Ia, Ia dan Ia

Saat ia menghubungi saya tiga setengah tahun lalu, saya sangat senang. Saya langsung menceritakan tentangnya pada ummi. Dan setelah mengenalnya tiga setengah tahun ini, saya melihat ia sebagai seorang yang saya sayangi sekaligus hormati. Ia adalah seorang yang kuat, dan saya suka jalan pikirannya. Ia yang paling cocok dengan saya dalam satu hal. Meski diiringi banyak rintangan, ia tetap setia. Dan ia sangat sering menampung air mata saya. Namun selama tiga setengah tahun ini ia sering membuat saya cemburu.

Pertama kali saya mengenalnya, saya bertanya dalam hati, “Bisakah saya berteman dekat dengannya?”. Itu karena pada penilaian pertama saya tentangnya, ia adalah seseorang yang terkenal dan punya banyak teman, juga punya posisi. Namun sebuah kepanitiaan mendekatkan kami, dan setelah itu kami tak terpisahkan lagi. Ia seorang yang sabar dan istiqomah. Saya sangat salut dengan perjuangannya, meski sulit dan berurai air mata namun ia tak pernah menyerah. Ia yang punya keunikan dalam sikap dan penampilannya, yang sering mengundang tawa penuh rasa sayang.

Sebuah rumah kecil yang sering menampung tiga orang mendekatkan kami. Ia, seorang yang suka memberi dan peduli. Ia memperhatikan dalam diamnya. Ia unik di setiap bagian dirinya. Saya menyeganinya saat pertama jumpa, dan kini saya memeluknya hampir tiap kali kami bersua. Hatinya sensitif, saya khawatir sering menyakitinya tanpa saya sadari. Namun saya yakin itu tidak terjadi, karena saya yakin dengan tafahum di antara kami.

Hubungan saya dengannya diwarnai pergolakan yang naik turun. Ia punya karakter yang tegas dan terkadang ia menyentuh titik iba saya. Tapi mungkin saya lebih sering menyakitinya. Dan saya menyayanginya dengan cara yang berbeda. Ia, adalah seorang pemerhati dengan pikiran luar biasa. Ia juga sering mengkritisi. Namun ia tidak sulit menerima sebuah kebenaran. Ia terbuka dan tidak mau larut dalam pikirannya sendiri. Ia adalah orang yang membuat saya bahagia tiap kali saya bertemu dengannya.

Ia pandai berfilosofi. Ia sesungguhnya sangat hebat, namun ia tak pernah merasa hebat. Ia selalu merasa kurang, namun ia tetap berusaha memberikan terbaiknya. Ia peduli dengan hal-hal yang mungkin tak terperhatikan oleh yang lain. Ia suka berkonsultasi dan berbagi pikiran, meski kadang cepat panik menghadapi sebuah masalah. Namun ia juga cepat sadar dan beristighfar. Dan menyerah adalah pantang baginya. Saya senang bercerita dengannya, karena ia seringkali memandang sesuatu dari sudut yang berbeda dengan saya.

Ia amat spesial. Ia adalah orang yang bisa berbaur tanpa harus melebur. Ia sering menjadi pintu dan jembatan untuk hal lain yang tak dapat kami sentuh. Ia tegar dengan amanahnya, dan saya sangat senang jika ia bercerita pada saya. Masa-masa bersamanya sangat berkesan karena masa-masa itu tidak bisa terus muncul dengan mudah. Saya sangat menghormatinya di balik rasa sayang dan rindu saya padanya.

Ia membawa tawa dan kegembiraan. Ia sangat total dengan pekerjaannya, aktivitasnya tertata. Ia tak memedulikan pandangan orang lain, ia melakukan apa yang baginya benar. Dan saya sangat kagum dengan itu. Ia sering menghilang dari pandangan saya, hingga jika ia ada saya akan langsung menghampirinya untuk dapat berbagi dan berbicara. Namun ia begitu mobile, dan berbicara dalam waktu yang lama dengannya adalah sebuah hal yang sulit diwujudkan. Saya hanya bisa memandanginya dari jauh dengan penuh kerinduan.

Ia selalu optimis dan berani mencoba hal baru. Dengan kesungguhannya ia meraih begitu banyak prestasi. Kebaikan dan keramahan dirinya menjauhkan ia dari kesombongan. Lekat di ingatan betapa saya mengaguminya sejak pertama kali saya melihat seseorang yang begitu percaya diri tanpa keraguan di tribun auditorium. Dan kini saya semakin mengaguminya.

Ia, ia dan ia. Mereka adalah orang-orang luar biasa. Dan masih ada ia-ia lainnya yang juga luar biasa. Ia yang telah menemukan ketegasan dalam memimpin, selalu terbuka dengan arahan untuk sesuatu yang lebih baik dan tidak pernah terpancing emosi. Ia yang berwibawa dalam tenangnya, dan berpikir tentang hal yang terlupakan oleh yang lain. Ia yang bijak dalam bertindak, dewasa dan adil dalam memandang suatu masalah. Ia yang penolong dan selalu ingin memberi kontribusi lebih. Ia yang selalu bersemangat dan tidak mau kalah dalam kebaikan, meski kurang mempedulikan keselamatan dirinya. Ia yang dengan cepat mempelajari dan menguasai bidangnya, serta begitu lihai bermain dengan opini dan kata. Ia yang baik dan rendah hati namun tetap berprestasi.

Duka dan air mata telah saya rasakan karena ia, ia dan ia yang luar biasa. Namun kini, di saat jalan akan berbeda, dinamika baru akan ditempuh, dan tantangan yang lebih berat akan menghadang dengan pongah, duka dan air mata yang telah terobati dengan manis kini terasa lebih manis lagi. Ternyata saya sangat menyayangi ia, ia dan ia yang luar biasa. Sakit saat teringat pada orang-orang yang lebih dulu menantang tantangan, betapa sulit mereka bertahan dan betapa banyak yang berjatuhan. Resah hati mengkhawatirkan ia, ia dan ia yang luar biasa.

Tapi tak apa. Saya percaya bahwa ia, ia dan ia memang orang-orang yang luar biasa. Mereka begitu hebat dalam pandangan saya, dan saya percaya di balik semua itu mereka adalah orang-orang yang jauh lebih hebat lagi. Saya percaya mereka akan bertahan dan akan saling menjaga. Saya percaya mereka takkan izinkan saya jatuh. Saya percaya hingga akhir nanti takkan ada ia yang hilang, namun ia, ia dan ia yang ada kini justru akan jadi semakin luar biasa. Ia, ia dan ia akan mengajak ia-ia lain yang juga luar biasa untuk ikut bersatu, hingga barisan ini semakin panjang dan kokoh. Hingga agama hanya untuk Allah.

Terima kasih ia, ia dan ia, untuk segala pelajaran yang saya dapatkan dan ukhuwah yang saya rasakan. Untuk persaudaraan berlandaskan iman yang telah menguatkan dan menegapkan langkah. Semoga perjuangan ini berkah dan berakhir syahid fi sabilillah.

Dengan kehendak dan izin-Mu Ya Allah, amin…

Categories: Dakwah, FK Unand, Hikmah, Kisah, Look Into Your Heart, Opini | Tags: , , , , , , , | 18 Comments

Post navigation

18 thoughts on “Ia, Ia dan Ia

  1. Amien Ya Rabb….

    Aku pun menCINTAI ia,ia,ia dan kamu….

  2. welan

    teringat saat menulis suatu ungkapan pada malam itu,judul yang di gubah menjadi makna yg berbeda,teringat semua gerakan tangan berpacu membalas kerinduan yang terkadang aneh untuk di ungkapkan,…

    tergetar hati ini membacanya,setelah sesak dunia seperti tak mengizinkan untuk bernafas,setelah keruwetan pikiran dipaksa dipadukan dalam setiap jengkal pemikiranku

    ia yang menjadi bagian dalam setiap jengkal perjalanan kita, melengkapkan perbekalan yang mungkin lupa kita bawa,ia yang mungkin berseberangan dengan kita, tapi masih ada satu ia….

    senang menjadi bagian dari tiap diri kita yang baru,…

    • Sepakat kak, menitik lagi air membaca comment kak we..
      Semoga rahmat-Nya selalu tercurah untuk ia,ia,ia,ia,ia,ia,ia,ia,ia,ia,ia,ia,ia,ia,ia dan saya…
      Juga kepada keluarga para ia nantinya…
      Dan keluarga saya juga. 🙂

  3. Assalamu’alaikum.
    Mohon maaf, dengan sangat bangga sebelumnya ana telah me-link blok ukhti di:

    http://widodosaputrajundullah.blogspot.com/

    Mohon izinnya, jika tidak izin segera konfirmasi ke alamat di atas. Syukron..
    (Tidak ada konfirmasi dianggap setuju)

  4. Ya..ia,yg seperti dilagukan far east,UNIC,InTeam,mestica,..

  5. meliarahma

    sungguh luar biasa, fifah bisa mengungkapnya dengan kata-kata..
    semakin mahir mah..ckckck..hehe ^^

    ttg apa yang imel rasakan setelah membacanya..
    – campur2: tersenyum senyum kecil, mw nangis, dan bersyukur krn telah ditakdirkan Allah menjadi bagian dr ukhuwah ini..

    syukrn..
    dk bosan2 bacany..
    2 thumbs up.. bagus!

  6. ia, ia dan ia.. dikirain ceritain satu orang.. eh.. kyaknya jamak nih.. soalnya ada kata ‘mereka’ di dalam tulisan ini..
    adakah saia salah satu dari ia itu (hehehe.. ngarep..)?? karena perlu dibaca berulang2 utk membayangkan siapa orang2 beruntung itu di tiap paragraf..
    mantab fah..
    uhibbuki fillah.. ^^

  7. ada award untuk penyemangat menulis di blog.. silahkan di ambil.. semoga bermanfaat..
    http://rangtalu.wordpress.com/2011/02/12/dua-award/

  8. T354

    that’s right i am.. Uhibbuki fillah.. aidhan,aidhan, syukran ya ukhtiy ‘ala ikhwati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: