Membuncah Rinduku di 25 April

Perasaanku tak menentu. Ada yang mengganjal di benakku sejak tanggal di gadget-gadget-ku berubah menjadi 25 April. Seseorang yang teramat spesial mengulangi hari lahirnya, dan aku tak tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaanku padanya.

Seharian ini aku memikirkannya. Tak lepas meski sebentar saja. Aku tetap menghubunginya hari ini, namun masih tak dapat kutafsirkan rasa yang menggelayut di hati. Tak mampu kukonversikan ke dalam untaian kalimat yang rapi.

Kucoba tuliskan pesan dari ponsel untuk kukirimkan kepadanya, namun pesan itu hanya menjadi kata-kata yang diketik, dihapus, diketik dan dihapus lagi. Ternyata memang tak mudah mengungkapkan cinta. Tak mudah mengekspresikannya agar ia dapat membekas di hati orang yang dicinta. Atau mungkin ini hanya kekhawatiran semata?

Kutarik napas dalam berkali-kali, kuputuskan tuk mengetikkan isi hati. 

Aku mencintaimu, seseorang yang mempertaruhkan jiwa raga tuk menghadirkanku. Yang kubuat merasakan sakit yang paling sakit 20 tahun lalu.

Aku mencintaimu, seseorang yang mengajarkan aku membaca dan mengaji sejak aku mulai pandai berbicara. Yang mengajariku beribadah sejak aku masih begitu kecil. Yang mengajariku berhijab bahkan sejak aku belum menyadari dunia. Tak pernah lelah engkau membimbingku di setiap langkah.

Aku ingat, saat aku menulis tentang pasangan hidupmu, engkau mengatakan ia membanggakan tulisan itu kepadamu. Dan engkau pun cemburu, karena tak jua kutulis sesuatu tentangmu. Tahukah engkau mengapa begitu? Karena sungguh, tak mampu kusalin kebaikan-kebaikanmu. Seperti saat ini, dari mana ku harus memulai tulisanku? Sementara engkau ada di setiap hal yang kumaknai dalam hidupku?

Engkau pernah bertanya padaku, bagaimana bisa aku sanggup berpisah denganmu untuk tinggal dengan nenek di Padang dalam usia keempatku? Aku tak begitu mengingat kejadian itu, namun aku masih sangat ingat dengan sebuah mimpi di salah satu malamku dulu. Dalam mimpi itu, aku terbangun dari tidurku. Saat itu aku melaksanakan shalat subuh, dan setelah selesai aku melihatmu masuk melalui sebuah pintu di depanku. Aku ingat di mimpi itu engkau menggunakan stelan baju berwarna ungu, dan engkau menyapaku dengan rindu. Sontak kupeluk engkau, dan pelukan itu membuatku terjaga dari mimpiku. Saat kesadaran menyentuhku, aku pun menangis karena merindukanmu. Senangnya saat kita tinggal bersama lagi setelah aku bersekolah di Padang tiga cawu.

Di masa sekolah dasar sepulang dari rumah keluarga aku pernah meminta padamu untuk membeli sepatu di sebuah supermarket terbesar di Jambi waktu itu. Engkau mengatakan bahwa hari sudah sore, cari waktu lain saja. Namun aku tak mau sabar dan tetap meminta pergi ke sana. Engkau lalu memenuhi keinginanku, dan benar saja, supermarket itu sangat ramai. Kita memutarinya beberapa kali dan tetap tidak mendapatkan tempat memarkir mobil. Saat itu, engkau mengatakan sebuah kalimat yang maknanya selalu kupedomani hingga kini. “Kak, udah keliling-keliling kita tapi nggak juga dapat tempat parkir. Itu artinya Allah nggak mengizinkan kita ke sini sekarang… Gimana kak? Mau parkir jauh atau kapan bisa, kita ke sini lagi?” Sungguh aku langsung tersadar bahwa aku begitu egois dan tidak sabar,aku mengikuti hawa nafsu. “Nggak usah ajalah sekarang,” ujarku menyesal waktu itu.

Betapa pilunya saat kita berpisah lagi, aku pindah ke Padang di kelas 3 SMP dan tinggal dengan nenek. Beberapa kali aku menangis saat mengingat engkau dan yang lain. Lalu Ahmad, Zakiy dan Faruq pun bercerita padaku saat kalian menelpon ke Padang malam itu. Mereka mengatakan engkau sering menangis di kamarmu. Lalu engkau menangis lagi saat melihat kamarku. Terbayang olehmu diriku berada di sana melakukan aktivitas yang biasa kulakukan. Karena itu Abi segera mengubah susunan kamarku dan menyuruh adik-adik pindah ke situ.

