Ikhlas Gak Ya…?

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Dengan nama Allah, semoga tulisan ini bernilai ibadah kepada-Nya.

Setiap tindakan kita baik besar, sedang maupun kecil; setiap pikiran kita baik diungkapkan maupun disimpan; setiap kata yang mengalir dari bibir kita baik itu ahsan ataupun tidak; setiap detik yang kita lalui; akan dihitung dengan sangat teliti dan akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat. Sudahkah kita melalui semuanya dengan keikhlasan?

Saat berbicara tentang keikhlasan, rasanya sulit untuk tidak meneteskan air mata. Saat itu kita akan me-recall kembali apa saja yang sudah kita lakukan, pikirkan dan rasakan selama ini. Dan kita tahu, syarat diterimanya amal adalah tindakan yang diiringi dengan niat yang ikhlas.

Ikhlas, sulit sekali memeliharanya. Karena ikhlas bukan hanya saat kita akan melakukan sesuatu saja, tapi bahkan ia bisa berubah statusnya beberapa hari, bulan, tahun hingga waktu yang tak terbatas di kemudian hari. Saat kita mengingat kebaikan yang kita lakukan di masa lampau, dan merasa bangga dengan hal itu, hilanglah sudah nilainya, meski awalnya kita lakukan dengan ikhlas. Saat kita merasa sesuatu berhasil karena campur tangan kita di dalamnya, sirna sudah keikhlasan kita.

Ada beberapa tindakan yang bisa menjadi contoh:

  • Seorang ikhwan menolong seorang bapak tua membawakan barang yang tampaknya berat, lalu mereka pun berjalan beriringan. Ternyata tujuan mereka sama, mereka pun menaiki angkot yang sama. Si ikhwan ini turun lebih dahulu, lalu ia membayarkan ongkos bapak tua tadi.Saat pertama ikhwan ini melihat bapak tua membawa barang berat, ia merasa iba. Ia pun menawarkan bantuan, agar bisa meringankan beban pak tua. Namun sempat terlintas di benaknya, jika ia lewat saja tanpa membantu, bisa-bisa bapak itu berpikir, ’ternyata anak muda sekarang memang tidak sesantun dulu’. Saat mereka berjalan beriringan, orang-orang lain pun melewati jalan itu. Si ikhwan yang berpenampilan kece, tampang oke, pakaian rape, keliatan kaye berdampingan dengan pak tua yang keriput, bungkuk, lusuh, kucel, item. Sempat terbersit di pikirannya, ‘ntar dikirain gw cucunya lagi, ah gapapalah. Lagian gak matching kok’. Saat turun dari angkot dan membayar ongkos dobel, angkotnya pas lagi penuh. Trus dia diliatin sama penumpang yang lain. Eh lewat satu kalimat di kepalanya, ‘apa ya pendapat orang-orang itu?’Ikhlaskah si ikhwan…?
  • Seorang akhwat sedang bersemangat karena lagi musim-musimnya kampanye pemilu legislatif 2009 lalu. Suatu hari ia berjalan menuju tempat rapat, dan untuk itu ia harus menyeberangi sepotong jalan raya. Namun jalan itu penuh dengan berbagai macam kendaraan, hingga ia terus menyusuri jalan sampai agak sepi. Lalu di jalan itu tampaklah olehnya garis-garis putih : zebra cross. Ia pun bersemangat menuju zebra cross, di sana juga ada polisi yang mengatur lalu lintas. Ia berpikir, menyeberangnya di zebra cross aja, aturan kan harus ditepati. Namun seiring dengan pikirannya, ada yang lain yang ia pikirkan. Taat peraturan bisa bikin image positif nih…Ikhlaskah si akhwat…?
  • Suatu hari teman si akhwat berulang tahun. Lalu akhwat ini pun memutuskan untuk memberi kado, dan ia berharap kado yang diberikannya bisa menjadi sarana dakwah juga bagi temannya yang belum berjilbab itu. Si akhwat pun mencari buku yang bisa menyentuh hati temannya. Akhirnya ia memilih buku Jilbab Pertamaku, membungkusnya dengan rapid an memberikannya di hari ulang tahun temannya. Beberapa minggu kemudian, temannya menghampiri dan mengatakan bahwa kakak si akhwat memutuskan berjilbab setelah membaca buku tersebut. ‘Alhamdulillah, ukhti kapan nih…?’ ucap si akhwat. ‘Ya doakan aja ya..’ kata temannya. Lalu lebih kurang sebulan setelah itu temannya tampil dengan jilbab di kepalanya.Si akhwat merasa senang dan berpikir, ‘Ternyata pemberian buku itu berhasil juga…’ Ikhlaskah si akhwat…?

Masih banyak lagi contoh lain yang bisa kita temui dalam keseharian kita. Ternyata kita memang harus sangat berhati-hati dengan hati kita. Bahkan seorang pejuang yang meninggal dalam peperangan membela agama bisa saja masuk ke neraka, dan tidak mendapatkan kesyahidan. Karena niatnya bukan karena Allah, melainkan karena tidak ingin dianggap lemah oleh kaum perempuan.

Inilah syirik kecil yang ditakutkan oleh Nabi Muhammad saw akan terjadi pada umat Islam. Kita seharusnya melakukan segala hanya karena Allah, tapi dengan ketidakikhlasan, dengan harapan akan pandangan yang baik dan pujian dari manusia (makhluk), berarti kita menyejajarkan makhluk dengan Penciptanya. Na’udzubillah.

Seorang akhwat pernah berkata, untuk bisa ikhlas ada satu cara yang bisa dilakukan meski sulit : begitu kau melakukan suatu kebaikan, lupakan kebaikan yang kau lakukan saat itu juga.

Ya Allah, ingatkan kami saat kami lupa dengan-Mu.

Tegur kami saat hati ini mulai mengharap pujian makhluk-Mu.

Sentuh jiwa kami untuk kembali ke jalan-Mu.

Sungguh kami hanya mengharap keridhoan-Mu.

Categories: Look Into Your Heart | Tags: | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Ikhlas Gak Ya…?

  1. Bisa jadi teladan artikelnya, semoga yang baca artikelnya bisa mendapat dampak positif dari bacaan ini ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: