Posts Tagged With: Opini

Blog nge-Facebook


Salah seorang akhwat pernah berujar, “Blog sekarang udah kayak facebook ya kak.”

Saya kaget mendengar kalimat itu, “Masa’ sih?” pikir saya. Selama ini saya tetap tidak menggunakan facebook memang terutama untuk menghindari besarnya kemungkinan mudharat yang ada. Karenanya saya menggunakan blog untuk menyalurkan tulisan. Tapi, jika blog pun telah menjadi seperti facebook, wah, bahaya…

Saya lihat lagi penggunaan blog yang dimaksud oleh akhwat tersebut, dan saya mengerti. Ucapannya benar, di mana yang jadi pertimbangan adalah bahaya yang timbul dari blog, kini seperti yang terjadi di facebook.

Yang jadi masalah tentu bukan status yang kontroversial lalu mengundang banyak komentar. Namun masalahnya tulisan di blog yang kini mulai seperti status di facebook. Kita mungkin mulai kurang berhati-hati dalam memilih tulisan yang bisa di-post di blog. Sehingga tulisan yang mestinya hanya untuk internal menjadi terekspos di media.

Nah, buat semua pengguna blog, yuk perhatikan lagi postingan blog kita, apakah isinya memang bisa untuk umum atau tidak… Karena yang membaca blog kita bukan hanya orang-orang yang mengenal kita.

Tulisan seperti apa yang baiknya tidak di-post? Tentu masing-masing kita bisa tahu dan merasa, tulisan ini layak nggak ya…?

 

*Lagi, sebuah teguran untuk diri sendiri

 

Advertisements
Categories: Opini, Uncategorized | Tags: , | 20 Comments

Award Oh Award


Sepertinya sedang musim award di blog saya….

Alhamdulillah dapat award lagi, kali ini dari Kak Yuyu (Haifa Wahyu). Hehe, dapat Stylish Blogger Award, padahal blog saya gak banyak widget juga… Baiklah, saya akan ikuti peraturan award ini.

1. Thank and link to the person who awarded me this award.
2. Share 8 things about myself.
3. Pay it forward to 8 bloggers that I have recently discovered.
4. Contact those blogger and tell them about their awards.

Continue reading

Categories: Opini, Uncategorized | Tags: , | 14 Comments

I Won’t Say Goodbye, My Beloved FSKI (part 2)


FSKI, mengikuti acara-acaranya di awal tahun perkuliahan benar-benar memancing rindu, kapan ya bisa ikut menyusun kegiatan-kegiatan ini? Lalu untuk awalnya, bergabunglah kami di Dawa’, yang pada mubes tahun 2008 mengalami transformasi dari Badan Semi Otonom menjadi Badan Otonom yang lebih mandiri. Saya kemudian bergabung di Divisi Penerbitan bersama kawan-kawan lain yang haus dengan dakwah. Inti Dawa’ saat itu adalah Hendra sebagai pimpinan umum, Rio sebagai wakil ketua, Priska sebagai sekretaris dan Kak Welan sebagai bendahara.

Menjadi bagian dari divisi penerbitan Dawa’ memberi kesan yang membekas erat di ingatan saya. Indah sekali mengenang saat kami bingung menentukan berapa halaman Buletin Dawa’ akan diterbitkan, berapa harga yang ditetapkan agar setidaknya bisa balik modal. Masih begitu jelas terbayang bagaimana kami mendiskusikan tema apa yang sebaiknya diangkat, laporan harga yang dipatok percetakan, memilih percetakan yang bagus, membahas tanggapan pembaca tentang Dawa’ yang kami terbitkan, membahas pilihan warna, membagi PJ, mengejar deadline, dan banyak lagi. Rindu sekali… MySpace Terima kasih para pejuang di Penerbitan : Syawqi (PimRed), Faisal, Venny (layouter), Rara, Waki, Puput, Kak Shasha, juga Fia, Yani, Bang Dolly P., Bang Karno, Henry, Kak Putri D., Resti, Wira. You’re the best.

Di tahun berikutnya angkatan 2007 mulai menjadi pengurus FSKI. Saat itu yang menjadi inti FSKI adalah Bang Zakiy sebagai ketua umum, Bang Deny sebagai sekretaris umum, Kak Adik sebagai bendahara umum dan Kak Rani sebagai Ketua Keputrian. Saya ditempatkan di Departemen KPSDM (Kaderisasi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia), dan di sana saya merasakan suasana yang berbeda. Suasana yang gejolaknya lebih terasa. Di KPSDM saya mulai merasakan beban yang sampai ke hati, tidak seperti Dawa’ yang bebannya masih kuat ditanggung oleh pikiran saja. MySpace

Continue reading

Categories: Dakwah, Kisah, Opini | Tags: , , , , , , , , | 9 Comments

Award! Award!


Saat sedang memperhatikan adik saya yang sibuk mengetik untuk postingan blognya, tiba-tiba saya tersentak. Ah…! Baru ingat!

Ternyata Award Truly Blogger from Indonesia bukanlah yang pertama, namun ada juga award yang diberikan oleh Micelia Amalia Sari tanggal 10 Desember 2009… Afwan ya che… Maklum waktu itu masih baru banget di blog dan belum tahu soal award-award-an..

Continue reading

Categories: Opini, Uncategorized | Tags: , | 20 Comments

Ia, Ia dan Ia


Saat ia menghubungi saya tiga setengah tahun lalu, saya sangat senang. Saya langsung menceritakan tentangnya pada ummi. Dan setelah mengenalnya tiga setengah tahun ini, saya melihat ia sebagai seorang yang saya sayangi sekaligus hormati. Ia adalah seorang yang kuat, dan saya suka jalan pikirannya. Ia yang paling cocok dengan saya dalam satu hal. Meski diiringi banyak rintangan, ia tetap setia. Dan ia sangat sering menampung air mata saya. Namun selama tiga setengah tahun ini ia sering membuat saya cemburu.

Continue reading

Categories: Dakwah, FK Unand, Hikmah, Kisah, Look Into Your Heart, Opini | Tags: , , , , , , , | 18 Comments

I Won’t Say Goodbye, My Beloved FSKI (part 1)


Semenjak SD, forum keislaman adalah impian bagi saya. Meski hanya mengetahuinya dari cerpen-cerpen di Ummi dan Annida, namun saya bisa merasakan betapa indahnya suasana dalam forum. Mengangkatkan acara Islami, rapat dengan hijab dan sesuai tuntunan Islam, persaudaraan dengan sesama muslim. Wah… kapan ya bisa merasakannya secara langsung…?

Memasuki SMP, saya langsung bertekad akan bergabung dengan Rohis. Saya terus menanti kapan ekskul bisa diikuti. Namun malang, tidak ada Rohis… Pupus harapan saya saat itu. Akhirnya ekskul yang saya ikuti adalah Pramuka dan PMR. Tapi karena tidak begitu berminat saya jadi sering absen. Beberapa waktu kemudian pihak sekolah membentuk remaja mesjid sekolah, dan saya diundang. Saya berharap ini akan jadi rohis, tapi ternyata kegiatan yang diminta sekolah malah yasinan…

Selama sekolah di tiga SMP negeri, rohis tetap tidak ada. Baiklah, tidak apa. Masih ada harapan di SMA. Alhamdulillah tanpa ragu saya mengikuti BRM (Bina Remaja Muslim) SMA 2 Padang dan bertemu sahabat-sahabat di sana. Saya cukup senang dengan suasananya, juga kegiatan-kegiatannya. Tapi ternyata saya tidak begitu menikmatinya.

Continue reading

Categories: Dakwah, FK Unand, Kisah, Opini | Tags: , , , , , , , | 3 Comments

Kakak Mau yang Kayak Abi


Mereka bertiga duduk di dalam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Malam itu jalan cukup sepi, beberapa mobil dan truk berlari kencang. Perjalanan mereka nikmati dengan perbincangan yang akrab. Gadis itu bersama ummi dan abinya. Ia mendengar dengan antusias cerita tentang proses ta’aruf hingga walimah kedua orang tuanya.

Beberapa kali ia berdecak kagum, kemudian tertawa, lalu terharu dan sesekali menggoda orang tuanya. Lalu saat ia mendengar kisah tentang kehidupan di awal pernikahan ummi dan abinya, juga di saat masa kecilnya, ia merasa dirinya sungguh tak tahu berterima kasih. Perjuangan mereka takkan mampu terbalaskan.

Kisah selesai didongengkan. Perbincangan berlanjut dengan diskusi lepas. Umminya menceritakan tentang abi dan abinya pun menceritakan tentang ummi. Ia sangat senang malam itu. Perjalanan yang biasanya dihabiskan dengan tidur dalam mobil karena jarak yang jauh kini jadi terasa begitu singkat.

“Kakak mau dapat yang kayak abi,” ujarnya kemudian.

Continue reading

Categories: Hikmah, Kisah, Look Into Your Heart, Opini | Tags: , , , , , | 37 Comments

Merah Jambu Hatiku


Duhai hatiku…

Mengapa bahagia kurasa saat ia sebut namaku?

Mengapa begitu nyaman saat kubaca pesannya di ponselku?

Mengapa terasa ada yang hilang saat tak kulihat ia hari itu?

Mengapa kupikir yang paling mengerti ia adalah aku?

Mengapa ku rasa ia begitu memahami diriku?

Mengapa kini ia semakin hebat di mataku?

Mengapa wahai hatiku?

Apakah selimut merah jambu t’lah menghangatkanmu?

Continue reading

Categories: Look Into Your Heart, Opini | Tags: , , , , | 18 Comments

Mencari ‘Sesuatu’ di Keagungan Tuhan-nya Vidi


“Insyaflah wahai manusia, jika dirimu bernoda…”

Begitulah lirik yang mengawali lagu Keagungan Tuhan, yang kini dinyanyikan oleh Vidi Aldiano. Lagu yang bagus, dan pada satu kesempatan aku melihat videonya di salah satu saluran TV. Aku pun mengikuti video itu dari awal sampai selesai, berharap menemukan ‘sesuatu’ dari lagu itu.

Dan akhirnya, ‘sesuatu’ yang kucari itu pun, tidak kutemukan.

Video itu diawali dengan pemandangan pemain-pemain basket dan beberapa gadis remaja yang sedang berjalan kaki dengan ceria. Vidi melihat mereka dari jendela, kemudian masuk dan mulai menyanyikan lagunya.

Video itu terus berjalan, dan suasana yang dilihatkan adalah suasana yang ceria, pemain basket dan gadis remaja tadi tampak nge-dance bareng. Kemudian diperlihatkan orang-orang lainnya, dari semua kalangan usia. Mereka semua tampak senang dan bahagia, di malam hari mereka menari dan bermain bersama. Sampai videonya selesai.

‘Sesuatu’ itu tidak ada… dan aku kecewa.

Lagu itu lagu yang bagus kan, dan punya pesan di dalamnya. Lagu itu sebenarnya ingin mengingatkan kita untuk mempersiapkan diri menghadapi hari besar yang akan datang, yang hanya Allah Sang Pencipta yang tahu kapan datangnya. Karena itu kita harus membersihkan noda-noda dalam diri kita, kemudian menjaga dan memeliharanya agar tidak ternoda lagi. Dan untuk itu kita harus senantiasa ingat betapa agungnya Allah SWT.

Tapi, dalam video itu hanya ditampakkan keceriaan, tanpa beban, dan… tidak ada nilai Islaminya.. Bahkan perempuannya, tak ada satu pun yang menutup aurat. Jadi di mana ‘sesuatu’ yang disampaikan oleh lagu itu? Pada awalnya aku mengira pemain basket dan gadis remaja yang diperlihatkan di awal video akan berubah di akhir video. Pemain basket mungkin akan tetap menaati syari’at dan tidak meninggalkan dzikrullah meski tetap bermain basket. Dan gadis remaja itu mungkin akan mengubah penampilannya dari yang terbuka menjadi gadis kalem yang menutupi auratnya dengan jilbab. Namun sepertinya lagu itu hanya dibuat untuk menunjukkan kekompakan dan keceriaan.

Sayang ya, video itu membuat pesannya jadi tak tersampaikan, malah secara tidak langsung memberi kesan tidak berjilbab dan menari bersama dengan non muhrim itu tidak salah. Lagu yang semestinya bisa membantu menguatkan ruh terutama untuk memasuki Ramadhan itu, malah hanya menjadi sekadar hiburan komersil untuk ‘menyambut’ bulan Ramadhan. Wallahu a’lam.

Categories: Opini | Tags: , , | 3 Comments

Sedikit Tuangan Pikiran


Assalamu’alaikum wr wb.

Belakangan ini Facebook sangat populer di Indonesia. Penggunanya membludak. Namun kemudian diketahui bahwa ternyata Facebook ini dimiliki oleh Mark Zuckerberg, asal Yahudi. Dan keuntungan Facebook digunakan untuk menghancurkan Islam. Dari Facebook mereka juga bisa mendapatkan data-data kita, bahkan mungkin bisa mengukur sejauh mana pergerakan umat Islam Indonesia. Tidak perlu dipaparkan, ana rasa sebagian besar kita sudah tahu sejauh mana Yahudi/Israel diuntungkan oleh Facebook.

Sejak keluarnya fatwa DR. Yusuf Qardhawi tentang haramnya menggunakan produk-produk Yahudi, para aktivis kampus, aktivis dakwah, dan masyarakat yang mau peduli mulai menyuarakan boikot terhadap produk-produk Yahudi. Yang paling gencar dan bersemangat adalah para ikhwan dan akhwat yang dalam kesempatan apapun sering menunjukkan pernyataan boikot ini.

Kini, terang kenyataan facebook adalah milik Yahudi. Namun, facebook ternyata juga menggiurkan. Sebagai situs social networking facebook memang menyediakan fasilitas yang belum ada di situs sejenis lainnya. Dan karena beberapa hal tersebut, banyak sekali ikhwan dan akhwat yang juga memakai facebook.

Wah, bagaimana ini ya. Kok orang-orang yang sibuk gembar-gembor boikot malah ikut-ikutan pake produk Yahudi? Oh… ternyata mereka punya alasan..

Kata ikhwan dan akhwat yang pake facebook, boleh pake facebook karena facebook bisa jadi sarana dakwah.

Benarkah memang digunakan untuk tujuan dakwah? Atau sebenarnya sebagian besar waktu di facebook digunakan untuk add friend, kirim-kirim comment, sharing foto deelel? Dan dakwahnya mungkin cuma ngepost satu tulisan yang hanya menghabiskan sebagian kecil waktu yang disediakan untuk nge-facebook? Trus waktu yang disediakan untuk facebook itu, berapa jam sih per hari? Apa gak kelebihan? Mungkin untuk ikhwan dan akhwat yang handphonenya bisa browsing, ada waktu senggang dikit bakalan dipake buat nge-facebook dr hape. Dan aman gak sih berdakwah lewat facebook? Mungkin untuk yang umum-umum gpp, tapi mungkin saja bisa jadi satu ukuran bagi Yahudi mengenai kekuatan dan pergerakan Islam, secara adminnya orang Yahudi. Ayo, jujur pada hati nurani…

Kalau memang di hati ini sudah berakar rasa benci pada Yahudi, ana yakin se-ngetrend apapun suatu produk, atas nama yang punya orang Yahudi, gak bakalan hati luluh untuknya. Cobalah recall memori saudara-saudari semua saat kita bersemangat melakukan aksi one man one dollar di jalan, berpanas-panasan, kehausan, keletihan, dan semua itu tidak menyurutkan langkah kita, namun justru semakin mengobarkan semangat kita untuk membela warga Palestina. Kita berpikir, belum apa-apa kepayahan yang kita rasakan dibandingkan penderitaan warga Palestina. Mereka telah menderita selama lebih dari 60 tahun. Mereka dibantai, diusir, dihujani rudal dan peluru, dilecehkan, diculik, disiksa dengan siksaan yang tidak pantas didapatkan makhluk apapun, dan banyak lagi derita mereka yang tidak kan habis dituliskan. Tapi sekarang, apa yang kita lakukan? Mungkin ada yang tidak sependapat dengan ana, dan ana terima itu. Menurut ana, memakai facebook=mengkhianati Palestina.

Jadi facebook itu halal atau haram? Ada yang punya jawaban pasti?

Dari An Nu’man bin Basyir ra. berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram juga telah jelas, sedangkan di antara halal dan haram itu ada hal-hal yang syubhat (meragukan) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang berhati-hati dari hal-hal yang syubhat itu maka terjagalah agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam hal-hal yang syubhat maka berarti ia terjerumus ke dalam hal yang haram, sebagaimana seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tempat yang terlarang maka sangat dimungkinkan ia akan menggembalakannya pada tempat yang terlarang itu. Ingatlah setiap penguasa pasti mempunyai hal yang terlarang, dan ingatlah bahwa hal yang terlarang bagi Allah adalah hal-hal yang diharamkan. Ingatlah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging di mana bila gumpalan daging itu baik maka baiklah seluruh tubuh, dan bila gumpalan daging itu rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ingatlah gumpalan daging itu adalah hati.” (HR Bukhari Muslim)

Ana bertanya-tanya, bagaimana ya perasaan ikhwan dan akhwat ini saat mengetahui kalau facebook itu punya Yahudi? Adakah satu beban di hati mereka? Atau oke-oke saja? Atau ada juga keraguan antara boleh memakai atau tidak?

“Dari Wabishah bin Ma’bad ra. berkata: “Saya datang kepada Rasulullah saw., kemudian beliau bertanya: “Kamu ingin menanyakan tentang kebaikan?” Saya menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Tanyalah pada hatimu sendiri. Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa menjadi tenang dan juga membuat hati menjadi tenang. Sedangkan dosa (kejahatan) itu adalah sesuatu yang membuat kacau pada jiwa dan membuat ragu-ragu pada hati, walaupun orang –orang memberi nasihat kepadamu.” (HR Ahmad dan Ad Darimy)

Dari Al Hasan bin ‘Ali ra. berkata: “Saya selalu ingat pada sabda Rasulullah saw. yang berbunyi: “Tinggalkanlah apa yang kamu ragu-ragukan, dan kerjakan apa yang kamu tidak ragu-ragukan.” (HR At Turmudzy)

Tulisan ini adalah sedikit tuangan pikiran dari ana. Mohon maaf jika ada yang tidak setuju, tidak suka, tersinggung dengan kalimat-kalimat ana. Ana hanya mengutarakan sesuatu yang ana anggap benar. Untuk kelanjutannya dikembalikan pada diri kita masing-masing.

Dari ‘Athiyah bin ‘Urwah As Sa’dy As Shahaby ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang itu tidak bisa mencapai tingkatan Muttaqin sebelum ia meninggalkan apa yang tidak berdosa karena khawatir terjerumus pada apa yang berdosa.” (HR At Turmudzy)

Semoga kitalah para penegak panji Allah yang rela mengorbankan apapun demi tegaknya Islam.

Wassalam.

Categories: Look Into Your Heart, Opini | Tags: , | 12 Comments