Saat aku SMA, tiba-tiba engkau mengirimkan sms kepadaku yang mengatakan betapa bersyukurnya engkau memiliki anak sepertiku. Tahukah engkau, ketika membacanya tak dapat kubendung air mataku? Lama ku menangis di kelas hingga teman-teman pun bingung dan khawatir melihatku. Berat sekali rasanya sms itu. Membuncah kerinduanku akan dirimu, dan pada keinginanku untuk berbakti lebih kepadamu.

Ummi, aku merindukanmu. Aku rindu duduk di sampingmu, berdiskusi dalam sambil menatap wajahmu. Aku rindu memperhatikan kerutan yang mulai muncul di wajah mudamu. Aku rindu bermanja dan bersandar padamu meski engkau tak suka itu. Aku rindu semangatmu menunjukkan begitu banyak hal yang engkau persiapkan saat menyambut kepulanganku. Aku rindu melihat candamu dengan Abi dan tawamu mendengar cerita kami. Aku rindu melihat matamu yang begitu mudah memerah jika sekelumit keharuan menyelimuti. Aku rindu setiap sisi dari dirimu Ummi…

Ummi, memiliki ibu sesempurna dirimu adalah sebuat nikmat yang tak tertandingi. Aku mohon maaf Ummi, atas semua kata yang melukai. Semua sikap yang menyakiti. Semua perilaku yang menggores hati. Terima kasih yang takkan pernah cukup untukmu Ummi… atas semua kebaikan yang engkau beri. Semua pengorbanan yang bagimu tak berarti. Semua keikhlasan yang selalu memperbaiki diri ini.

Ummi, selamat hari jadi… Semoga kita bertemu di surga nanti…

Advertisements
Categories: Keluarga | Tags: , | 27 Comments

Post navigation

27 thoughts on “Membuncah Rinduku di 25 April

  1. amin..

  2. cinta untuknya tak kan berkurang, sekalipun jarak memisahkan…

  3. walaupun laptop udh kk bwa jauh..
    akhirnya terbaca juga tulisan ini..
    seisi warnet pun heran melihat mata amd ug banjir..
    smoga kesehatan selalu tercurah untuk ummi dan abi, panjang umur yang selalu terisi dengan ketaatan kepadaNya, rahmat yang tak terputus serta rezeki yang barakah…
    amiin..
    inni lauhibbunnaki fillah ya ummiy..

  4. mata saya berkunang T__T
    bc juga puisi an kak. http://sandurezu.blogspot.com/2011/04/ibu-aku-rindu.html

  5. goresan tanganmu untuk ummi indah sekali. beliau pasti menangis kalau baca artikel ini.

  6. jadi teringat ummi ana..:-‘(

  7. jd pengen pulkam meluk ibu ana..:-‘(

  8. Hahshah

    ibu yag bahagiaaa memiliki anak sebaik dirimu Fifah…^^

    barokallaah…

  9. raudhatul husnia

    subhanallah …
    Begitu indah kakak qu…
    Bwt nia Nangis T.T..
    Jadi kangen ummi juga 😦

    Keren BGT kak..

  10. dibaca berulang2 g ngurangin gejolak rindu…
    *curang,, kq bisa merangkai kata bagus2..

  11. sayyidahali

    Subhanallah..sangat indah.
    Jadi ingat diri.mungkinkah aku bisa seperti Ummi yg dirindukan anak2nya

  12. fi

    Subhanallaah..
    mantap pisan euy..

    ana dikasih link sama adik antum ukh..

    salam sama ibunya ya..

  13. Citra W. Hapsari

    subhanallah,…mantabbhh,..hehee

  14. salam kenal..thanx

  15. haiii…salam kenal..thanx

  16. terharu sekali dg tulisan ini….
    *sementara engkau ada disetiap hal yang kumaknai dlm hidupku* kata yg pling tepat utk rasa terima kasihku slma ini..
    syukrn tulisannya kawan..salam kenal…

  17. dewi

    subhanallah.. bkin aku nangis.. pmgem pny kluarga kyak kkak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: