sangat dituntut dalam Idul Adha. Bagaimana ikhlasnya seorang Ismail untuk disembelih ayahnya karena menjalankan perintah Allah, bagaimana ikhlasnya seorang Ibrahim yang baru bertemu kembali dengan anaknya setelah sekian lama untuk menyembelihnya demi menjalankan perintah Allah. Keikhlasan yang membuat godaan setan tiada artinya. Andaikan para pengantri, panitia dan lainnya mampu untuk ikhlas, mungkin tidak ada yang ingin mendahului. Karena kapanpun giliran yang mereka dapatkan, mereka yakin memang itulah waktu yang terbaik bagi mereka, hingga selama apapun mereka bisa tetap menikmatinya. Dengan ikhlas pun akan timbul kesyukuran, apapun yang mereka dapatkan. Lalu di saat ada yang tidak kebagian daging, ada saudaranya seiman yang mau memberi sebagian daging bagiannya hingga bisa sama-sama merasakan berkah Idul Adha. Tidakkah semua itu sangat indah?

Kapan ya, pemandangan indah itu bisa kita saksikan di negeri ini? Soon, we hope.

Categories: Hikmah | Tags: , , | 2 Comments

Mencari ‘Sesuatu’ di Keagungan Tuhan-nya Vidi


“Insyaflah wahai manusia, jika dirimu bernoda…”

Begitulah lirik yang mengawali lagu Keagungan Tuhan, yang kini dinyanyikan oleh Vidi Aldiano. Lagu yang bagus, dan pada satu kesempatan aku melihat videonya di salah satu saluran TV. Aku pun mengikuti video itu dari awal sampai selesai, berharap menemukan ‘sesuatu’ dari lagu itu.

Dan akhirnya, ‘sesuatu’ yang kucari itu pun, tidak kutemukan.

Video itu diawali dengan pemandangan pemain-pemain basket dan beberapa gadis remaja yang sedang berjalan kaki dengan ceria. Vidi melihat mereka dari jendela, kemudian masuk dan mulai menyanyikan lagunya.

Video itu terus berjalan, dan suasana yang dilihatkan adalah suasana yang ceria, pemain basket dan gadis remaja tadi tampak nge-dance bareng. Kemudian diperlihatkan orang-orang lainnya, dari semua kalangan usia. Mereka semua tampak senang dan bahagia, di malam hari mereka menari dan bermain bersama. Sampai videonya selesai.

‘Sesuatu’ itu tidak ada… dan aku kecewa.

Lagu itu lagu yang bagus kan, dan punya pesan di dalamnya. Lagu itu sebenarnya ingin mengingatkan kita untuk mempersiapkan diri menghadapi hari besar yang akan datang, yang hanya Allah Sang Pencipta yang tahu kapan datangnya. Karena itu kita harus membersihkan noda-noda dalam diri kita, kemudian menjaga dan memeliharanya agar tidak ternoda lagi. Dan untuk itu kita harus senantiasa ingat betapa agungnya Allah SWT.

Tapi, dalam video itu hanya ditampakkan keceriaan, tanpa beban, dan… tidak ada nilai Islaminya.. Bahkan perempuannya, tak ada satu pun yang menutup aurat. Jadi di mana ‘sesuatu’ yang disampaikan oleh lagu itu? Pada awalnya aku mengira pemain basket dan gadis remaja yang diperlihatkan di awal video akan berubah di akhir video. Pemain basket mungkin akan tetap menaati syari’at dan tidak meninggalkan dzikrullah meski tetap bermain basket. Dan gadis remaja itu mungkin akan mengubah penampilannya dari yang terbuka menjadi gadis kalem yang menutupi auratnya dengan jilbab. Namun sepertinya lagu itu hanya dibuat untuk menunjukkan kekompakan dan keceriaan.

Sayang ya, video itu membuat pesannya jadi tak tersampaikan, malah secara tidak langsung memberi kesan tidak berjilbab dan menari bersama dengan non muhrim itu tidak salah. Lagu yang semestinya bisa membantu menguatkan ruh terutama untuk memasuki Ramadhan itu, malah hanya menjadi sekadar hiburan komersil untuk ‘menyambut’ bulan Ramadhan. Wallahu a’lam.

Categories: Opini | Tags: , , | 3 Comments

PKS: Dekati Israel, SBY Ingkari Kontrak Politik (?)


Oleh Hanin Mazaya pada Selasa 18 Agustus 2009, 09:39 AM

JAKARTA (Arrahmah.com) – Kecaman terhadap rencana pemerintah membuka hubungan dagang dengan Israel terus berdatangan. Dalam kaitan ini, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) selaku salah satu partai pendukung pemerintah mulai bersuara.

Mereka protes dengan kebijakan Presiden SBY karena menyalahi kontrak politik yang telah disepakati. “Perjanjian kontrak politik kita 2004-2009 dengan SBY-JK, salah satunya dengan tidak melakukan hubungan dengan Israel,” ujar Humas PKS Mabruri kepada okezone, Selasa (18/8).

Menurutnya, jika SBY kemudian mengingkari kebijakannya maka PKS akan mengevaluasi kembali. “PKS sudah membuat perjanjian, artinya jika SBY melanggar perjanjian tersebut biar rakyat semua yang menilainya,” ujar Mabruri.

Lebih lanjut Mabruri menambahkan, jika benar pemerintah akan merealisasi hubungan dagang dengan Israel, PKS akan melihat dahulu perkembangannya sampai sejauh mana. “Kita lihat dulu perkembangannya, kita kasih tahu mudhorotnya jika membuka hubungan dengan Israel,” tegasnya.

Bagi Mabruri dan partainya, Israel merupakan negara agresor. Sehingga keputusan menjalin hubungan dengan Israel perlu dikaji lebih dalam, karena bisa menciderai perasaan umat Islam. “Terlebih lagi ini menyambut bulan suci Ramadan,” pungkasnya.

“Sesungguhnya sesudahku akan ada para pemimpin. Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan bagian dari golonganku, aku bukan bagian dari golongannya dan ia tidak akan merasakan kenikmatan telaga. Sebaliknya, siapa saja yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka, maka ia termasuk golonganku, aku pun termasuk golongannya dan ia akan merasakan kenikmatan di talaga bersamaku.” (HR an-Nasai). (okz/arrahmah.com)

Note :

Media massa sengaja disibukkan dengan berita tentang terorisme agar berita ini tidak mencuat. Masyarakat khususnya yang muslim harus tetap kritis!

Categories: Indonesia | Tags: | 1 Comment

Merdeka=Bebas?


bendera kita

Darah tumpah, nyawa melayang, hidup serba kesulitan, tiada harta, tiada waktu istirahat, setiap detik terancam, hidup sebagai budak yang tak dianggap manusia. Begitulah para pendahulu kita dulu memperjuangkan kemerdekaan negeri tercinta ini dari penjajah. Dan karena usaha yang tak terbalas itu, kita selalu diseru untuk memanfaatkan kemerdekaan sebaik-baiknya. Seruan itu disampaikan setiap upacara, acara nasional, dan juga di pelajaran-pelajaran sosial dan kewarganegaraan. Lantas, apa seruan itu meresap?

Bagi segelintir beberapa orang, mungkin jawabannya ya. Bagi yang lain, juga ada yang menjawab ya. Tapi mari kita lihat, apa arti memanfaatkan kemerdekaan? Kemerdekaan yang disamakan dengan bebas, bagaimana masyarakat khususnya para pemuda bangsa mengartikannya?

Bebas berekspresi, bebas bergaul, bebas bersikap, bebas bermusik, bebas menghibur diri, bebas makan, bebas minum, bebas berpakaian, bebas berjalan ke mana saja, bebas, bebas, BEBASS!!!
Bebas mengekspresikan apa saja: suka, marah, sedih. Kalau suka ya udah pacaran aja, ntar kalau udah pacaran ya bebas mau ngapain berdua. Kalau marah ya udah pukul aja, tawuran, main ke diskotik, ngedugem, judi, minum miras. Kalau sedih banget ya udah bunuh diri aja. Buat apa lagi hidup di dunia. Atau mau ngilangin sedih dan depresi? Ya udah banyak kok orang yang jual obat-obat penenang.

Bebas gaul dengan siapa aja, anak-anak, sebaya, orang tua. Bebas juga mau gaul dengan orang yang berlatar belakang dari mana saja. Mau gaul dengan preman, penjudi, pemakai, pengedar, penjual diri. Mau gaul dengan orang kaya nan tajir, juga dengan orang miskin, tapi untuk menjadikannya bahan ledekan dan orang pesuruh.

Bebas mau bersikap seperti apa saja dengan siapa saja. Mau malak, mau sok hebat, sok kuat, sok kaya, sok jagoan. Mau marah, mukul, ngegombal, terserah. Mau mengumpat, menggunjing, mau ngerjain orang, who cares? Mau ninggalin shalat, mau bermaksiat, mau melawan ortu dan guru, bebas!

Bebas bermusik. Mau nyanyi, main alat musik, bergoyang. Mau nyanyi lagu apa aja atas nama seni, meski isi lagunya memuja setan, menyekutukan Allah, memberi cinta pada manusia lebih besar dari cinta pada Allah dan lagu-lagu yang menjauhkan dari agama lainnya. Mau nyanyi dan bermusik kapan saja, meski azan sudah memanggil berkali-kali. Mau bergerak mengikuti musik hingga lupa yang lainnya, meski campur baur antara perempuan dan laki-laki. Mau datang ke konser-konser sampai larut malam, meski uang habis, tenaga habis, berdempetan dengan siapa saja, yang penting puas. Bebas!

Bebas mau berhibur dengan apa, dengan cara apa, dengan siapa. Bebas mau makan apa saja, tanpa peduli halal/haram, apalagi sehat/tidak sehat. Begitu juga dengan minuman.

Bebas berpakaian. Mau pakai yang ketat, yang pendek, yang auratnya terbuka di mana-mana. Yang penting trend! Bebas mau ke mana saja, apakah itu tempat maksiat atau bukan, bebas!! Merdeka!!

Bukan hanya pemudanya yang sudah bebas memanfaatkan kebebasan. Para pejabat pemerintahnya juga. Bebas jalan-jalan ke luar negeri, bebas menambah dan gonta-ganti kendaraan mewah, bebas korupsi, bebas menghabiskan uang rakyat untuk memperkaya diri. Bebas menindas rakyat, menggusur tanpa ganti rugi, lambat menangani bencana, tidak tanggap dengan aspirasi, tidak adil dalam menetapkan hukuman, bebas melupakan WNI yang tertindas di negeri orang, bebas menentukan anggaran untuk rakyat yang tidak sebanding jumlahnya dengan tunjangan para pejabat, itupun masih dikorupsi dan pejabat masih meminta tambahan tunjangan!!

Bobrok. Indonesia sudah bobrok, mungkin hampir sampai ke titik nadirnya. Kalau sudah begini wajar saja bencana terjadi di setiap sudutnya. Tsunami, banjir, kebakaran, lumpur panas, gempa, wabah penyakit dan kecelakaan yang tak henti-henti terjadi, baik motor, mobil, truk, bus, kereta api dan pesawat. Apa tindakan masyarakat? Apa tindakan pemerintah?

Oh, ternyata masyarakat masih mencuri besi rel kereta, masih kebut-kebutan, masih naik di atas kereta dan bergelantungan di pintunya karena tidak muat, masih suka buang sampah di mana saja, masih giat dengan penebangan liar, dan masih-masih lainnya. Pemerintah? Oh, ternyata mereka masih malas peduli, cuma mau bantu waktu lagi kampanye pilleg dan pilpres, masih menunda-nunda perbaikan drainase, bendungan, sekolah, jalan rusak. Alasannya kekurangan dana, apalagi banyak rakyat yang tidak taat pajak. Jadi itu alasannya, kami kira pemerintah sudah menghabiskan uangnya untuk kepentingan pribadi. Pemerintah juga masih tidak tegas menindak penyelundupan, narkoba, penebangan liar dan lainnya yang hingga kini tak ada pengurangan, malah terjadi peningkatan. Pantas saja sih, toh aparat yang memfasilitasi! Ya menjamurlah kegiatan-kegiatan seperti itu. Tapi, kalau terorisme kok cepat banget ya tanggapnya. Hebat tuh polisi dan Densus 88, sebentar aja udah bisa nuduh Noordin M. Top, udah banyak orang-orang yang ditangkap, katanya mereka terkait jaringan JI. Meski penangkapannya terkesan ditutup-tutupi alias tidak terbuka, dan meski orang-orang yang ditangkap saat mereka sedang melakukan aktivitas yang biasa itu mengatakan mereka tidak tahu menahu dengan pengeboman, apalagi Noordin dan Al-Qaeda. Yakin tuh gak asal tangkap? Katanya, terorisme meski ditindak cepat dan diantisipasi sebisanya, demi keamanan negeri ini. Jadi itu alasannya, bukan untuk dapat perhatian dari Amerika ya?

Hhh… Indonesia. Bagaimana menurutmu, hai Indonesia? Apa yang terjadi dengan bangsa ini, menyenangkanmu ataukah justru menyakitimu? Makna merdeka atau bebas yang dipahami pemuda dan pemerintah Indonesia, seperti itukah? Seperti itukah cara memanfaatkannya? Begitukan cara kita berterima kasih pada para pahlawan yang telah memperjuangkan bangsa ini? Mereka berjuang bertaruh jiwa raga, demi Indonesia yang merdeka, bermartabat dan tentunya, bermoral. Bagaimana perasaan mereka seandainya mereka bisa melihat bagaimana jadinya Indonesia saat ini?

Categories: Indonesia, Opini | Tags: , | 5 Comments

Pilih Siapa?


Tanggal 13 Mei 2009, sekali lagi warga KM UNAND melaksanakan salah satu pesta demokrasi. Hari ini adalah hari yang akan menentukan siapa Presiden BEM KM UNAND selama satu tahun ke depan.

“Wah, mesti milih siapa nih? G ada yang aku kenal calonnya. Bagusnya yang mana?”

Begitulah ucapan salah seorang teman saat akan mencontreng calon presiden ‘pilihannya’. Beruntung dia mengatakannya kepada teman yang mengetahui keadaan capres-capres tersebut, jadi bisa diarahkan ke pilihan yang insya Allah benar.

Tapi, mungkin ucapan seorang teman tersebut menggambarkan keadaan dari warga KM UNAND lain juga. Mungkin masih ada teman-teman yang lain yang juga berpikiran sama. Bedanya adalah pada siapa mereka menyampaikan pikiran tersebut? Bagaimana jika disampaikan pada orang-orang yang apatis dengan pemilihan presiden? Bagaimana jika disampaikan pada orang yang tidak mengerti? Lebih parah lagi, bagaimana jika disampaikan pada orang yang mendukung capres yang tidak berkompeten membangun Unand (jika ada)?

Meski sudah diadakan kampanye ke fakultas-fakultas, ternyata itu belum mampu memberi pengetahuan pada seluruh warga KM. Mungkin usaha perkenalan memang belum optimal, dan mungkin para capres juga kurang ‘menampakkan’ diri. Namun, mungkin bisa dimaklumi untuk Fakultas Kedokteran yang letaknya terpisah cukup jauh dari kampus Unand. Ada satu kemungkinan lagi. Mungkin, tingkat kepedulian mahasiswa FK Unand terhadap perpolitikan kampus memang masih perlu ditingkatkan.

Bagaimana dengan pemilu di Indonesia? Kejadian di FK itu bisa jadi merupakan sebuah refleksi. Banyak sekali warga Indonesia yang tidak mengetahui calon-calon yang diajukan sehingga memilih sesuai arus saja. Mereka juga dengan mudah bisa tertipu dengan janji-janji, tergiur dengan sepotong jilbab dan sedikit uang, terdoktrin dengan isu-isu yang disebarkan tanpa mengetahui apa yang ada di balik itu semua. Terutama masyarakat yang tempat tinggalnya jauh di pelosok desa. Dan orang-orang seperti itulah yang akan menentukan qiyadah Indonesia selama 5 tahun ke depan. Jika pilihan jatuh pada yang salah, dan kemudian terpilihlah orang-orang yang ‘salah’ sebagai wakil rakyat, perbaikannya mesti menunggu sampai 5 tahun.

Kita tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi tiap 5 tahun. Apa yang akan terjadi pada Indonesia yang sudah rapuh ini? Karena itu, mari tingkatkan kesadaran politik masyarakat Indonesia. Sampaikan informasi, beri penjelasan dan tunjukkan kebenaran. Sampai hari ini mahasiswa masih dipandang tinggi oleh masyarakat Indonesia, dianggap intelek dan didengarkan kata-katanya. Tapi kalau mahasiswa memperlihatkan tingkah yang buruk itu tidak akan berlaku baginya. Mahasiswa sebagai tonggak bangsa tidak akan rela Indonesia runtuh, karena itu jadilah teladan, seminimal-minimalnya di lingkungan sekitarmu!

Categories: FK Unand | Tags: , | 2 Comments