Monthly Archives: July 2009

Pewaris Surga Firdaus


1. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,
2. (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya,
3. dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,
4. dan orang yang menunaikan zakat,
5. dan orang yang memelihara kemaluannya,
6. kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
7. Barangsiapa mencari yang di balik itu (zina dsb) Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
8. dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
9. dan orang-orang yang memelihara shalatnya.
10. mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi,
11. (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.

(QS Al-Mu’minun : 1-11)

Categories: Hikmah, Uncategorized | Tags: , | 3 Comments

Masa Kritis


Pernah, dalam suatu masa kehidupan, langkah ini terasa sangat berat. Sepertinya masa itu adalah masa yang kritis dalam hidupku sejak aku mengenal tarbiyah. Entah kenapa, dalam minggu-minggu itu, amalan-amalan yang biasanya bisa kukerjakan melebihi target, menjadi hanya memenuhi target bahkan pernah di bawah target. Pekerjaan yang kulakukan juga menjadi tidak optimal. Setelah mencoba memuhasabahi diri, kutemukan beberapa permasalahan yang membuatku terpuruk saat itu.

1. Tidak segera shalat saat mendengar azan, terutama shalat isya
Bukannya langsung mengerjakan shalat, aku justru mendahulukan kegiatan-kegiatan duniawi seperti makan. Karena aku tidak makan sendiri, obrolan pun berlanjut setelah makan selesai. Dan waktu terus berjalan tanpa mau sedikit pun menunggu.
Atau, setelah maghrib, karena sangat lelah, aku tidur sebelum masuk waktu isya. Padahal itu adalah salah satu perkara yang dianjurkan untuk tidak dilakukan. Meski sudah memasang alarm, tetap saja aku baru bangun setelah larut.
Setiap kali aku terlambat mengerjakan shalat isya, ada beban yang rasanya sangat menekan. Rasa bersalah dan menyesal yang teramat dalam. Dari sini aku mengambil hikmah, seperti pesan pertama dari 10 wasiat Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna: Bergegaslah menunaikan shalat ketika mendengar adzan, walau dalam kondisi bagaimana pun!

2. Meremehkan Al-Quran
Al-Quran adalah pedoman hidup. Berbeda dengan buku-buku kedokteran atau buku lainnya. Namun pada masa itu, Al-Quran tidak menjadi yang pertama, aku lebih mementingkan membaca yang lain atau mengerjakan yang lain padahal hari itu belum optimal membaca Al-Quran. Sebagai sebuah pedoman hidup, yang mencakup segala aspek kehidupan, semestinya Al-Quran dihayati tiap hari dan tidak hanya dibaca sedikit-sedikit. Kalau bisa membaca Guyton, Nelson dan semacamnya sampai berhalaman-halaman, atau menamatkan buku-buku pemikiran bahkan novel dalam waktu singkat, kenapa Al-Quran yang merupakan kitab terutama tidak bisa dibaca banyak? Semestinya semua bisa diseimbangkan. Setiap aku sampai di penghujung hari, rasanya sakit sekali saat menyadari hari itu tidak banyak diisi dengan lantunan Al-Quran. Dan aku teringat wasiat Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna yang kedua : Bacalah Al-Quran, lakukanlah pengkajian, dan dengarkanlah (hal-hal yang bermanfaat tentangnya), atau berdzikirlah kepada Allah. Jangan gunakan sebagian waktumu untuk hal-hal yang tidak berguna!

3. Banyak malas, banyak bergurau dan menunda pekerjaan
Saat itu, dengan seorang yang dekat denganku, aku banyak mengobrolkan hal-hal yang tidak penting. Banyak bergurau dan bercanda. Padahal aku sadar, ada hal lain yang semestinya aku lakukan. Tapi sulit sekali rasanya memindahkan kegiatan yang kulakukan saat itu, hingga di waktu-waktu kritis baru aku mulai melakukan tugas-tugasku. Hasilnya? Tentu bisa ditebak. Barulah kemudian aku menyesal, kenapa tidak dari tadi kukerjakan, padahal hati ini sebenarnya sadar dan berontak. Tapi aku terlalu malas melawan godaan setan yang terkutuk. Baru aku teringat dengan wasiat kelima dan keenam : Jangan banyak tertawa, sebab hati yang berhubungan dengan Allah itu harus senantiasa tenang dan berwibawa! Jangan banyak bergurau, sebab umat yang berjuang tidak mengenal kecuali keseriusan!

Tiga hal itulah yang menjadi masalah utama namun membawaku pada masalah-masalah berikutnya. Sangat disesali, sangat banyak waktuku yang terbuang. Banyak yang terlalaikan. Banyak yang terabaikan. Mestinya aku sudah sampai ke step 7, tapi aku masih stuck di step 4. Aku terlempar jauh dari manisnya iman.

Tapi futur tentu tidak boleh dipelihara. Juga bukan untuk hanya disesali. Tapi kita harus berjuang melawannya dan mengembalikan keimanan kita pada tingkat yang tinggi, lalu senantiasa mempertahankannya dan tidak membiarkannya turun lagi. Karena kadar keimanan akan menentukan tingkah laku dan perbuatan kita. Lalu setiap perbuatan sekecil apapun, yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari akan ditulis dengan rinci di buku catatan amal kita dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. ALLAH SELALU MENGAWASI KITA.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau Berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”

Categories: Kisah, Look Into Your Heart | Tags: , | 5 Comments

Makan Siang Pertamaku


Hari yang cerah. Tidak hanya cerah, tapi juga menyengat. Bagaimana tidak, siang ini matahari bertahta di langit dengan bebas tanpa ada sehelai awan pun yang berani menghalangi. Sinarnya yang terang memenuhi sudut-sudut langit menyilaukan mata bahkan birunya langit pun sulit ‘tuk dipandang.

Setelah setengah hari menjalani kuliah yang membosankan dan melelahkan, bolak-balik kampus menyelesaikan bahan tutorial, akhirnya motorku melaju di bawah sengatan UV dan pantulan panas dari aspal bercampur asap buangan kendaraan bermotor yang memusingkan. Perut telah meronta dan kekeringan serasa melanda seluruh tubuh.

Sampai di rumah segera ku berjalan ke meja makan dan melihat apa menu apa yang ada siang ini. Ternyata catering langganan kami berbaik hati membuatkan gulai ayam, salah satu menu yang kusukai. Setelah bersiap sebentar, sepiring nasi dengan gulai ayam ditemani segelas air dingin telah ada di depanku. Beberapa menit setelah itu aku larut dalam kenikmatan merasakan rezeki-Nya.

Piring telah dicuci bersih, lambung terisi dan dinginnya air minum terasa begitu menyejukkan. Aku berpikir untuk memakan makanan manis untuk dessert, dan saat itulah, sesuatu menyentak benakku.

Astaghfirullah, Ya Allah aku puasa!

Inilah pertama kalinya aku merasakan makan saat puasa. Satu-satunya rezeki perut yang kurasakan saat puasa adalah sedikit minum air putih setelah subuh, itupun saat-saat puasa pertamaku waktu kecil dulu. Selama ini setiap kali ada niat makan karena lupa saat puasa, aku selalu teringat puasaku sebelum sempat menyentuh makanan itu. Namun kini, aku menyelesaikan makan sepiring penuh plus air dingin tanpa terpikir sedikit pun bahwa aku sedang berpuasa! Alhamdulillah, rasanya makan siang ini sangat istimewa.

Peristiwa makan siang pertamaku ini mengingatkanku pada salah satu hikmah diwajibkannya berpuasa Ramadhan bagi umat muslim, yaitu agar kita ikut merasakan kesulitan saudara-saudara kita yang kekurangan. Makan di saat puasa mungkin sama halnya seperti mereka yang mendapatkan rezeki tak terduga di saat mereka sedang kesulitan.

Misalnya, saat sedang berjalan di pasar kita melihat seorang nenek tua nan kurus, hitam dan bungkuk, pakaiannya lusuh dan pandangannya nanar karena kesulitan hidupnya. Nenek itu menjual pical dan gorengan, lalu karena kondisi beliau menyentuh relung hati, kita pun singgah sebentar membeli dagangannya, namun dalam hati sebenarnya kita ingin membantu beliau. Nenek itu ternyata sangat ramah, dan persinggahan itu membawa kita pada perbincangan singkat dengan beliau. Kemudian baru kita tahu, ternyata beliau tinggal sendiri di tempat yang sangat jauh lokasinya dari pasar, tidak ada keluarga yang menemani beliau. Setiap hari beliau berjualan di berbagai tempat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Nampan yang besar dan berat berisi dagangan beliau pikul sendiri. Melihat dagangan yang beliau jual, bisa tersirat pula kehidupan yang beliau jalani. Sangat sederhana. Beliau pun bercerita sambil menangis. Trenyuh dengan kehidupan yang mungkin tak kan sanggup kita jalani, niat untuk membantu tadi akhirnya semakin kuat. Dagangannya kita beli dengan harga mahal. Dengan tulus kita berikan beberapa helai ratus ribuan kepada beliau, hingga beliau tersentak dan benar-benar berterima kasih.

Menerima uang yang begitu besar saat sedang kesulitan dengan tiba-tiba seperti itu, tentu tak pernah ia sangka, bahkan mungkin tak pernah ia mengimpikan itu akan terjadi. Bisa kita bayangkan betapa bahagia dan terasa ringan beban yang dipikulnya. Mungkin kebaikan itu juga bisa membantunya untuk lebih bersyukur dan bersabar hingga lebih mendekatkannya pada Yang Maha Menggerakkan hati.

Bukankah kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas membuat hati kita tentram? Tak perlu kita tahu apakah pemberian kita dalam bentuk apapun akan bernilai besar bagi si penerima atau tidak bernilai sama sekali. Tak perlu kita peduli apakah pemberian kita akan dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna atau tidak. Karena itu adalah urusan si penerima dengan Allah. Dan yang menjadi urusan kita adalah keikhlasan hati dalam memberi.

Kita tidak tahu apakah pemberian kita akan bernilai besar bagi yang menerimanya. Namun itu tidak menjadi penghalang hingga kita merasa enggan untuk memberi. Karena bisa saja, atas kehendak-Nya, mungkin pemberian kita itu menjadi media untuk menyelamatkan nyawa seseorang, dan itu tak akan terjadi bila kita tidak memberi. Dengan memberi, takkan terhitung berapa banyak saudara yang bisa kita bantu. Jadi, tunggu apa lagi? Mari memberi!

Wallahu a’lam bishshawab.

Categories: Kisah, Look Into Your Heart | Tags: , | 2 Comments