Posts Tagged With: Mujahidah

Special Gift In Ramadhan


I’m in process of making the report of KKN-PPM Unand, and i was confused.

Alhamdulillah salah seorang teman –Kak Welan– telah mengirimkan contoh laporan lewat email, sehingga bisa menjadi acuan format. Saat men-download email tersebut, jari-jari saya yang masih tak bisa mengetik 10 jari bergerak menekan keyboard dan terangkai kata afifahamatullah.wordpress.com/wp-admin/ di sebuah tab baru. Dan, enter.

Wah… tampilan dashboard wordpress udah berubah ya.. Itu yang pertama kali terlintas di pikiran saya saat log in selesai. Ternyata memang sudah lama tidak membuka blog ini.. 😥

Sebuah comment dari Kak Fathel di antara sekian banyak comment yang menumpuk pun menarik pupil mata saya. Ada AWARD!! Hiks, padahal blog ini sudah lama tidak di-update..

Award kali ini sangat spesial karena merupakan Ramadhan Award, dan namanya memang  spesial : Special Gift. Sedih sekali rasanya award ini baru saya ambil di penghujung Ramadhan.. Andai lebih awal.. Namun meskipun sangat terlambat, ini tetap sebuah amanah yang harus disampaikan.

Baiklah, Special Gift ini saya bagikan kepada..   Continue reading

Advertisements
Categories: Dakwah, Hikmah | Tags: , , | 7 Comments

Saya, Ramadhan dan Kenek Bus


Malam pertama bulan Ramadhan dua tahun lalu, saya berangkat ke Jambi dengan bus. Saya duduk di bangku nomor 4 tepat di belakang sopir, dan seorang ibu mengisi bangku nomor 3 di samping saya. Saya berkenalan dengan beliau di bus, dan ternyata beliau baru saja mengantar anaknya yang kuliah tahun pertama di FK Unand. Saya tanya nama anak beliau, dan subhanallah saya kenal. Anak beliau adalah salah satu mahasiswa baru yang saya bimbing waktu pendaftaran di Unand. Kami pun berbincang dengan akrab.

Malam pertama bulan Ramadhan sebenarnya adalah waktu yang sangat sayang jika dilalui dengan duduk saja di bus. Apalagi untuk orang yang mudah mabuk darat seperti saya, karena tidak bisa duduk di kendaraan sambil membaca atau sambil melakukan hal lain yang mengharuskan gerakan mata dan badan. Untuk shalat di atas bus pun penuh perjuangan karena harus menahan pusing dan rasa mual yang menyesak di kerongkongan. Namun saat itu tidak ada waktu yang lebih baik untuk melakukan perjalanan ke Jambi.

Bus berhenti di sebuah rumah makan di Muara Tebo untuk sahur. Kemudian bus melaju lagi, dan di sinilah rasa tak nyaman mulai menyergapi saya. Continue reading

Categories: Dakwah, Hikmah, Kisah, Opini | Tags: , , , , | 23 Comments

Jika Kita Dizalimi (Tribute to Cerebri 07)


A tribute to Cerebri 07 yang sedang tersakiti.

Sebut namanya Aisyah. Adalah ia, seorang anak yatim yang tinggal di sebuah rumah sederhana bersama ibu dan enam orang saudaranya. Ia adalah anak ke-3, dan mengikuti pendidikan di Akper Padang. Di tahun kedua kuliahnya, ia mulai mengenal tarbiyah.

Mendalami Islam dengan sungguh-sungguh adalah hal yang tabu di tahun 80-an. Usroh, yang kini kita kenal dengan sebutan liqo atau mentoring atau halaqoh, dijalani secara diam-diam. Begitu pula dengan Aisyah. Ia mengikuti usroh di malam hari di tempat yang tidak jauh dari rumahnya. Dan ia mendapatkan begitu banyak dari usroh yang diikutinya.

Ia ingin hijrah secara total. Di tahun kedua kuliahnya ia memberanikan diri menghadap dosen untuk meminta izin menggunakan jilbab. Tidak seperti sekarang, jilbab dulu dianggap aneh, asing, bahkan sesat. Apalagi jilbab yang lebar. Yang orang-orang tahu jilbab itu digunakan untuk mencuri, untuk menyembunyikan barang curian. Juga ada isu jilbab beracun, yang katanya di balik jilbab itu disembunyikan racun. Jadi tentu saja, ia tidak mendapat izin.

Di tahun ketiga, keinginannya semakin kuat. Namun izin tetap tidak didapat. Ia berangkat ke kampus dengan menggunakan gamis dan jilbab. Karena dengan pakaian seperti itu ia tidak bisa memasuki kampus, ia mengganti pakaiannya dengan seragam di sebuah rumah di depan kampus. Saat pulang ia ke rumah itu lagi untuk mengganti pakaiannya. Begitu terus setiap hari.  Continue reading

Categories: FK Unand, Hikmah, Kisah, Look Into Your Heart | Tags: , , , , , , , | 38 Comments

Ia, Ia dan Ia


Saat ia menghubungi saya tiga setengah tahun lalu, saya sangat senang. Saya langsung menceritakan tentangnya pada ummi. Dan setelah mengenalnya tiga setengah tahun ini, saya melihat ia sebagai seorang yang saya sayangi sekaligus hormati. Ia adalah seorang yang kuat, dan saya suka jalan pikirannya. Ia yang paling cocok dengan saya dalam satu hal. Meski diiringi banyak rintangan, ia tetap setia. Dan ia sangat sering menampung air mata saya. Namun selama tiga setengah tahun ini ia sering membuat saya cemburu.

Continue reading

Categories: Dakwah, FK Unand, Hikmah, Kisah, Look Into Your Heart, Opini | Tags: , , , , , , , | 18 Comments

Capek Kak?


Minggu, 9 November 2009. Hari itu aku harus membantu adikku yang kelas 3 SMA Perguruan Islam Ar-Risalah Air Dingin Padang memenuhi apa yang ia butuhkan untuk kunjungan edukasinya ke Jakarta. Aku menjemputnya pagi-pagi ke Ar-Risalah dengan motor dan kami segera menuju kota Padang karena hanya punya sedikit waktu.

Seharian kami berkelana dengan motor, menyusuri pasar dan bolak-balik purus-andalas. Sore harinya hujan turun cukup lebat dan kami kehujanan. Saat kembali ke Ar-Risalah sekitar jam setengah 6, hujan sudah reda. Namun ada hambatan lain, di jalan menuju Ar-Risalah ada proyek pengambilan tanah. Banyak truk besar yang lewat, dan roda-rodanya membuat jalan penuh dengan tanah liat. Aspal tidak terlihat lagi. Lebih parah, hujan membuat tanah itu lunak. Mobil mungkin hanya perlu berjalan lambat, tapi tidak begitu dengan motor. Adikku yang memboncengku melarangku bergerak karena motor kami bisa saja tergelincir seketika.

Alhamdulillah kami sampai di Ar-Risalah dengan selamat. Untuk mengejar waktu maghrib, aku memutuskan untuk segera pulang. Kami berharap aku bisa melewati jalan bertanah itu. Tiba di sana aku mengurangi kecepatan. Dan ternyata membawa motor di sana benar-benar sulit. Ban motor serasa melayang dan bergeser kanan kiri. Aku terus berusaha dan berdoa, hingga sampai di jalan yang tanahnya lebih tebal. Di sana motorku lepas kendali dan jatuh. Alhamdulillah aku sempat berdiri hingga tidak ikut jatuh bersama motor.

Kulihat jalan ke depan, tidak tampak ujung jalan yang tidak tertutup tanah. Tanah masih panjang. Aku bingung, bagaimana cara melewatinya. Jalan pun saat itu sedang sepi. Sulitnya lagi, jalan itu menurun.

Seorang laki-laki yang sepertinya penduduk di sana lalu datang menghampiriku. Ia membantuku menegakkan motor dan ia pun mau membantu membawakan motorku ke jalan yang lebih aman. Akhirnya tak ada cara lain, ia yang mengendarai motorku dan aku duduk di belakang. Motorku kubawa lagi di tempat yang tanahnya tipis. Alhamdulillah orang itu memang hanya ingin menolongku. Terima kasih..

Aku sampai di rumah maghrib, dan segera melaksanakan shalat. Penat rasanya, sungguh hari yang melelahkan. Kubaringkan tubuhku di kasur ketika sms dari Ummi masuk. Ummi menanyakan perjalananku, adakah hambatan dan selesaikah urusan hari itu. Satu kalimat yang sangat mengena bagiku : “Capek kak? Tapi mujahidah… “

Kalimat itu membuatku tersenyum. Ya, aku baru sedikit berusaha dan berkorban untuk adikku. Berkorban waktu, tenaga, meski lusanya aku ujian dan belum belajar. Tapi semua itu baru sedikit, jika aku mengaku sebagai mujahidah semestinya tak ada yang kusesali dan kukeluhkan. Apalah artinya hariku itu dibandingkan dengan perjuangan para akhwat tahun 70-80-an? Apalah artinya dibandingkan perjuangan para muslimah Palestina dan negara Islam lainnya yang tertindas? Apalah artinya dibandingkan dengan perjuangan para sahabiyah? Sungguh, tidak ada kata capek dan lelah untuk mujahidah.

Allaahu Akbar!!!

Categories: Hikmah, Kisah, Look Into Your Heart | Tags: , , , | 15 Comments