It Is Nothing But Us

Things are not going as well as we want. Spikes could be there on our way anytime. Hearts could be hurt, minds could be confused, and selves could be injured. Anything can happen anytime, anywhere. Wanted or not. Expected or not. Predicted or not.

When days went on as usual, with so many problems that could still be faced, another one came up. Not coming slowly, it stood up suddenly. The matter was that this thing affected all. Because of its presence, other problems became hard to endure.

And again, I was beaten by a simple sentence. It made me realized that the problem was not that problem. The problem was nothing but my self. It really was nothing but my self.  

Apalah artinya masalah-masalah yang selalu menghampiri? Mengapa seringkali masalah itu membuat kita dirundung duka, ditimpa kesedihan, dicerca keputusasaan? Mengapa banyak yang berpikir masalah yang dialaminya adalah masalah yang paling berat? Berpikir bahwa masalah itu membawa kekacauan dalam kehidupannya, meruntuhkan impian dan harapan, menjadikan semua usaha sia-sia?

Mestinya semakin banyak masalah yang datang, semakin kita bersyukur dan bersabar. Semakin kita merenung dan memuhasabahi diri. Bukannya ribut membela diri mencari pembenaran, lalu melemparkan kesalahan ke orang-orang. Seringkali kita lupa : semua masalah yang kita alami datang atas izin dan kehendak Allah.

Sebuah kalimat menyentak batin saat disebutkan dalam salah satu forum penuh ruh dan ghirah : Selama kita terhubung dengan langit, jangan risau dengan yang terjadi di bumi. Memang bukan kalimat baru, barangkali telah sering menyapa membran timpani kita. Namun kalimat ini akan selalu menyentak tiap kali ia diperdengarkan. Apapun yang terjadi, kuncinya hanya satu : sedekat apa hubungan kita dengan Sang Pencipta segala?

Jika hubungan itu dekat, maka yakinlah, takkan ada masalah yang mendatangi kita. Jika pun ada, masalah itu takkan berat. Jika pun berat, penyelesaiannya takkan sulit. Jika pun sulit, ia akan terasa mudah. Allah ‘kan berikan pertolongan. Bukankah Allah telah menjanjikan pada kita,

“Tidak! Siapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS Al-Baqarah : 112)

Maka ketika masalah itu datang, mari lihat lagi dalam diri. Mungkin ia diundang oleh keimanan yang terkikis dosa, kesombongan yang menjauhkan dari surga, kemaksiatan yang menjadi kebiasaan, kealpaan akan kebesaran-Nya.

Mungkin ia dipanggil oleh amanah yang tak tersampaikan, taubat yang tak sempurna, ibadah yang kehilangan ruhnya, lidah yang tak lagi terjaga, luka saudara akibat ulah kita, waktu yang dimakan kesia-siaan, cinta yang tak lagi hanya untuk-Nya.

Mungkin ia tertarik dengan bau busuk dari hati yang tak kunjung membersihkan nodanya, dari hidup yang tak terpelihara, dari jiwa yang penuh ujub dan prasangka, dari nurani yang telah kehilangan kepekaannya.

Mungkin ia berteman dengan jiwa yang meremehkan dosa-dosa kecil, yang menganggap setitik kebaikan tak bermakna, yang merasa hebat dengan banyaknya amanah, yang merasa tinggi menyandang gelar aktifis dakwah, yang keikhlasannya telah diserobot dunia.

So when those problems come, the problem is not those problems. The problem is nothing but us.

 

*) Dalam sebuah perenungan yang menyesakkan dada.

Advertisements
Categories: Dakwah, Hikmah, Look Into Your Heart | Tags: , , , , , | 13 Comments

Post navigation

13 thoughts on “It Is Nothing But Us

  1. be more wise cause the problem 🙂
    nice posting sist…
    salam

  2. i know you know that..

  3. kakak.. quote terhubung dg langit itu dr blog nya bg hasdi ya…(berusaha mencerna kata2 langit bg hasdi dan kak fifah… masih loading lama dikit ce kak, hehe)??

    mengobati dari akarnya, ga simptomatisnya aja, tul kan kak?

  4. Kalimat “Selama kita terhubung dengan langit, jangan risau dengan yang terjadi di bumi” memang mungkin sudah akrab sekali di telinga kita, tapi potongan kalimat “…menyapa membran timpani kita baru kali ini saya baca :mrgreen:

    Btw, mungkin sebaiknya saya komen gini aja kali ya…:

    Potongan kalimat “…menyapa membran timpani kita” baru kali ini membayang di retina mata saya…

    Masuk gak…?

    Overall… nice point of view

  5. Wah Luar biasa!! 🙂

  6. nice contemplation…
    have been so long not seeing u!
    Assalamualaikum 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: