Monthly Archives: August 2009

Mencari ‘Sesuatu’ di Keagungan Tuhan-nya Vidi


“Insyaflah wahai manusia, jika dirimu bernoda…”

Begitulah lirik yang mengawali lagu Keagungan Tuhan, yang kini dinyanyikan oleh Vidi Aldiano. Lagu yang bagus, dan pada satu kesempatan aku melihat videonya di salah satu saluran TV. Aku pun mengikuti video itu dari awal sampai selesai, berharap menemukan ‘sesuatu’ dari lagu itu.

Dan akhirnya, ‘sesuatu’ yang kucari itu pun, tidak kutemukan.

Video itu diawali dengan pemandangan pemain-pemain basket dan beberapa gadis remaja yang sedang berjalan kaki dengan ceria. Vidi melihat mereka dari jendela, kemudian masuk dan mulai menyanyikan lagunya.

Video itu terus berjalan, dan suasana yang dilihatkan adalah suasana yang ceria, pemain basket dan gadis remaja tadi tampak nge-dance bareng. Kemudian diperlihatkan orang-orang lainnya, dari semua kalangan usia. Mereka semua tampak senang dan bahagia, di malam hari mereka menari dan bermain bersama. Sampai videonya selesai.

‘Sesuatu’ itu tidak ada… dan aku kecewa.

Lagu itu lagu yang bagus kan, dan punya pesan di dalamnya. Lagu itu sebenarnya ingin mengingatkan kita untuk mempersiapkan diri menghadapi hari besar yang akan datang, yang hanya Allah Sang Pencipta yang tahu kapan datangnya. Karena itu kita harus membersihkan noda-noda dalam diri kita, kemudian menjaga dan memeliharanya agar tidak ternoda lagi. Dan untuk itu kita harus senantiasa ingat betapa agungnya Allah SWT.

Tapi, dalam video itu hanya ditampakkan keceriaan, tanpa beban, dan… tidak ada nilai Islaminya.. Bahkan perempuannya, tak ada satu pun yang menutup aurat. Jadi di mana ‘sesuatu’ yang disampaikan oleh lagu itu? Pada awalnya aku mengira pemain basket dan gadis remaja yang diperlihatkan di awal video akan berubah di akhir video. Pemain basket mungkin akan tetap menaati syari’at dan tidak meninggalkan dzikrullah meski tetap bermain basket. Dan gadis remaja itu mungkin akan mengubah penampilannya dari yang terbuka menjadi gadis kalem yang menutupi auratnya dengan jilbab. Namun sepertinya lagu itu hanya dibuat untuk menunjukkan kekompakan dan keceriaan.

Sayang ya, video itu membuat pesannya jadi tak tersampaikan, malah secara tidak langsung memberi kesan tidak berjilbab dan menari bersama dengan non muhrim itu tidak salah. Lagu yang semestinya bisa membantu menguatkan ruh terutama untuk memasuki Ramadhan itu, malah hanya menjadi sekadar hiburan komersil untuk ‘menyambut’ bulan Ramadhan. Wallahu a’lam.

Categories: Opini | Tags: , , | 3 Comments

PKS: Dekati Israel, SBY Ingkari Kontrak Politik (?)


Oleh Hanin Mazaya pada Selasa 18 Agustus 2009, 09:39 AM

JAKARTA (Arrahmah.com) – Kecaman terhadap rencana pemerintah membuka hubungan dagang dengan Israel terus berdatangan. Dalam kaitan ini, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) selaku salah satu partai pendukung pemerintah mulai bersuara.

Mereka protes dengan kebijakan Presiden SBY karena menyalahi kontrak politik yang telah disepakati. “Perjanjian kontrak politik kita 2004-2009 dengan SBY-JK, salah satunya dengan tidak melakukan hubungan dengan Israel,” ujar Humas PKS Mabruri kepada okezone, Selasa (18/8).

Menurutnya, jika SBY kemudian mengingkari kebijakannya maka PKS akan mengevaluasi kembali. “PKS sudah membuat perjanjian, artinya jika SBY melanggar perjanjian tersebut biar rakyat semua yang menilainya,” ujar Mabruri.

Lebih lanjut Mabruri menambahkan, jika benar pemerintah akan merealisasi hubungan dagang dengan Israel, PKS akan melihat dahulu perkembangannya sampai sejauh mana. “Kita lihat dulu perkembangannya, kita kasih tahu mudhorotnya jika membuka hubungan dengan Israel,” tegasnya.

Bagi Mabruri dan partainya, Israel merupakan negara agresor. Sehingga keputusan menjalin hubungan dengan Israel perlu dikaji lebih dalam, karena bisa menciderai perasaan umat Islam. “Terlebih lagi ini menyambut bulan suci Ramadan,” pungkasnya.

“Sesungguhnya sesudahku akan ada para pemimpin. Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan bagian dari golonganku, aku bukan bagian dari golongannya dan ia tidak akan merasakan kenikmatan telaga. Sebaliknya, siapa saja yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka, maka ia termasuk golonganku, aku pun termasuk golongannya dan ia akan merasakan kenikmatan di talaga bersamaku.” (HR an-Nasai). (okz/arrahmah.com)

Note :

Media massa sengaja disibukkan dengan berita tentang terorisme agar berita ini tidak mencuat. Masyarakat khususnya yang muslim harus tetap kritis!

Categories: Indonesia | Tags: | 1 Comment

Merdeka=Bebas?


bendera kita

Darah tumpah, nyawa melayang, hidup serba kesulitan, tiada harta, tiada waktu istirahat, setiap detik terancam, hidup sebagai budak yang tak dianggap manusia. Begitulah para pendahulu kita dulu memperjuangkan kemerdekaan negeri tercinta ini dari penjajah. Dan karena usaha yang tak terbalas itu, kita selalu diseru untuk memanfaatkan kemerdekaan sebaik-baiknya. Seruan itu disampaikan setiap upacara, acara nasional, dan juga di pelajaran-pelajaran sosial dan kewarganegaraan. Lantas, apa seruan itu meresap?

Bagi segelintir beberapa orang, mungkin jawabannya ya. Bagi yang lain, juga ada yang menjawab ya. Tapi mari kita lihat, apa arti memanfaatkan kemerdekaan? Kemerdekaan yang disamakan dengan bebas, bagaimana masyarakat khususnya para pemuda bangsa mengartikannya?

Bebas berekspresi, bebas bergaul, bebas bersikap, bebas bermusik, bebas menghibur diri, bebas makan, bebas minum, bebas berpakaian, bebas berjalan ke mana saja, bebas, bebas, BEBASS!!!
Bebas mengekspresikan apa saja: suka, marah, sedih. Kalau suka ya udah pacaran aja, ntar kalau udah pacaran ya bebas mau ngapain berdua. Kalau marah ya udah pukul aja, tawuran, main ke diskotik, ngedugem, judi, minum miras. Kalau sedih banget ya udah bunuh diri aja. Buat apa lagi hidup di dunia. Atau mau ngilangin sedih dan depresi? Ya udah banyak kok orang yang jual obat-obat penenang.

Bebas gaul dengan siapa aja, anak-anak, sebaya, orang tua. Bebas juga mau gaul dengan orang yang berlatar belakang dari mana saja. Mau gaul dengan preman, penjudi, pemakai, pengedar, penjual diri. Mau gaul dengan orang kaya nan tajir, juga dengan orang miskin, tapi untuk menjadikannya bahan ledekan dan orang pesuruh.

Bebas mau bersikap seperti apa saja dengan siapa saja. Mau malak, mau sok hebat, sok kuat, sok kaya, sok jagoan. Mau marah, mukul, ngegombal, terserah. Mau mengumpat, menggunjing, mau ngerjain orang, who cares? Mau ninggalin shalat, mau bermaksiat, mau melawan ortu dan guru, bebas!

Bebas bermusik. Mau nyanyi, main alat musik, bergoyang. Mau nyanyi lagu apa aja atas nama seni, meski isi lagunya memuja setan, menyekutukan Allah, memberi cinta pada manusia lebih besar dari cinta pada Allah dan lagu-lagu yang menjauhkan dari agama lainnya. Mau nyanyi dan bermusik kapan saja, meski azan sudah memanggil berkali-kali. Mau bergerak mengikuti musik hingga lupa yang lainnya, meski campur baur antara perempuan dan laki-laki. Mau datang ke konser-konser sampai larut malam, meski uang habis, tenaga habis, berdempetan dengan siapa saja, yang penting puas. Bebas!

Bebas mau berhibur dengan apa, dengan cara apa, dengan siapa. Bebas mau makan apa saja, tanpa peduli halal/haram, apalagi sehat/tidak sehat. Begitu juga dengan minuman.

Bebas berpakaian. Mau pakai yang ketat, yang pendek, yang auratnya terbuka di mana-mana. Yang penting trend! Bebas mau ke mana saja, apakah itu tempat maksiat atau bukan, bebas!! Merdeka!!

Bukan hanya pemudanya yang sudah bebas memanfaatkan kebebasan. Para pejabat pemerintahnya juga. Bebas jalan-jalan ke luar negeri, bebas menambah dan gonta-ganti kendaraan mewah, bebas korupsi, bebas menghabiskan uang rakyat untuk memperkaya diri. Bebas menindas rakyat, menggusur tanpa ganti rugi, lambat menangani bencana, tidak tanggap dengan aspirasi, tidak adil dalam menetapkan hukuman, bebas melupakan WNI yang tertindas di negeri orang, bebas menentukan anggaran untuk rakyat yang tidak sebanding jumlahnya dengan tunjangan para pejabat, itupun masih dikorupsi dan pejabat masih meminta tambahan tunjangan!!

Bobrok. Indonesia sudah bobrok, mungkin hampir sampai ke titik nadirnya. Kalau sudah begini wajar saja bencana terjadi di setiap sudutnya. Tsunami, banjir, kebakaran, lumpur panas, gempa, wabah penyakit dan kecelakaan yang tak henti-henti terjadi, baik motor, mobil, truk, bus, kereta api dan pesawat. Apa tindakan masyarakat? Apa tindakan pemerintah?

Oh, ternyata masyarakat masih mencuri besi rel kereta, masih kebut-kebutan, masih naik di atas kereta dan bergelantungan di pintunya karena tidak muat, masih suka buang sampah di mana saja, masih giat dengan penebangan liar, dan masih-masih lainnya. Pemerintah? Oh, ternyata mereka masih malas peduli, cuma mau bantu waktu lagi kampanye pilleg dan pilpres, masih menunda-nunda perbaikan drainase, bendungan, sekolah, jalan rusak. Alasannya kekurangan dana, apalagi banyak rakyat yang tidak taat pajak. Jadi itu alasannya, kami kira pemerintah sudah menghabiskan uangnya untuk kepentingan pribadi. Pemerintah juga masih tidak tegas menindak penyelundupan, narkoba, penebangan liar dan lainnya yang hingga kini tak ada pengurangan, malah terjadi peningkatan. Pantas saja sih, toh aparat yang memfasilitasi! Ya menjamurlah kegiatan-kegiatan seperti itu. Tapi, kalau terorisme kok cepat banget ya tanggapnya. Hebat tuh polisi dan Densus 88, sebentar aja udah bisa nuduh Noordin M. Top, udah banyak orang-orang yang ditangkap, katanya mereka terkait jaringan JI. Meski penangkapannya terkesan ditutup-tutupi alias tidak terbuka, dan meski orang-orang yang ditangkap saat mereka sedang melakukan aktivitas yang biasa itu mengatakan mereka tidak tahu menahu dengan pengeboman, apalagi Noordin dan Al-Qaeda. Yakin tuh gak asal tangkap? Katanya, terorisme meski ditindak cepat dan diantisipasi sebisanya, demi keamanan negeri ini. Jadi itu alasannya, bukan untuk dapat perhatian dari Amerika ya?

Hhh… Indonesia. Bagaimana menurutmu, hai Indonesia? Apa yang terjadi dengan bangsa ini, menyenangkanmu ataukah justru menyakitimu? Makna merdeka atau bebas yang dipahami pemuda dan pemerintah Indonesia, seperti itukah? Seperti itukah cara memanfaatkannya? Begitukan cara kita berterima kasih pada para pahlawan yang telah memperjuangkan bangsa ini? Mereka berjuang bertaruh jiwa raga, demi Indonesia yang merdeka, bermartabat dan tentunya, bermoral. Bagaimana perasaan mereka seandainya mereka bisa melihat bagaimana jadinya Indonesia saat ini?

Categories: Indonesia, Opini | Tags: , | 5 Comments