Pilih yang Tidak Merasa

Fatimah merasa kesal. Karena menolong Khadijah sahabatnya ia mengalami kesulitan dalam menjalankan keperluan pribadinya. Yang membuatnya kecewa, Khadijah seperti tidak berempati sedikit pun padanya. Khadijah tidak menanyakan kondisinya bahkan tidak mengucapkan terima kasih padanya. Kekecewaannya ia ungkapkan pada temannya, Syifa yang tidak begitu sering berinteraksi dengan ia dan Khadijah. Syifa mengatakan, “Mungkin salah paham aja, Fatimah… Mungkin Khadijah juga bingung gimana cara bicara sama Fatimah karena Fatimahnya udah diamin dia duluan…”. Fatimah yang berharap Syifa akan membenarkannya lalu mengatakan, “Syifa sih gak dapat masalah… Syifa gak ngerasain kan kesulitanku sekarang…?”

Syifa yang berusaha memberi nasihat sebaik yang ia bisa pun bingung, apa lagi yang harus diucapkannya jika Fatimah sudah membentengi hati dari awal?

***

Saat seseorang memberi nasihat kepada kita, maka jangan cerca ia dengan ucapan “Kamu gak ngerasain apa yang aku rasain..” atau “Kamu gak tau gimana rasanya..” dan ungkapan lainnya yang senada. Mungkin ia memang tidak tahu apa yang kita rasakan, tidak pernah mengalami hal yang sama, bahkan baru pertama kali menemukan masalah seperti yang kita ceritakan. Namun, ada perbedaan mendasar antara kita dan ia. 

  • Kita : Kita berada di bawah tekanan, dengan emosi yang mengisi pikiran dan luka yang menghiasi hati.
  • Ia : Ia tidak mengalami masalah seperti kita, ia tidak berada di bawah tekanan, tidak mengalami emosi seperti kita dan tidak terluka.

Sebenarnya hal ini juga tergantung pada pilihan kita. Kepada siapa kita meminta pendapat atau sekedar bercerita tentang masalah yang kita alami? Jika pilihan jatuh kepada teman yang satu pemikiran dengan kita, maka ia dengan mudah akan merasakan apa yang kita rasakan. Jika pilihan jatuh kepada orang yang berbeda jalan pikirannya dengan kita, maka ia akan memandang dari sudut yang berbeda. Mana yang akan kita pilih?

Di bawah tekanan, mampukah kita berpikir jernih? Mampukah kita menilai dengan objektif? Silakan jawab ya, namun tentu kemampuan itu tak akan melebihi kemampuan orang yang tidak sedang berada di bawah tekanan. Dalam kondisi yang tidak stabil, kita akan sangat rentan menilai dan berpikir sesuai nafsu, dan mudah terpengaruh hasutan setan yang bahagia melihat ketidaktenangan kita. Mungkin saat itu kita puas, namun akibatnya hanya akan merugikan kita.

Jadi, meminta pendapat pada orang yang tidak merasakan apa yang kita rasakan sesungguhnya adalah pilihan yang tepat. Pilih orang yang lebih kuat imannya, lebih istiqomah ibadahnya, lebih tenang dalam menghadapi masalah. Dengan begitu kita akan dapatkan pendapat yang objektif, yang tidak dipengaruhi nafsu dan bisikan setan. Jika kita menerimanya, solusi yang akan kita jalankan adalah solusi dari hati yang tenang, solusi yang memang semestinya dan solusi yang insya Allah tidak memboncengi masalah baru.

Mungkin pendapat seperti itu bukanlah hal yang ingin kita dengar, tapi yakinlah pendapat seperti itu adalah apa yang kita butuhkan.

Perlu kita ingat, saat kita merasa tidak cocok dengan sifat saudara kita, saat itulah kita melihat cerminan diri kita yang sebenarnya.

Wallahu a’lam bishshawwab.

Advertisements
Categories: Dakwah, Hikmah, Look Into Your Heart | Tags: , , | 11 Comments

Post navigation

11 thoughts on “Pilih yang Tidak Merasa

  1. jundullah

    like thisss… ^_^

  2. bagus fah….

  3. INSICO

    toel mantoel, nice shared. salam harmoni dari insico

  4. yuhuu..like this Fifah..

    hmm….kadang, ketika jawaban tak sesuai dgn apa yg kita inginkan, itu mungkin saja ada sisi psikologis dlm jiwa kita yang tak terpenuhi…hehe (ngaurrr…, lebih tepatnya ego kita) sebab, sudah ada harapan agar orang lain”membenarkan” ego kita (kadang kita juga makhluk yang begitu egosentris yah?)…

    sesunggunya…
    sesungguhnya kita butuh muara sahaja…

    sepakat dengan ini : “meminta pendapat pada orang yang tidak merasakan apa yang kita rasakan sesungguhnya adalah pilihan yang tepat. Pilih orang yang lebih kuat imannya, lebih istiqomah ibadahnya, lebih tenang dalam menghadapi masalah. Dengan begitu kita akan dapatkan pendapat yang objektif, yang tidak dipengaruhi nafsu dan bisikan setan. Jika kita menerimanya, solusi yang akan kita jalankan adalah solusi dari hati yang tenang, solusi yang memang semestinya dan solusi yang insya Allah tidak memboncengi masalah baru.”

    namun, kadang, justru dengan membagi nya saja, kita seperti mengurangi sparuh beban yang menggelayuti pundak..
    hee..iya tho??^^

  5. Kadang plampiasan emosi sesaat aja Fah,, n saat itulah ego srng bkuasa,, n dsaat yg bsamaan qt akan senang n bahagia kl ada orang yang mbenarkn jalan pikiran qt,n mrasa dongkol kl ada yg blawann apalagi mnasehati.. kompensasi tubuh mcari pbenaran thd apa yg qt lakukan.. ^^

  6. positif thinking

  7. Citra W. Hapsari

    self defence akn lebih berperan ktika seseorang masih labil, maunya dibenarkan sj, pemilihan kt2 jg pnting ktika ingin mmberi masukan dn nasehat kpd seseorang,..
    sy jg tdk suka dnasehati yg spt dgurui :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: