Fenomena Daging Kurban

Tiap tahun, ada waktu di mana masyarakat khususnya yang taraf ekonominya rendah mengantri untuk mendapatkan sekantong daging. Biasanya mereka memegang sebuah atau beberapa kupon untuk ditukar dengan daging. Di Indonesia, fenomena antriannya sangat beragam. Ada yang tertib, kurang rapi bahkan ricuh hingga memakan korban. Semua itu hanya demi sekantong daging.

Mungkin ada yang tidak sepakat dengan kata ‘hanya demi’ di atas. Sekantong daging bagi banyak orang di Indonesia bisa jadi berarti sangat besar, bisa jadi menjadi sebuah hal yang sangat dinanti-nanti selama satu tahun. Namun, justru karena inilah aku menyebutnya ‘hanya demi’. Sebegitu miskinkah masyarakat Indonesia sampai-sampai sekantong daging saja dinanti selama satu tahun? Sampai-sampai mereka mau mengantri berjam-jam, berdesakan, saling dorong, saling injak, kehabisan napas, dan pingsan untuknya? Sementara di sisi lain banyak daging yang terbuang karena terlalu banyak memesan makanan pada caterer? Sementara di sisi lain banyak uang yang terbuang untuk hal-hal yang useless, uang yang bisa digunakan untuk membeli ribuan bahkan jutaan kantong daging?

Miris sekali rasanya saat layar televisi mempertontonkan ribuan manusia yang sibuk berebut daging. Mereka semua tampak sangat mengharapkan daging itu. Mungkin di benak masing-masing terbayang oleh mereka, betapa daging itu akan menjadi menu yang istimewa. Betapa daging itu bisa mencukupi kebutuhan makan mereka untuk beberapa hari ke depan, karena biasanya untuk satu kali makan saja mereka harus banting tulang terlebih dahulu. Betapa daging itu bisa memenuhi kerinduan mereka untuk makan makanan yang pantas, karena biasanya mereka harus mengais-ngais di tempat sampah restoran-restoran, berharap mendapat sisa makanan yang tidak disyukuri oleh orang-orang berdompet tebal. Betapa daging itu setidaknya bisa membantu menambal kebutuhan gizi anak-anak mereka, karena biasanya mereka hanya bisa memberi nasi dan garam untuk anak-anak mereka yang sedang tumbuh. Karena itulah, mereka berusaha mati-matian mendapatkannya.

Berkorban adalah salah satu nilai yang ditonjolkan dalam Idul Adha. Namun bukan berarti hanya pada hari Idul Adha kita harus berkorban kan? Andaikan seluruh manusia mau mengorbankan sedikit rezekinya – yang mungkin memang sebenarnya adalah hak orang lain – setiap hari, lalu membaginya pada yang berhak, mungkin kejadian seperti ini tidak perlu terjadi. Bahkan dengannya kita bisa mengentaskan kemiskinan. Andaikan orang-orang yang tiap harinya bergelut dengan gemerlap dunia fana mau mengorbankan sedikit kesenangan duniawinya, mau berhenti bermewah-mewah dan hidup sesuai kebutuhan bukan kemauan, mungkin tidak lagi ada korban yang terinjak saat mengantri daging. Mungkin, daging kurban yang dibagikan justru akan semakin lebih berkah dan berarti serta bisa dipahami makna yang terkandung di dalamnya, bukan sekedar dianggap bahan makanan gratis.

Idul Adha juga mengajarkan untuk sabar. Saat ini, jangankan pada hari-hari biasa, bahkan di hari Idul Adha pun sabar sepertinya sangat langka. Andaikan sabar meresap dalam diri orang-orang yang mengantri, mungkin mereka akan berdiri bahkan duduk menunggu dengan tenang. Mau bergiliran dengan tertib, tidak berdesakan dan tidak saling memotong. Andaikan panitia kurban mau bersabar, mungkin jalannya pembagian daging kurban akan lancar dan damai. Mungkin panitia akan mampu membagikan daging dengan ahsan dan adil, meminta kupon  dengan baik dan tertib. Bukankah dengan begitu pembagian daging justru akan berjalan lebih cepat, tanpa menambah masalah baru?

Keikhlasan adalah satu hal yang sangat dituntut dalam Idul Adha. Bagaimana ikhlasnya seorang Ismail untuk disembelih ayahnya karena menjalankan perintah Allah, bagaimana ikhlasnya seorang Ibrahim yang baru bertemu kembali dengan anaknya setelah sekian lama untuk menyembelihnya demi menjalankan perintah Allah. Keikhlasan yang membuat godaan setan tiada artinya. Andaikan para pengantri, panitia dan lainnya mampu untuk ikhlas, mungkin tidak ada yang ingin mendahului. Karena kapanpun giliran yang mereka dapatkan, mereka yakin memang itulah waktu yang terbaik bagi mereka, hingga selama apapun mereka bisa tetap menikmatinya. Dengan ikhlas pun akan timbul kesyukuran, apapun yang mereka dapatkan. Lalu di saat ada yang tidak kebagian daging, ada saudaranya seiman yang mau memberi sebagian daging bagiannya hingga bisa sama-sama merasakan berkah Idul Adha. Tidakkah semua itu sangat indah?

Kapan ya, pemandangan indah itu bisa kita saksikan di negeri ini? Soon, we hope.

Categories: Hikmah | Tags: , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Fenomena Daging Kurban

  1. duh…
    ko malah jadi kacau begini yah…
    niatnya ingin mendapatkan daging qurban secara gratis..
    ko malah jadi ricuh sih…

    sungguh suatu ironi yang sangat tidak kita inginkan…
    apakah setiap ingin mendapatkan sedekah atau daging qurban harus seperti ini???

    sungguh tidak masuk akal.
    seharusnya panitia pelaksana sudah bisa memastikan bahwa dampak kericuhan ini akan terjadi.
    apakah para panitia tidak berkaca dari kejadian2 yang lalu…
    seperti pembagian zakat pada hari raya Idul Fitri.
    seharusnya penitia bisa menanggulanginya dengan cara yang lebih baik.

    memang terlalu banyak dinegeri kita ini orang yang kurang mampu.
    tapi apakah dengan cara seperti ini mereka harus mendapatkan daging gratis???

    semoga saja kejadian saat ini bisa memberikan pelajaran bagi para panitia pembagian sedekah zakat atau daging qurban.
    agar dikemudian hari kita tidak mendengar lagi berita tentang kericuhan seperti ini. Amin

    Iklan

  2. Assalaamu’alaykum wr wb..

    Satu lagi yang bikin miris, saya membaca kalimat seorang non-Islam pada hari Idul Adha. Katanya, “mau lihat ah, orang-orang REBUTAN daging kurban”.

    Pandangan mereka terhadap hari Idul Adha bukan sebagai hari yang bahagia, penuh kasih, dan pengorbanan. Tapi, sebagai hari rebutan sembako.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: