Begitu Mudah

Begitu mudah mengamati, mengkritik dan mengomentari orang lain. Memang, semut yang di seberang sungai itu lebih jelas fokusnya. Ia lebih gampang dilihat dan dicermati, karena gajah yang di depan mata ini terlalu dekat dan tidak menyenangkan, tidak seru untuk dilihat.

Begitu mudah mengamati, mengkritik dan mengomentari orang lain. Saat saudara kita melakukan kesalahan, begitu cepat mata kita menangkap kesalahannya, begitu tajam telinga kita mendengar beritanya, begitu besar keingintahuan tentang masalahnya, begitu tinggi rasa ingin mengoreksinya.

Begitu mudah mengamati, mengkritik dan mengomentari orang lain. Saat ada keputusan yang tak sesuai kehendak hati, seketika kekecewaan, ketidakpuasan, ketidakpercayaan memenuhi seluk pikiran. Tanda tanya – tanda tanya diungkapkan dalam protes yang bertajuk meminta penjelasan. Kita merasa heran, mengapa keputusan ini yang diambil? Lalu kita memberi berbagai pertimbangan, yang kita rasa tidak dipahami oleh para pengambil keputusan. Kemudian berpikir keputusan ini tidak adil.

Begitu mudah mengamati, mengkritik dan mengomentari orang lain. Bukan, tujuannya bukan untuk kepentingan kita. Kita semua memikirkan jalannya dakwah ini, kita semua mengharapkan jayanya agama ini. Ketika melihat kesalahan orang lain, kita ingin segera memperbaikinya, bukan untuk mengelaborasi kekurangaan saudara. Namun untuk menjaganya, memelihara izzah dakwah, juga memelihara kelangsungan dakwah karena maksiat yang kita lakukan akan berdampak buruk pada dakwah ini. Ketika keputusan yang mengganjal itu tiba, kita juga ingin mengubahnya, atau mempertanyakannya. Bukan untuk menaikkan jabatan, mementingkan salah satu UKM, memikirkan ketenaran, memberi pengaruh. Bukan itu. Namun kita ingin dakwah ini lebih baik jalannya, karena kita merasa ada keputusan yang lebih bijak.

Hhh…

Memang lebih mudah mengamati, mengkritik dan mengomentari orang lain. Ia tidak sesulit mengamati, mengkritik dan mengomentari diri sendiri. Sementara barangkali, dalam diri kita sesungguhnya begitu banyak yang harus diamati, dikritik dan dikomentari…  Sementara barangkali, problematika dakwah ini selalu membanjiri karena kesalahan, maksiat dan dosa dari diri kita, yang terlupa kita amati, kritik dan komentari. Bisa jadi, masalah-masalah yang ada adalah akibat dari kesombongan kita, dari perasaan lebih benar dan lebih tahu, dari hati kita yang hitam dan berkarat. Na’udzubillah…

Begitu mudah mengamati, mengkritik dan mengomentari orang lain. Ya Allah, ampuni hamba… Teruntuk saudara-saudari seperjuangan yang mungkin pernah tersakiti olehku, aku mohon maafkan aku…

Categories: Dakwah, Look Into Your Heart, Opini | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: