MA’RIFATULLAH

Makna Syahadat

A. Urgensi Syahadatain

Tujuan materi

Peserta mampu :

  1. Memahami urgensi syahadat dalam kehidupan
  2. Memahami bahwa syahadat adalah pintu pertama seseorang memasuki agama Islam
  3. Memahami bahwa dua kalimat syahadat merupakan intisari ajaran agama Islam
  4. Meyakini bahwa syahadat merupakan titik tolak reformasi (perubahan) total dalam kehidupan manusia
  5. Meyakini bahwa dua kalimat syahadat memiliki fadhilah / keutamaan yang luar biasa.

Keterangan

Syahadat adalah rukun Islam pertama. Arti penting (ahammiyatusy-syahadatain) bagi seorang muslim :

1. Dua kalimat syahadat adalah pintu masuk Islam (al-madkhalu ilal islam).

Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat seseorang telah diakui sebagai muslim yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan muslim yang lain.  “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah Mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.” (QS Muhammad/47 : 19); “Allah Menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS Ali-Imran/3 :18);“Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?” Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS Az-Zumar/39 : 64-65); (QS 37 : 35, QS 7 : 172) ;Sabda Rasulullah saw : “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan laa ilaha illallah, apabila mereka telah mengucapkan laa ilaha illallah maka darah dan harta mereka menjadi suci (haram dibunuh / dirampas).”

2. Syahadatain merupakan intisari ajaran Islam (khalasatu ta’alimil islam)

Implementasi syahadatain adalah ibadah, akhlak dan mu’amalat. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat/51 : 56); “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab/33 : 21); “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”(QS Al-An’am/6 : 162); “Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS Al-Jatsiyah/45 : 18).(QS 2:21, QS 21:25, QS 3 : 19, QS 3 : 31, QS 3 : 85, QS 6 : 153)

3. Titik tolak perubahan (asasul inqilab)

Perubahan yang sangat mendasar dalam seluruh aspek kehidupan bermula dari syahadatain. Seperti perubahan dari jahiliyah menuju Islam, dari kegelapan menuju cahaya, dari keterbelakangan menuju kemajuan. “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami Hidupkan dan Kami Beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-An’am/6 : 122). (QS 33:23, QS 37:35-37, QS 85;6-10, QS 18:2)

4. Inti dakwah para rasul (haqiqatu da’watir-rasul).

Syahadatain adalah konsep dasar yang didakwahkan oleh seluruh rasul. “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada-Nya.” (QS Al-Kahfi/18 : 110)

5. Fadhilah yang besar (fadhailu ‘azhimah) .

“Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallah, ia masuk surga.”

B. Kandungan Syahadat

Tujuan materi

Peserta mampu :

  1. Memahami makna yang terkandung dari kata syahadat dan konsekuensinya
  2. Memahami pengertian iman dan hubungannya dengan syahadat
  3. Menyadari bahwa hanya dengan beristiqomah dalam iman yang dapat mengantarkan manusia menuju kebahagiaan.

Keterangan

Dalam bahasa Arab syahadat memiliki lebih dari satu makna tergantung konteks kalimat :

  1. Ikrar / proklamasi (al-iqrar) QS 3:18, QS 3:81, QS 7:172
  2. Berjanji, bersumpah (al-qasam) QS 4:138-145, QS 63:1-2
  3. Perjanjian (al-mitsaq) QS 2:93, QS 2:285, QS 5:7

Ikrar, sumpah dan perjanjian (bai’at) hanya akan dilakukan ketika orang benar-benar mengetahui dan yakin dengan apa yang ia nyatakan (al-iman).

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa’/4 : 65)

(QS 2:80, QS 3:64, QS 4:123-125, QS 33:36, QS 49:15)

Iman tercermin dalam :

  1. Ucapan lisan (al-qaul), QS 2:8, QS 63:1-2, QS 48:11
  2. Pembenaran oleh hati (at’tashdiq), QS 49:15
  3. Bukti dalam perbuatan (al-‘amal), QS 9:105

Keimanan yang terdiri atas tiga hal itulah yang dapat menjamin keteguhan prinsip (al-istiqomah).

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap teguh dalam pendirian maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-Ahqaf/46 : 13-14)

(QS 11:112, QS 41:30-32)

“Dari Abu ‘Amr, ada yang mengatakan Abi ‘Amrah Sufyan bin ‘Abdullah ra. berkata : “Saya berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada saya suatu ucapan yang mencakup tentang islam, yang mana saya tidak akan bisa menanyakan kepada selain tuan.” Beliau menjawab : “Katakanlah saya beriman kepada Allah, kemudian teguhlah kamu dalam pendirianmu itu.” (HR Muslim)

Konsistensi iman dan ketaatan akan memunculkan :

  1. Keberanian (asy-syaja’ah), QS 3:157-158, QS 41:30, QS 9:52
  2. Ketenangan (al-ithmi’nan), QS 3:173, QS 33:23, QS 13:28, QS 47:7
  3. Optimisme (at-tafaul), QS 3:160, QS 33:22-23

C. Makna al-Ilah

Tujuan materi

Peserta mampu :

  1. Menyebutkan asal kata ilah dalam bahasa Arab dan pengertiannya.
  2. Mendefinisikan kata al-ilah dan kata al-ma’bud
  3. Menyadari konsekuensi dari pengakuan terhadap al-ilah dan al-ma’bud

Keterangan

Ilah terbentuk dari kata kerja aliha, yang dalam bahsa Arab alihahu berarti:

  1. Merasa tenteram kepadanya sehingga ia enggan meninggalkannya (sakana ilaihi). (QS 7:138, QS 10:7-8)
  2. Berlindung dengannya karena kagum kepada kekuatan, kehebatan, dan kekuasaannya (istajara bihi). (QS 36:74-75, QS 72:6)
  3. Rindu kepadanya dan berusaha untuk selalu dekat dengannya (isytaqa ilaihi). (QS 2:93, QS 20:91, QS 26:71)
  4. Sangat mencintai dengan ketulusan hati (condong) kepadanya(wuli’a bihi). (QS 2:93, QS 20:91, QS 26:71)

Bila keempat hal tersebut diketahui, dirasakan dan diyakini maka ia akan menyembahnya dan siap mengorbankan apa saja untuk sesuatu yang dipuja itu dengan sepenuh hati (kamalul mahabbah) (QS 39:45, QS 71:23); kerendahan hati (kamalul tadzalul) (QS 21:59); dan ketundukan tanpa reserve (kamalul khudu’) (QS 6:137, QS 36:60). Sesuatu yang mendapat perlakuan seperti itu, itulah ilah. Maka ilah adalah :

  1. Sesuatu yang diharapkan (al-marghub) karena kemampuannya memberi manfaat dan memenuhi permintaan. (QS 2:163-64)
  2. Sesuatu yang ditakuti (al-marhub) karena ia akan marah dan menyiksa siapa yang membangkang kehendaknya. (QS 2:186, QS 40:60, QS 94:7-8, QS 21:90-91, QS 2:40, QS 9:13, QS 33:39)
  3. Sesuatu yang diikuti karena jaminan keselamatan darinya (al-matbu’) (QS 51:50, QS 37:99)
  4. Sesuatu yang dicintai karena berbagai kelebihannya (al-mahbub). (QS 2:165, QS 8:2, QS 9:24)

Karenanya, maka ia adalah sesuatu yang disembah (al-ma’bud) dan dianggap sebagai sesuatu yang maha segalanya karena :

  1. Dialah pemilik segala loyalitas (shahibul walayah) (QS 109:1-6, QS 16:36, QS 2:21, QS 2: 257, QS 7:196)
  2. Pemilik segala ketaatan (shahibuth-tha’ah). (QS 7:54)
  3. Pemilik tunggal kekuasaan (shabibul hakimiyah). (QS 12:40, QS 24:1, QS 5:44,45,47)

Islam memandang bahwa sesuatu yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan tersebut hanyalah Allah SWT. Memperlakukan selain Allah dengan perlakuan tersebut adalah kemusyrikan yang sangat dibenci Allah.

D. Syarat diterimanya syahadat

Tujuan materi

Peserta mampu :

  1. Memahami bahwa syahadat yang diucapkannya harus dilandasi pengetahuan, keyakinan, ikhlas, pembenaran, kecintaan, penerimaan dan ketundukan.
  2. Menyadari bahwa kebodohan, keraguan, syirik, dusta, benci, ingkar, dan mangkir adalah sikap-sikap yang menyebabkan ditolaknya syahadatain.
  3. Mewujudkan sikap rela diatur oleh Allah, Rasul dan Islam dalam setiap keadaan.

Keterangan

Syahadat dapat diterima dan sah dengan syarat :

  1. Pengetahuan, bukan kebodohan (al-‘ilmu al-munafi lil jahl)(QS 3:18, QS 47:19). Syahadatain berdasarkan pengetahuan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
  2. Keyakinan tanpa keraguan (al-yaqin al-munafi lisy-syak)(QS 2:1-5, QS 32:24, QS 49:15). Syahadatain berdasarkan keyakinan yang mantap tanpa keraguan sedikit pun di dalam hati. Sabda Rsulullah saw : “iman itu bukan angan-angan dan hiasan. Ia adalah sesuatu yang bersemayam di dalam hati dan dibenarkan oleh amal perbuatan.”
  3. Keikhlasan tanpa kesyirikan (al-ikhlashu al-munafi lisy-syirk)(QS 18:110, QS 39:65, QS 98:5). Bersyahadat harus dengan ikhlas karena Allah dan tidak ada niat selain mengharap ridha-Nya, karena niat yang tidak ikhlas termasuk syirik.
  4. Jujur, bukan dusta (ash-shidqu al-munafi lil kadzib) (QS 2:8-10, QS 39:33, QS 33:23-24, QS 29:2-3)
  5. Cinta, bukan benci (al-mahabbatu al-munafiyah lil bughdh)(QS 2:165, QS 9:24)
  6. Penerimaan, bukan penolakan (al-qabulu al-munafi lir-radd)(QS 4:65, QS 24:51, QS 28:68, QS 33:26). Syahadatain dan konsekuensinya harus diterima dengan lapang hati, tidak ada alasan untuk menolaknya karena ia jaminan kebaikan dunia akhirat.
  7. Kepatuhan yang bergairah, bukan keengganan beramal (al-inqiyad al munafi lil imtina’i wat-tarki wa ‘adamil amal)(QS 4:65, QS 33:36, QS 28:68, QS 24:51)

Syarat-syarat tersebut saling terkait dan menjadikan seseorang ridha Allah sebagai tuhannya, Rasul sebagai suri teladannya dan islam sebagai jalan hidupnya.

Mengenal Allah

A. Urgensi mengenal Allah

Tujuan materi

Peserta mampu :

  1. Memahami pentingnya ma’rifatullah dalam kehidupan manusia
  2. Memahami bahwa ma’rifatullah dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.

Keterangan

Mengenal Allah sangat penting bagi seorang mukmin (QS 47:19, QS 3:18, QS 22:72-73, QS 39:67) karena :

  1. Tema (al-maudhu’) yang kita bahas ini adalah Allah Sang Pencipta seluruh alam semesta (Allahu rabbul ‘alamin) (QS 13:16, QS 6:12, QS 6:19, QS 27:59, QS 24:35, QS 2:255), yang kecil maupun yang besar, yang tampak maupun yang ghaib, termasuk kita di dalamnya. Karena itu tentulah sangat urgen mengenal Dzat yang menciptakan kita agar kita tahu harus berbuat apa untuk Sang Pencipta kita.
  2. Dalil-dalil yang ada sangat kuat (quwwatud-dalil). Dalil yang dimaksud dalam Islam adalah dalil naqli (nash, tertulis dalam kitab) (QS 6:19), dalil aqli (logika, akal) (QS 3:190) dan dalil fitri (fitrah, sunnatullah) (QS 7:172). Semua itu telah membuktikan keberadaan Dzat, sifat-sifat dan nama-nama-Nya secara jelas dan tak terbantahkan.
  3. Buah atau pengaruh (ats-tsamrah) dari pendalaman materi ini sangat besar yaitu meningkatkan  keimanan dan ketaqwaan (ziyadatul imani wat-taqwa). Pengaruhnya :
  • Kebebasan/kemerdekaan sejati (al-hurriyah) (QS 6:82). Terutama jiwanya yang takut dan berharap hanya kepada Allah SWT.
  • Ketenteraman yang sejati (ath-thuma’ninah) (QS 13:28). Seorang mukmin merasa tenang dan tenteram di bawah jaminan dan perlindungan dalam kehidupannya.
  • Keberkahan dari Allah (al-barakaat) (QS 7:96). Cinta dan kebersamaan Allah menjadikan hidupnya senantiasa diberkahi oleh Allah.
  • Kehidupan dan penghidupan yang baik (al-hayatuth-thayyibah) (QS 16:97). Dalam menjalani kehidupan untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan, Allah senantiasa memberi bimbingan dan kemudahan.
  • Surga (al-jannah) (QS 10:25-26) telah menanti orang-orang yang beriman dan mengenal Allah dengan baik.

Keridhaan Allah (mardhatullah) (QS 98:8) di surga adalah puncak kebahagiaan seorang mukmin ,di mana ia akan dipertemukan dengan wajah Allah, yang hanya dikenalnya di dunia secara ghaib.

B. Cara mengenal Allah

Tujuan materi

Peserta mampu :

  1. Memahami bahwa jalan mengenal Allah adalah melalui ayat-ayat-Nya
  2. Memahami perbedaan pendekatan Islam dan non Islam terhadap ayat-ayat Allah
  3. Mengikuti sifat mukmin dalam mengenal Allah dan menjauhi sikap orang-orang kafir.

Keterangan

Cara yang dapat digunakan untuk ma’rifatullah (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah) :

  1. Melihat tanda-tanda kekuasaan Allah (ayat kauniah).Lihatlah setiap hal dari yang besar hingga yang paling kecil yang ada di sekeliling kita dan pada diri kita. (QS 2:164, QS 3:190-191)
  2. Merenungi dan mentadabburi ayat-ayat Qauliyah (Qur’aniyah).(QS 4:82, QS 38:2, QS 23:12-14, 68, QS 41:53)
  3. Memahami dan mencontoh Asmaul Husna (QS 59:24).Bersikaplah sesuai dengan apa yang diajarkan dalam nash wahyu tentang sifat-sifat Allah dan asma-asma-Nya.

C. Cara Islam dan Cara Jahiliyah

Islam menunjukkan cara mengenal Allah dengan merujuk pada dalil naqli sebagai patokan pasti dan dalil aqli sebagai penguat hasil pengamatan alam dan pemahaman ayat (an-naql wal ‘aql) (QS 10:100-101, QS 65:10, QS 67:10). Sabda Rasulullah saw : “Berpikirlah kamu tentang makhluk-makhluk Allah dan jangan berpikir tentang dzat Allah karena akanl kalian tidak akan dapat menjangkau-Nya.” Kombinasi yang baik dari pemahaman ayat naqli dan aqli mendorong seorang muslim untuk membenarkan (at-tashdiq) dan mempercayai Allah serta meantapkan keimanan kepada-Nya.

Metode jahiliyah berangkat dari prasangka dan kepentingan nafsu (azh-zhanu wal hawa) (QS 2:55, QS 10:36, QS 6:115). Meotde ini tidak menjadikan dalil naqli sebagai rujukan karena dipandang membelenggu akal, sementara tidak pula menjadikan akal untuk berpikir jernih menganalisis fenomena alam yang merupakan bukti kebesaran Allah. Metode ini hanya menghasilkan keraguan dan kebimbangan (al-irtiyab) (QS 22:55, QS 24:50) yang ujung-ujungnya mengingkari (al-kufru) keberadaan dan kekuasaan Sang Pencipta.

D. Penghalang ma’rifatullah

Tujuan materi

Peserta mampu :

  1. Mengerti sifat-sifat manusiayang menjadi penghambat mengenal Allah
  2. Menyadari bahwa sifat-sifat itu dapat membawanya pada kekufuran karena itu harus dijauhi
  3. Menumbuhkan motivasi untuk mewujudkan sifat-sifat pendukung untuk mengenal Allah.

Keterangan

Pengahalang ma’rifatullah bersumber pada dua hal yaitu penyakit syahwah (hawa nafsu dan kesenangan) dan penyakit syubhah (keraguan).

1. Penyakit syahwat (maradhusy-syahwah) (QS 3:14, QS 45:23), antara lain:

  • Kefasikan (al-fisqu). Orang fasik adalah orang yang ternoda kehormatan dan kredibilitasnya akibat dosa dan kesalahan yang ia lakukan. (QS 2:26-27, QS 59:19)
  • Kesombongan (al-kibru). Rasulullah saw mendefinisikan kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (QS 16:22, QS 40:35,56, QS 7:12-13)
  • Kezhaliman (azh-zhulmu). Kezhaliman adalah sikap melampaui batas atau menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. (QS 61:7, QS 32:22, QS 31:13)
  • Dusta (al-kadzibu). Dusta adalah ketidaksesuaian antara perkataan dengan pengetahuan hati atas perkara yang sebenarnya. (QS 2:10, QS 77:19)
  • Banyak bermaksiat (katsratul-ma’ashi). Semua yang berlawanan dengan ketaatan adalah kemaksiatan. (QS 83:14)

Penyakit-penyakit hati itu akan mengundang kemurkaan Allah (al-maghdhubun ‘alaihim) dan juga akan menggelapkan hati sehingga sulit untuk mengenal Allah lebih dekat. Maka solusinya adalah setiap mukmin harus bangkit, bertobat, dan dengan kesungguhan (mujahadah) mengembalikan jati dirinya yang jauh dari penyakit hati (QS 29:69)

2. Penyakit syubhat (maradhusy-syubhah)

  • Kebodohan (al-jahl) inilah biang kesesatan. Kebodohan berarti ketidaktahuan, ketidakmengertian, dan jauh dari informasi realitas kebenaran. (QS 39:65-66, QS 17:36)
  • Keragu-raguan (al-irtiyab). Penyakit ini tandanya adalah kepribadian yang tidak jelas, plin-plan, dan selalu bimbang dalam mengambil keputusan (QS 22:55). Rasulullah menyuruh kita meninggalkan yang meragukan dan mengambil yang tidak meragukan.
  • Penyimpangan (al-inhiraf). Penyimpangan yang disengaja atau tidak, akan menjauhkan seseorang dari kebenaran. (QS 5:13)
  • Kelalaian (al-ghaflah). Seseorang yang lalai akan menjadi tidak tahu arah, akhirnya ia mengalami kebimbangan hidup. (QS 7:179)

Kebodohan, keragu-raguan, penyimpangan dan kelalaian akan mengarahkan orang pada kesesatan(adh-dhallun) yang sama sekali jauh dari petunjuk Allah Swt. Maka obatnya adalah mengasah hati dengan ilmu yang menunjuki ke jalan kebenaran, niscaya cahaya Allah akan menerangi hati yang gersang itu.

“Orang cerdas adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya dan beramal untuk hari sesudah kematiannya.” (HR Tirmidzi)

Categories: FK Unand, Mentoring | Tags: , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “MA’RIFATULLAH

  1. materi mentoring ya fah……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: