Cintaku

Seorang saudara bertanya tentang ukhuwah. Tidak, ia bukan bertanya. Namun ia mempertanyakan ukhuwah yang selama ini ia rasa palsu. Tergores hati saat ku tahu ia tak merasakan ukhuwah itu. Dan ribuan tanya memenuhi benakku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Ia mempertanyakan ukhuwah itu di saat aku merasa begitu dekat dengannya. Di saat aku merasa semakin menyayanginya. Di saat aku ingin ia mencurahkan semuamasalahnyapadaku, di saat aku ingin ia menjadikanku tempat menampung beban yang memberatkannya, di saat aku ingin merasakan duka yang melukainya, di saat aku ingin ia merasakan kebahagiaan yang kurasa, di saat aku ingin ….
Di saat aku ingin ia menjadi saudara yang akan membantuku meraih cinta-Nya dengan cinta yang terjalin dalam dan kuat di antara kami.
….
Air mata mengaburkan pandanganku. Tak bisa kutahan kesedihan hatiku setelah ku tahu ternyata cinta itu tak sedalam yang kubayangkan. Apa mungkin cintaku bertepuk sebelah tangan?
Barangkali ini salahku, aku merasa cinta tapi tak menunjukkan cinta itu padanya. Aku terlalu menyibukkan diri hingga terlupa untuk memenuhi haknya. Mungkin aku juga telah menyakitinya tanpa ku sadar, hingga kulukai ia dan kubiarkan luka itu tanpa kucoba obati. Atau bahkan mungkin luka itu kutambah lagi dengan luka lain yang membuatnya semakin menyakitkan, semakin menyayat hingga cintanya padaku telah habis dan tidak mampu lagi mengobati…

Ukhtiy, maafkan diri yang lemah ini..
Maafkan diri ini yang mengaku mencintaimu, mengaku dekat denganmu, padahal ia tidak membantu. Yang ia lakukan hanyalah menambah bebanmu.
Maafkan diri ini yang mengaku ingin berbagi, namun tak bisa membaca hati. Ia biarkan sakit menggerogoti hingga tak tertahankan lagi.
Maafkan diri ini yang mengaku saudaramu, namun mengabaikan hakmu. Ia hanya bisa membuatmu merasa jauh.
Maafkan diri ini ukhtiy…

Ukhtiy, aku sangat takut…
Aku takut luka di hatimu begitu dalam hingga meninggalkan jejak-jejak fibrosis yang tak bisa sirna. Aku takut kesalahanku telah terlanjur terpatri dan tak lagi bisa terlupa meski maafmu telah erat kugenggam. Aku takut dalam hatimu ada bayangan diriku dalam keadaan cacat karena pernah melukaimu begitu dalam.
Ukhtiy, sungguh aku takut…

Ukhtiy, berikanlah aku satu kesempatan lagi. Aku kan tunjukkan rasa cintaku, aku takkan biarkan dirimu merasa asing lagi. Jika aku terlalu tidak peka untuk mengetahui obat yang bisa memulihkanmu, beritahu aku apa obatnya. Kan kulakukan segala upaya untuk mendapatkan obat itu dan memberikannya padamu…

“Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya sebagimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari Muslim)

Ukhtiy, mari bangun lagi gedung cinta itu dengan hati yang bersih, dengan niat yang ikhlas karena Allah. Mari bersama kita sempurnakan tahapan ukhuwah di antara kita. Jangan biarkan luka-luka terbuka, namun sampaikanlah jika si pembuat luka tidak sadar telah melukai. Barangkali ia sedang khilaf, barangkali ia sebenarnya sedang membutuhkan kita. Mari penuhi hati kita dengan husnudzhan, dan bentengi ia dari su’udzhan. Mari senantiasa memberi, bukan ingin diberi. Karena sesungguhnya semua kebaikan yang kita berikan dan kejahatan yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita.

Ukhtiy, izinkan kunyatakan lagi perasaanku padamu. Perasaan yang tulus tanpa kepalsuan, perasaan yang kuharap bisa tersampaikan padamu.
AKU MENCINTAIMU KARENA ALLAH.

Categories: Look Into Your Heart | Tags: , , | 8 Comments

Post navigation

8 thoughts on “Cintaku

  1. bagus kak. like this. 🙂

    • Afifah Amatullah

      Syukran..
      Ukhuwah qt g boleh pny riwayat retak ya..:-)

  2. aci

    fifaaaah…..
    mskipun baru tw ada blog ini…
    tapi..aci sukaaaaaaa….
    bikin terharu….

    like this!!

    lanjutkan y fah….
    saya tunggu,hehee ^^

  3. anung

    amiin..tapi mungkin aja teman mbak itu tipenya perasa makanya gampang murung& tersinggung.karena saya juga punya teman seprti itu, jadi solusinya kalo menurut saya sih beri perhatian seperlunya aja, nggak usah (terpancing) berlebihan, karena kalo berlebihan malah bisa jadi ia nggak “sembuh” dari kebiasaannya. wallahua’lam. oh ya salam kenal mbak, maaf numpang comment barakallahu fiik…

    • Afifah Amatullah

      yup..
      syukran solusinya..
      syukran juga commentnya…

      salam kenal^^ (mau kenalan beneran…)

  4. Abinya kakak

    hanifah gitu juga nggak?

    • Hanifah pakai email abi kakak ya…?
      Hanifah tu anak baik, jujur, penyayang, cerdas, penolong..
      Ditambah lagi ya aspek kebaikannya hanifah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: