Posts Tagged With: Ikhwan-Akhwat

Merah Jambu Hatiku


Duhai hatiku…

Mengapa bahagia kurasa saat ia sebut namaku?

Mengapa begitu nyaman saat kubaca pesannya di ponselku?

Mengapa terasa ada yang hilang saat tak kulihat ia hari itu?

Mengapa kupikir yang paling mengerti ia adalah aku?

Mengapa ku rasa ia begitu memahami diriku?

Mengapa kini ia semakin hebat di mataku?

Mengapa wahai hatiku?

Apakah selimut merah jambu t’lah menghangatkanmu?

Continue reading

Advertisements
Categories: Look Into Your Heart, Opini | Tags: , , , , | 18 Comments

Hati dan Rasa


Hati dan rasa, hingga kapan pun mungkin akan menjadi sesuatu yang tak membosankan untuk dibahas. Hati dengan segala misterinya, dengan kemampuannya memiliki rasa yang hanya diketahui pemilik hati dan Pemilik segala. Hati, yang jika ia baik maka baik pula seluruh tubunya. Sebaliknya bila ia rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya. Mudahkah menjaga hati? Bagiku, sangat sulit! Setiap rasa bisa muncul kapan saja. Bagus jika rasa yang datang itu positif, namun jika rasa itu negatif, tugas kita adalah menjadikannya positif.

Hati dan rasa, sesuatu yang dimiliki setiap manusia. Namun hati-hati dan rasa-rasa itu tidaklah sama. Bahkan dalam situasi yang sama, mereka tetap tidak akan terjamin bisa sama. Di saat seseorang merasa bahagia, mungkin yang lain merasa sedih meski terlihat bahagia. Atau mungkin ia menyimpan kekesalan dan amarah. Di saat seseorang ingin memberikan perhatian dengan hati yang tulus, mungkin yang lain merasa terusik dan tidak suka. Di saat seseorang melakukan sesuatu yang ia anggap penting, mungkin yang lain merasa sebal karena baginya hal itu tidaklah penting. Di saat seseorang mengatakan kata-kata yang baginya biasa, mungkin yang lain merasa tidak nyaman karena baginya hal itu sangat tidak biasa.

Beberapa ikhwah mengatakan, hijab itu yang penting di hati. Ya, itu benar. Posisi yang berjauhan, bicara yang saling membelakangi, rapat di balik hijab, menunduk saat berselisih, memang tidak menjamin hati aman dari rasa yang tidak aman. Namun, jika dengan usaha-usaha menjaga hijab tersebut saja rasa tetap bisa muncul, lantas bagaimana dengan penjagaan hijab tanpa usaha penjagaan fisik? Amankah? Bukankah kondisi seperti ini justru lebih berisiko?

Continue reading

Categories: Dakwah, Look Into Your Heart, Opini | Tags: , , , , | 6 Comments

Tidak Biasa Menjadi Biasa


Ya Allah, jauhkan kami dari maksiat kepada-Mu…

Sadarkan kami saat kaki kami mulai berpijak di tepi…

Jangan izinkan kami menerima yang tidak biasa menjadi sesuatu yang biasa…

Membicarakan orang lain demi mencari solusi, namun terlena dan solusi terlupakan.

Dengan alasan hal penting, berbicara tanpa hijab tidak membuat risih lagi.

Karena sering berinteraksi, bercanda dengan lawan jenis bukan hal yang aneh lagi.

Atas nama menghormati, mencium tangan dosen yang bukan mahram jadi sesuatu yang dianggap benar, padahal cium tangan bukanlah indikator penghormatan.

Karena telah lama berkoordinasi, sms dan telpon ke lawan jenis sudah tanpa pertimbangan lagi.

Dengan alasan dakwah ammah, berdekatan dengan lawan jenis dijadikan metode sendiri. Continue reading

Categories: Look Into Your Heart | Tags: , , , | 2 Comments

Antara Ikhwan dan Akhwat


Lucu, entah mengapa beberapa waktu terakhir sering terjadi perbedaan pendapat antara ikhwan dan akhwat dalam sebuah rapat. Mungkin biasa saja kalau sekedar perbedaan pendapat, namun kali ini perbedaan tersebut sempat membuat ruangan ber-AC menjadi ‘hangat’.

Momen terhangat terjadi beberapa minggu lalu. Cerita bermula dari usulan akhwat atas sebuah metode yang sudah ditetapkan sebelumnya. Usulan tersebut sudah disepakati di rapat akhwat, namun setelah akhwat menyampaikan, ikhwan mengatakan bahwa metodenya dilaksanakan seperti yang ditetapkan sebelumnya. Dan saat itu akhwat berpikir, “lho, g dipertimbangkan dulu usulan akhwat?”. Dan akhwat pun kembali mengajukan usulannya.

Akhirnya usulan itu pun dibahas. Dalam perjalanannya, akhwat merasa ada semacam diskriminasi dari ikhwan. Ikhwan seakan tidak peduli dan tidak mau melihat sisi baik dari usulan tersebut. Yang dinilai hanya kekurangannya saja (meski ada seorang ikhwan yang menghargainya, syukran). Bahkan ada ikhwan yang berujar “Ah, payah..”. Dan teririslah hati-hati lembut para akhwat. Karena itu akhwat ingin menunjukkan kelebihan dari usul tersebut, karena sepertinya tidak terlihat oleh ikhwan. Rapat pun berjalan alot. Hingga dari pihak akhwat terlontar kalimat yang membuat ikhwan merasa tersindir. Ikhwan lalu mengungkapkan hal tersebut dan memberi tausiyah. Akhwat juga meyampaikan tausiyah. Barulah suhu ruangan mulai kembali normal.

Continue reading

Categories: Hikmah, Kisah, Opini | Tags: , | 16 Comments

Road to Bandung part 1


Sebuah telepon masuk ke ponselku, dari kaput FSKI. Aku diminta untuk mengikuti sebuah seminar nasional yang diadakan oleh FK Unpad, sebagai delegasi FULDFK dari FSKI. Acara itu diadakan di Bandung, dan aku tertarik. Sahabatku Fina yang sedang bersamaku pun kuajukan untuk turut serta. Hingga akhirnya, delegasi dari FSKI yang berangkat ke Bandung berjumlah lima orang : Afifah Amatullah ’07, Stefina Media Sari ’07, Khairat A.S. ’08, Yosrizal ’08 dan Fitria Ramanda ’09.

Kami yang akhwat berangkat Jum’at pagi, 20 November 2009 ke Jakarta. Tiba di bandara jam 12-an siang, dan kami ke Bandung dengan Primajasa jam 2, setelah makan dan shalat zuhur plus ashar. Meski sudah beberapa kali ke Jakarta, ini adalah perjalanan pertamaku ke Bandung. Jadi meski mataku terasa berat, aku berusaha untuk tidak tidur di perjalanan. Bus ini akan berhenti di Bandung Super Mall (BSM) dan di sana akan ada yang menjemput kami.

Jam 4 sore, sebuah sms dari Nadya masuk. Nadya adalah mahasiswi FK Unpad yang menjemput kami. Ia mengatakan ia sudah sampai di BSM. Sementara kami sepertinya masih jauh dari Bandung. Jalan yang ramai menahan perjalanan kami. Lewat jam 6 kami baru sampai di BSM. Kami disambut oleh anak-anak yang menawarkan jasa payung, karena hujan turun hari itu. Tanpa perlu menunggu lama, kami bertemu Nadya dan segera masuk ke mobil.

Nadya yang kami kenal adalah seorang gadis yang lembut dan baik. Ia juga menyambut kami dengan ramah. Dan selama di perjalanan, kami berbagi banyak cerita. Mulai dari gempa yang kami alami beberapa waktu lalu hingga sistem PBL di FK Unand dan FK Unpad. Nadya juga memberi kami beberapa rekomendasi tempat yang bisa dikunjungi di Bandung. Dan saat memasuki waktu isya, kami sampai di Wisma Tut Wuri, tempat kami menginap.

Kami disambut dengan baik dan diantar ke kamar. Satu kamar diisi oleh tiga orang, dan teman sekamarku adalah Fitri dan Rima, seorang akhwat dari FK UGM angkatan 2008. Fina dan Khairat pun sekamar dengan akhwat FK UGM angkatan 2009, Khaila. Kami baru berkenalan singkat saat pintu kamar diketok dan panitia menyampaikan bahwa ba’da isya akan ada acara pembuka di gedung IKM. Saat kembali lagi ke wisma kami sudah mendapat beberapa orang teman baru.

Malam hari di Bandung Kota Hujan benar-benar dingin. Selimut yang agak tebal saja tidak cukup menahan jalaran dinginnya. Hingga kami terjaga esoknya, dingin itu masih sangat terasa. Belum lagi airnya. I was shivering each time I use it.

Zafran Saphire. Ketika perbedaan memunculkan kesempurnaan iman. Itulah acara yang kuhadiri dan berlangsung dua hari, Sabtu dan Minggu. Acara yang bagus dan berkesan. Materi yang disuguhkan, hiburan yang disajikan, pemateri yang dimunculkan dan ukhuwah islamiyah yang didirikan. Seminar ini adalah amanah dari FULDFK yang bercerita tentang perbedaan antara ikhwan dan akhwat dari segi medis, perilaku dan psikologi. Juga ada tentang peng-Islaman secara kaffah dan pengembangan diri menjadi super leader, super manager serta super parents. Lalu training dari Butterfly yang memotivasi diri untuk terus maju.

Zafran Saphire diadakan di Gedung Wahana Bakti Pos, lantai 8. Mungkin masih ada sedikit sekuele trauma gempa dalam diri kami yang dari Padang. Hingga saat peserta diminta bertakbir dengan keras hingga ‘menggetarkan’ gedung, rasanya agak gamang juga. Though it didn’t keep us from saying ‘Allaahu Akbar’ loud. Allaahu Akbar!!!

Dari Zafran Saphire banyak hikmah yang kudapatkan. Mulai dari perjuangan kami hingga bisa sampai ke Bandung dan ikut acaranya, pelajaran dari materi yang diberikan, perkenalan dengan budaya lain di Indonesia, dan yang sangat berarti, ukhuwah yang terjalin di antara kami. Meski hanya dua hari, namun aku bisa merasakan hati kami mahasiswi FK se-Indonesia didekatkan dalam satu ikatan ukhuwah. Aku berharap kami dipertemukan kembali oleh Allah dalam momen-momen berharga berikutnya. Amin.

Categories: Kisah | Tags: , , , | 2 Comments