Makan Siang Pertamaku

Hari yang cerah. Tidak hanya cerah, tapi juga menyengat. Bagaimana tidak, siang ini matahari bertahta di langit dengan bebas tanpa ada sehelai awan pun yang berani menghalangi. Sinarnya yang terang memenuhi sudut-sudut langit menyilaukan mata bahkan birunya langit pun sulit ‘tuk dipandang.

Setelah setengah hari menjalani kuliah yang membosankan dan melelahkan, bolak-balik kampus menyelesaikan bahan tutorial, akhirnya motorku melaju di bawah sengatan UV dan pantulan panas dari aspal bercampur asap buangan kendaraan bermotor yang memusingkan. Perut telah meronta dan kekeringan serasa melanda seluruh tubuh.

Sampai di rumah segera ku berjalan ke meja makan dan melihat apa menu apa yang ada siang ini. Ternyata catering langganan kami berbaik hati membuatkan gulai ayam, salah satu menu yang kusukai. Setelah bersiap sebentar, sepiring nasi dengan gulai ayam ditemani segelas air dingin telah ada di depanku. Beberapa menit setelah itu aku larut dalam kenikmatan merasakan rezeki-Nya.

Piring telah dicuci bersih, lambung terisi dan dinginnya air minum terasa begitu menyejukkan. Aku berpikir untuk memakan makanan manis untuk dessert, dan saat itulah, sesuatu menyentak benakku.

Astaghfirullah, Ya Allah aku puasa!

Inilah pertama kalinya aku merasakan makan saat puasa. Satu-satunya rezeki perut yang kurasakan saat puasa adalah sedikit minum air putih setelah subuh, itupun saat-saat puasa pertamaku waktu kecil dulu. Selama ini setiap kali ada niat makan karena lupa saat puasa, aku selalu teringat puasaku sebelum sempat menyentuh makanan itu. Namun kini, aku menyelesaikan makan sepiring penuh plus air dingin tanpa terpikir sedikit pun bahwa aku sedang berpuasa! Alhamdulillah, rasanya makan siang ini sangat istimewa.

Peristiwa makan siang pertamaku ini mengingatkanku pada salah satu hikmah diwajibkannya berpuasa Ramadhan bagi umat muslim, yaitu agar kita ikut merasakan kesulitan saudara-saudara kita yang kekurangan. Makan di saat puasa mungkin sama halnya seperti mereka yang mendapatkan rezeki tak terduga di saat mereka sedang kesulitan.

Misalnya, saat sedang berjalan di pasar kita melihat seorang nenek tua nan kurus, hitam dan bungkuk, pakaiannya lusuh dan pandangannya nanar karena kesulitan hidupnya. Nenek itu menjual pical dan gorengan, lalu karena kondisi beliau menyentuh relung hati, kita pun singgah sebentar membeli dagangannya, namun dalam hati sebenarnya kita ingin membantu beliau. Nenek itu ternyata sangat ramah, dan persinggahan itu membawa kita pada perbincangan singkat dengan beliau. Kemudian baru kita tahu, ternyata beliau tinggal sendiri di tempat yang sangat jauh lokasinya dari pasar, tidak ada keluarga yang menemani beliau. Setiap hari beliau berjualan di berbagai tempat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Nampan yang besar dan berat berisi dagangan beliau pikul sendiri. Melihat dagangan yang beliau jual, bisa tersirat pula kehidupan yang beliau jalani. Sangat sederhana. Beliau pun bercerita sambil menangis. Trenyuh dengan kehidupan yang mungkin tak kan sanggup kita jalani, niat untuk membantu tadi akhirnya semakin kuat. Dagangannya kita beli dengan harga mahal. Dengan tulus kita berikan beberapa helai ratus ribuan kepada beliau, hingga beliau tersentak dan benar-benar berterima kasih.

Menerima uang yang begitu besar saat sedang kesulitan dengan tiba-tiba seperti itu, tentu tak pernah ia sangka, bahkan mungkin tak pernah ia mengimpikan itu akan terjadi. Bisa kita bayangkan betapa bahagia dan terasa ringan beban yang dipikulnya. Mungkin kebaikan itu juga bisa membantunya untuk lebih bersyukur dan bersabar hingga lebih mendekatkannya pada Yang Maha Menggerakkan hati.

Bukankah kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas membuat hati kita tentram? Tak perlu kita tahu apakah pemberian kita dalam bentuk apapun akan bernilai besar bagi si penerima atau tidak bernilai sama sekali. Tak perlu kita peduli apakah pemberian kita akan dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna atau tidak. Karena itu adalah urusan si penerima dengan Allah. Dan yang menjadi urusan kita adalah keikhlasan hati dalam memberi.

Kita tidak tahu apakah pemberian kita akan bernilai besar bagi yang menerimanya. Namun itu tidak menjadi penghalang hingga kita merasa enggan untuk memberi. Karena bisa saja, atas kehendak-Nya, mungkin pemberian kita itu menjadi media untuk menyelamatkan nyawa seseorang, dan itu tak akan terjadi bila kita tidak memberi. Dengan memberi, takkan terhitung berapa banyak saudara yang bisa kita bantu. Jadi, tunggu apa lagi? Mari memberi!

Wallahu a’lam bishshawab.

Advertisements
Categories: Kisah, Look Into Your Heart | Tags: , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Makan Siang Pertamaku

  1. Wildan

    wah wah, hebat kamu fah, dari peristiwa unik seperti itu kamu bisa menarik hikmah yang besar. btw aku jadi bertanya2, apa reaksi kamu pas baru sadar kalo kamu puasa? keringat dingin ya?

  2. wah wah, untung aja inget, kalo diterusin gmna ya jadinya ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: