Arkanul Bai’at 1 : Al-Fahmu (Paham)

Dalam buku Menuju Jama’atul Muslimin dijabarkan beberapa hal yang mesti dipahami. Kita saat ini pun perlu memahami poin-poin tersebut, di antaranya:

  • Bahwa fikrah kita adalah Islam yang benar
  • Bahwa Islam adalah satu sistem komprehensif yang meliputi seluruh aspek kehidupan
  • Bahwa Al-Qur’an dan hadits adalah rujukan setiap muslim untuk mengenla hokum-hukum Islam
  • Bahwa iman yang benar dan ibadah yang shahih adalah cahaya yang dihunjamkan Allah kepada hati hamba-Nya yang dikehendaki-Nya
  • Bahwa jimat, perdukunan, dan mengaku mengetahui yang gaib adalah kemunkaran yang harus dienyahkan
  • Bahwa pendapat Imam dan wakilnya harus dilaksanakan selama tidak berbenturan dengan nash
  • Bahwa pendapat setiap orang dapt diterima atau ditolah kecuali Rasulullah yang ma’shum. Tidak boleh ‘menyerang’ orang yang berbeda pendapat, kita serahkan mereka kepada niat mereka
  • Bahwa perselisihan dalam fiqih tidak harus membuat perpecahan dalam agama, tetapi harus saling memahami di bawah naungan rasa cinta dan persaudaraan
  • Bahwa pandangan syari’at lebih didahulukan daripada padangan akal dan bahwa hakikat ilmiah tidak mungkin berbenturan dengan kaidah syari’at yang baku

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Israa’ : 36)

Paham menjadi hal yang utama yang harus kita miliki, karena tanpa memahami, amal yang kita kerjakan tidak sempurna pelaksanaannya. Jika kita melaksanakan shalat lima waktu, diikuti sunat rawatib, lalu dhuha, qiyamul lail dan seterusnya, namun kita tidak memahami shalat-shalat tersebut, bagaimana nilainya di sisi Allah? Wallahu a’lam, namun tentu berbeda dengan orang yang mengerjakan dan juga memahami.

Begitu juga dalam dakwah dan hidup berjama’ah. Begitu banyak hal yang harus kita pahami agar dapat menjalankannya dengan benar. Seringkali perselisihan, kekecewaan, kesalahan bersikap dan lainnya bermula dari kurangnya pemahaman.

Sesungguhnya telah banyak media dan fasilitas yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan ilmu dan pemahaman. Dan untuk mendapat pemahaman yang benar, tentu sumbernya juga harus benar. Namun kita seringkali merasa tidak butuh dengan ilmu, atau merasa butuh, namun tidak merasa perlu mencari.

Halaqoh, sudahkah penuh kehadiran kita? Sudahkah ketidakhadiran kita karena alasan yang syar’i? Atau apakah kita tidak hadir karena alasan yang ‘dibuat jadi syar’i’? Sudahkah kita berusaha untuk dapat terus menghadirinya, atau masihkah ada pemikiran, “Yah, bentrok sama halaqoh. Ya udah nanti izin, gimana lagi.” Atau adakah yang kita pikirkan, “Duh, bentrok tuh sama halaqoh. Coba siasati cari jadwal lain biar ga bentrok.” ?

Tatsqif, tempat kita mendapat ilmu tentang syariah. Kita sering mengeluh tentang cara beribadah, meminta ilmu yang meningkatkan ruhiyah. Tatsqiflah tempatnya. Tinggal kita menilai, se-urgent apa tatsqif bagi kita selama ini? Sudahkah kita merasa butuh, atau malah menganggapnya sepele? Apakah kita berpikir, “Nanti ada tatsqif, rugi nih kalau ga ikut. Yang lain juga, ikut tatsqif yuk..” atau “Nanti tatsqif ya? Duh, harus ngurus ini dulu, minggu depan insya Allah ikut.” ? Mari hitung, berapa persen kehadiran tatsqif kita?

Daurah, media upgrade yang sangat bagus untuk ilmu, kepahaman, pengorbanan, ketaatan, ruhul istijabah. Banyak aktifis yang menantikan daurah-daurah ini. Harap-harap cemas, akankah namanya terpilih untuk dapat mengikutinya? Lalu saat ia diminta untuk ikut, ia merasa senang dan bersemangat. Tugas-tugas yang begitu banyak dan berat dijadikannya sebagai pemicu, sebagai penyemangat hari-harinya menuju daurah tersebut. Ia yakin, dengan tugas itulah daurah tersebut dapat diikutinya dengan baik, lalu ilmunya ia dapatkan, dan ridho Allah ia raih. Saat ada tugas yang tidak dapat ia laksanakan, ia merasa sedih namun ia tidak menyerah. Tetap ia berusaha semampunya dan ia rela menerima konsekuensinya. Karena ia yakin, dengan konsekuensi tersebut ia akan dapat pelajaran baru, dan dengan itu setidaknya sebagian kelalaiannya bisa ia tebus. Namun sebagian masih ada yang menganggap tugas itu sebagai beban, lalu menyerah dan tidak ingin ikut daurahnya.

Masih banyak lagi tempat kita mendapat pemahaman. Buku, forum diskusi, kegiatan-kegiatan FSI, ustadz/ustadzah yang siap ditanya, dan sebagainya. Sudahkan kita memanfaatkannya? Jika belum, jika kadernya begitu sulit dihadirkan dalam majelis ilmu, bagaimana lagi cara meningkatkan pemahaman kader?

Izin dengan alasan syar’i tentu dapat diterima. Namun diharapkan ada rasa rugi karena terlambat memperoleh ilmu, kemudian ada usaha mencari dan memperoleh ilmu tersebut. Semoga Allah izinkan kita untuk terus meningkatkan pemahaman tentang agama-Nya, karena semua ilmu adalah cabang dari agama-Nya.

Ampuni kami Ya Allah..

Wallahu a’lam bishshawwab.

Categories: Dakwah | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: