Dakwahku, Keluargaku

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim : 6)

Dianggap kolot, tidak pandai bergaul, ikut aliran sesat, adalah beberapa kekhawatiran keluarga pada anak mereka yang terlibat dalam dakwah. Terutama terhadap akhwat yang dari penampilan saja sudah sangat kentara. Jilbab lebar yang tercantol di kepala mereka pun membawa kekhawatiran lain. Takut tidak dapat suami, atau tidak dapat pekerjaan.

Memang tidak mudah memberi pengertian pada keluarga. Keluarga terutama orang tua adalah orang yang paling mengerti tentang diri kita. Mereka sangat paham bagaimana kebiasaan kita, dari yang baik hingga yang paling jelek. Mereka tahu kita dahulu barangkali adalah anak yang nakal, suka melawan, tidak patuh dan sebagainya. Jadi, kita tidak bisa semaunya memberi arahan pada keluarga apalagi orang tua. Memangnya kita lebih hebat dari mereka?

Bukannya sama sekali tidak mengarahkan, namun metodenya yang berbeda. Tentu kita tidak bisa menceramahi, apalagi membentuk mentoring, hehe… Namun cara yang paling efektif memang dengan keteladanan. Kalau muwashofat yang sepuluh itu kita penuhi semua, wah.. insya Allah, orang tua mana yang tidak senang? Namun di sinilah letak kesulitannya. Kita memang masih belajar, dan mungkin muwashofat itu belum bisa segera dipenuhi. Tapi mau sampai kapan?

Don’t worry, banyak kok aktifis yang berhasil dalam dakwah keluarganya, minimal prinsipnya diterima. And don’t give up, jika sudah mencoba bertahun-tahun tapi belum diterima juga. Mari introspeksi diri dan metode, barangkali kita terkesan menggurui. Atau kita masih banyak menuntut, pulang untuk minta dilayani, bukan melayani. Mungkin kita masih belum bisa mengayomi adik-adik, masih sering bertengkar dengan saudara. Mungkin kita belum berbuat baik pada saudara-saudari orang tua kita, mungkin banyak hak keluarga kita yang belum kita penuhi. Mungkin sangat jarang kita mendoakan mereka. Jika kita sudah berusaha maksimal, cuma satu yang perlu kita lakukan : tawakkal pada Allah. Toh kita tak punya kuasa atas hasil. Toh Allah saja yang membolak-balikkan hati. Toh bagaimana pun kita merencanakan dan berusaha, Allah memiliki rencana dan kehendak terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

Tapi jangan jadikan ini alasan untuk tidak lagi berdakwah, karena dakwah itu adalah kewajiban yang harus terus kita jalankan. Apakah Nabi Nuh as. berhenti berdakwah meski pengikutnya hanya sedikit, bahkan tidak termasuk anak dan istrinya? Padahal beliau berdakwah selama seribu tahun. Bagaimana dengan Rasulullah saw. yang tiada henti berdakwah, berjuang dan berkorban meski segala siksaan telah dialami? Dan hingga akhir hayat paman yang sangat beliau kasihi tidak sempat mengucap syahadat? Bukankah Nabi Yunus as. ditegur Allah ketika meninggalkan kaumnya? Nah kalau sekarang kita yang meninggalkan kewajiban berdakwah, mungkinkah kita akan mendapat teguran juga? Mungkin, tapi kita yang bisa saja tidak menyadarinya hingga tetap larut dalam kesia-siaan.

Nah, bagaimana dengan aktifis yang keluarganya juga kader? Wah berarti gak perlu dakwah lagi dong… Begitulah awalnya yang kupikirkan. Tapi tidak, tetap ada dakwah. Karena dakwah adalah mengajak kepada Allah, bukan kepada kita atau kepada golongan tertentu. Kalau keluarganya juga aktifis dakwah, apakah lantas ia boleh banyak menuntut dan meminta? Apakah dengan begitu ia tak perlu berbuat baik, tak perlu bersusah-susah melayani, dan tidak harus selalu menjaga akhlak dalam keluarganya? Padahal semua itu adalah kewajiban setiap muslim, aktifis dakwah ataupun bukan. Namun barangkali karena tidak merasa ada hambatan dalam dakwah keluarga, hal ini jadi sering terlupa. Beda dengan aktifis yang harus berjuang untuk diterima di keluarganya, keteladanan disadari sebagai sebuah harga mati.

Bebas berdakwah semestinya disyukuri dengan senantiasa memperbaiki diri. Berarti yang keluarganya kader harus bisa lebih baik karena lebih banyak yang harus disyukuri.

Untuk semua, mari jadikan diri teladan yang baik, mau mencontoh Rasulullah saw. kan?

Wallahu a’lam bishshawwab.

Categories: Dakwah, Opini | Tags: , , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Dakwahku, Keluargaku

  1. MAKASIH YA TIPS NYA. AKU SEBENERNYA JUGA PUNYA MASALAH YANG SAMA SPT ITU. OHYA… KUNJUNGI BLOG SAYA YA
    http://www.ngobrolislami.wordpress.com

    salam

    FERRY

  2. foto ahmad yang paling banyak kena blur… -_-‘

  3. jundullah

    Dakwah dengan keteladanan mendapat respon yang lebih baik ketimbang kata-kata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: